Secara historis, dunia trading saham (atau seluruh bidang trading) secara tradisional didominasi oleh pria. Namun tren ini sedang berubah dengan cepat. Semakin banyak wanita yang memasuki industri ini dan menghasilkan dampak yang besar. Karena norma sosial di masa lalu membatasi akses wanita terhadap pendidikan, pekerjaan, dan hak properti, dorongan gerakan kesetaraan modern membuat kontribusi wanita di bidang trading saham terus berkembang, dan itu bukan hal yang mengejutkan.
Evolusi Wanita dalam Trading Saham
Melihat Kembali Sejarah: Perbedaan Gender dalam Sejarah
Ketika kamu membayangkan lantai bursa New York Stock Exchange di tahun 1920-an, apa yang muncul di pikiranmu? Apakah pria dan wanita berlarian sambil meneriakkan harga? Mungkin tidak. Sejak NYSE didirikan pada tahun 1792, lantai bursa selalu didominasi oleh pria. Satu-satunya pengecualian adalah selama Perang Dunia II, ketika wanita dipekerjakan untuk mengisi posisi pria yang dikirim ke luar negeri untuk berperang.
Pada tahun 1967, untuk pertama kalinya seorang wanita menempati kursi di New York Stock Exchange. Namanya adalah Muriel Siebert. Dia adalah advokat hak-hak wanita dan literasi keuangan, mendirikan Muriel Siebert Foundation yang bertujuan mendidik wanita berpenghasilan rendah tentang cara mengelola keuangan.
"Muriel Siebert dikenal sebagai 'First Lady of Wall Street', sosok inspiratif di dunia keuangan, dan warisannya terus menginspirasi banyak wanita untuk mengejar karier di industri keuangan."——Workweek.com
Memecahkan Langit-Langit Kaca di Era Modern
Baru pada tahun 1970-an dan 1980-an wanita benar-benar mulai menempati posisi di lantai bursa berbagai exchange. Berikut beberapa contoh yang menonjol:
◎ Alice Jarcho menjadi wanita pertama yang bekerja penuh waktu sebagai floor broker di New York Stock Exchange, didukung oleh Oppenheimer & Company dengan biaya sponsor sebesar $60.000 (sekitar Rp960 juta).
◎ Doreen Mogavero menjadi wanita ke-12 yang bergabung dengan New York Stock Exchange pada tahun 1980. Dia mendirikan Mogavero, Lee & Co., Inc., perusahaan pertama yang dimiliki dan dioperasikan oleh wanita di lantai bursa NYSE.
◎ Kemudian, pada tahun 1988, Louise Jones menjadi wanita termuda yang memiliki kursi di New York Stock Exchange.
Pertumbuhan yang stabil dalam partisipasi wanita di bidang trading dan keuangan membuka jalan bagi kemajuan di era 90-an dan 2000-an. Seiring dengan meningkatnya pengaruh trading online dan platform baru, partisipasi wanita meningkat pesat.
Tantangan yang Dihadapi Trader Wanita
Bias Gender dan Budaya Kerja
Tidak mengherankan, proporsi wanita yang menduduki posisi eksekutif dan anggota dewan di lembaga keuangan lebih rendah daripada pria. Secara historis, hambatan hukum dan sosial menghalangi wanita untuk mengakses layanan keuangan seperti rekening bank dan pinjaman, yang menghambat kemajuan wanita selama berabad-abad. Ditambah lagi dengan stereotip bahwa wanita tidak sebaik pria dalam kemampuan finansial dan pengambilan keputusan, kamu bisa memahami mengapa wanita mungkin merasa enggan untuk berpartisipasi di pasar keuangan.
Keseimbangan Kerja dan Kehidupan Pribadi
Masyarakat sering mengharapkan wanita menjadi pengasuh keluarga, bertanggung jawab atas anak-anak dan pengelolaan urusan rumah tangga. Lingkungan trading yang bertekanan tinggi dan berisiko tinggi menimbulkan tantangan unik bagi wanita yang juga memikul tanggung jawab keluarga. Ini bukan hanya masalah yang khas di industri keuangan. Selama bertahun-tahun, bagaimana wanita menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi telah menjadi topik diskusi dan debat yang terus berlanjut. Meskipun bias psikologis dan budaya lainnya mungkin berperan di sini, memang lebih sedikit wanita yang memilih pendidikan di bidang keuangan dan bisnis dibandingkan jalur karier lainnya, yang pada akhirnya menyebabkan lebih sedikit kandidat wanita untuk posisi senior di industri keuangan.
Kesenjangan Kepercayaan Diri
Wanita biasanya tidak terlalu impulsif di pasar. Menurut studi Wells Fargo tentang tren observasi dari tahun 2012 hingga 2022, "wanita mencapai return yang lebih tinggi sambil mengambil risiko yang lebih rendah." Dengan kata lain, wanita cenderung lebih konservatif.
Berikut beberapa statistik menarik dari The Motley Fool tentang wanita yang berinvestasi di pasar saham:
◎ Hingga tahun 2023, sekitar 60% wanita berinvestasi di pasar saham, dan 68% wanita menabung untuk pensiun.
◎ Investasi paling populer di kalangan wanita muda, dengan 71% wanita Gen Z dan 63% wanita milenial melakukan investasi.
◎ Return investasi investor wanita lebih tinggi daripada pria, dengan penelitian menemukan perbedaan antara 0,4% hingga hampir 1%.
◎ Wanita kurang percaya diri terhadap kemampuan investasi mereka dibandingkan pria, dan menunjukkan tingkat pengetahuan investasi yang lebih rendah.
◎ Karena kesenjangan gaji gender, saldo akun investasi wanita 44% lebih rendah daripada pria.
Kisah Sukses: Wanita yang Menonjol dalam Trading Saham
Pelopor dan Perintis
Meskipun Muriel "Mickie" Siebert masih dikenal sebagai "First Lady of Wall Street", masih banyak wanita lain yang juga meninggalkan jejak mereka di dunia keuangan. Berikut beberapa wanita dan kontribusi mereka, yang membuka jalan bagi kesetaraan dan representasi di dunia keuangan modern.
● Victoria Woodhull
Victoria dikenal karena aktivisme-nya, dan pada tahun 1870 menjadi wanita pertama yang membuka perusahaan pialang di Wall Street. Perusahaannya bernama Woodhull, Claflin & Co., melayani klien seperti Cornelius Vanderbilt, dan menarik perhatian media yang luas. Pada tahun 1872, dia mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat sebagai kandidat dari Equal Rights Party. Tindakan beraninya menantang norma gender yang mengakar kuat pada saat itu.
● Isabel Benham
Isabel Benham ahli dalam menganalisis obligasi kereta api, yang akhirnya membuatnya menjadi analis fixed income dan obligasi korporasi yang sukses. Pada tahun 1964, dia menjadi partner di perusahaan obligasi R.W. Pressprich & Co., wanita pertama yang menjadi partner di perusahaan obligasi mana pun di Wall Street.
Profesional Muda yang Mengubah Industri
Sejak era Mickie Siebert dan Isabel Benham, ada banyak wanita di era 90-an hingga 2000-an yang mengubah wajah industri keuangan. Wanita-wanita ini meninggalkan jejak mereka di bidang trading melalui perusahaan besar, divisi trading, serta bank dan hedge fund yang sukses. Berikut beberapa di antaranya:
● Kathy Lien
Kathy memulai karier tradingnya pada usia 18 tahun. Setelah lulus dari NYU Stern School of Business, dia bergabung dengan Wall Street. Di JPMorgan Chase, dia menjadi otoritas yang diakui di bidang trading forex. Kemudian, dia bekerja sebagai Chief Strategist di DailyFX dan di FXCM, membuat konten edukasi dan berbagi strategi untuk investor retail. Akhirnya, dia bersama Boris Schlossberg mendirikan BK Asset Management, dan terus menjabat sebagai Managing Director, dengan fokus pada pair forex seperti EUR/USD, USD/JPY, dan GBP/USD. Dia juga telah menulis beberapa buku.
● Linda Raschke
Linda dikenal karena setup trading "Holy Grail"-nya (yaitu pullback harga ke moving average 20 periode) dan penampilannya di buku Jack D. Schwager, "The New Market Wizards". Dia adalah trader dan penulis yang sangat dihormati di bidang trading komoditas dan futures pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Dia memulai kariernya pada tahun 1980-an, awalnya sebagai options trader di Pacific Coast Stock Exchange, tetapi kemudian menjadi trader independen, Commodity Trading Advisor (CTA), dan manajer hedge fund di LBR Asset Management miliknya sendiri. Linda adalah pendukung kuat analisis teknikal dan price action, dan sering berbagi trading, ide, serta keahliannya di media sosial.
● Anna Coulling
Anna Coulling juga layak mendapat tempat di kategori ini karena kontennya tentang analisis volume dan harga (VPA). Kami sangat menyukai buku terobosannya, "A Complete Guide to Volume Price Analysis". Dia adalah penulis bestseller yang produktif, fokus pada trading price action, dan juga seorang wanita Inggris yang ceria. Dia adalah trader otodidak yang, melalui bertahun-tahun pembelajaran pribadi dan akumulasi pengalaman, memulai dari trader retail dan secara bertahap meningkatkan keterampilannya. Penekanannya pada analisis volume dan harga adalah salah satu metode paling terkenal untuk memahami tren pasar dan mengidentifikasi titik entry dan exit.
Influencer Modern dan Pemimpin Komunitas
Banyak wanita muda yang sedang menonjol di pasar. Selama pandemi COVID-19, pasar saham menyambut gelombang besar trader baru, banyak di antaranya adalah wanita. Tidak hanya itu, kebangkitan influencer media sosial dan pemimpin komunitas trading juga terlihat jelas. Berikut beberapa wanita yang patut diperhatikan:
● Cathie Wood
Jika membicarakan trader paling sukses saat ini, maka pendiri dan CEO ARK Invest, Cathie Wood, pasti termasuk di dalamnya. Statusnya sebagai trader wanita semakin menambah dimensi legendaris pada sosoknya. Dalam peringkat kinerja manajer fund beberapa tahun terakhir, Cathie Wood jauh melampaui peringkat kedua. Antusiasmenya terhadap saham teknologi (contohnya Tesla) dan industri emerging, serta sikapnya yang sangat bullish sempat menuai kontroversi, tetapi pada akhirnya berkat return yang melimpah, dia menunjukkan kepada dunia pandangan uniknya dan pemahaman yang visioner tentang pasar.
● Humbled Trader
Shay Huang, dengan nama "Humbled Trader", adalah seorang day trader asal Kanada yang berbagi video yang menarik dan membumi di YouTube, dengan lebih dari 1 juta subscriber. Tutorial analisis pasarnya, refleksi yang jujur, serta wawasannya tentang trading saham, trading opsi, dan manajemen risiko sangat populer di kalangan trader pemula.
● Off Shore Hunter
Michele, dengan nama "Off Shore Hunter" di platform X, adalah seorang swing trader dan day trader yang tinggal di Montana. Dia adalah wanita yang tangguh, menyukai memancing dan berkuda. Faktanya, dia juga memiliki track record trading yang cukup luar biasa di pasar saham, bahkan sudah setengah pensiun. Selama bertahun-tahun, Michele memandu ruang swing trading di salah satu trading chat room paling sukses sepanjang masa, InvestorsUnderground.com. Dia masih berbagi banyak ide trading di platform X (@offshorehunters) dan aktif di komunitas Investors Underground.
● Lauren Simmons
Lauren Simmons pada tahun 2017 pada usia 22 tahun menjadi trader wanita penuh waktu termuda di NYSE (New York Stock Exchange), dan wanita Afrika-Amerika ke-2 dalam sejarah 229 tahun NYSE. Pada tahun 2018 dia masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh versi majalah Ebony, dan juga terpilih oleh situs berita politik Politico dalam daftar Women of Impact 2018. Dia menghasilkan $650.000 (sekitar Rp10,4 miliar) pada tahun 2021, dan hampir menghasilkan $1 juta (sekitar Rp16 miliar) pada tahun 2022, dengan sumber pendapatan termasuk acara speaking, kolaborasi brand, menulis buku, kontrak film, dan menjadi host program streaming "Going Public". Ada media yang menyebutnya sebagai "Serigala Betina Wall Street".
Tren Pasar dan Peluang bagi Wanita dalam Trading
Dari E-Trade di era 90-an hingga Robinhood dan Webull di era 2000-an, popularitas teknologi trading retail online memungkinkan semakin banyak wanita untuk berpartisipasi dalam trading. "Old boys club" di Wall Street terkenal karena eksklusivitasnya terhadap pria, tetapi sekarang itu bukan lagi syarat untuk menghasilkan jutaan dolar di pasar. Pertumbuhan platform social trading dan komunitas online membuat pasar menjadi lebih inklusif.
Penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih cenderung pada investasi berkelanjutan dan berdampak. Wanita biasanya lebih fokus pada tujuan jangka panjang, penghindaran risiko, dan keputusan investasi berdasarkan nilai atau tanggung jawab sosial. Faktanya, wanita melihat investasi sebagai alat untuk mencapai perubahan positif, bukan sekadar sarana untuk mendapatkan return. Demikian pula, wanita lebih menghargai transparansi dan etika bisnis, yang tercermin dalam penelitian Calvert Investments dan Morgan Stanley.
Masa Depan Wanita dalam Trading
Wanita mengendalikan semakin banyak kekayaan global, terutama melalui warisan dan kewirausahaan. Oleh karena itu, layanan keuangan harus beradaptasi dengan preferensi spesifik wanita. Generasi muda wanita semakin memperhatikan warisan finansial mereka dan kemampuan untuk merencanakan pensiun yang nyaman. Seiring kemajuan teknologi dan meningkatnya inklusivitas industri, wanita lebih mudah dari sebelumnya untuk mengakses pengetahuan dan edukasi trading, dan masa depan terlihat sangat cerah.