Meskipun belajar, menerapkan, dan beradaptasi dengan trading membutuhkan waktu, ada beberapa tips trading yang bisa mempersingkat kurva pembelajaranmu. Setelah mengalami drawdown yang menyakitkan, trader terkenal dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, Steve Burns, merangkum 16 saran dan tips cepat untuk memulai day trading berikut ini. Kamu harus memahami semuanya agar peluang suksesmu di pasar yang kejam ini meningkat.
#1. Evaluasi Kepribadianmu
Sederhananya, kenali dulu dirimu ini orang yang seperti apa.
Kalau kamu gampang emosi, makin lama mantengin grafik makin tersiksa, jangan paksakan diri — strategi jangka panjang justru lebih cocok buatmu. Kalau kamu memang suka sensasi, menikmati jantung berdebar dan telapak tangan berkeringat, short-term trading mungkin lebih sesuai. Tapi kalau tekanan sedikit saja bikin susah tidur dan makan, kamu harus disiplin menyusun trading plan yang bisa menurunkan stres, misalnya posisi lebih kecil dan stop loss yang lebih jelas.
Trading bukan soal siapa yang paling jago, tapi siapa yang paling memahami dirinya sendiri dan bisa hidup damai dengan kepribadiannya.
#2. Bangun Disiplin
Bayangkan skenario ini: kamu sudah punya rencana, tahu bahwa di sini mungkin akan terbentuk pola head and shoulders, tapi begitu harga pullback, mentalmu langsung ambruk. Baru turun 20 pips, kamu sudah gelisah. Rencanamu bilang bisa tahan 50 pips, tapi matamu menatap floating loss, tanganmu sudah tidak bisa dikendalikan. Turun 5 pips lagi, hap, kamu potong posisi, keluar dengan rugi 25 pips.
Hasilnya? 45 menit kemudian pasar bergerak sesuai skenario aslimu, harga naik terus di bagian tengah bahu kedua, 40 pips tercapai dengan mulus. Sayangnya, kereta itu sudah bukan milikmu lagi.
Inilah gambaran nyata banyak orang dalam trading: bukan tidak bisa membaca pasar, tapi tidak tahan menjalani prosesnya.
Tanpa disiplin, setiap hari kamu "menyerah lebih awal", dan lama-kelamaan akunmu pasti terkuras sedikit demi sedikit. Yang benar-benar bisa profit bukanlah mereka yang sesekali menebak dengan benar, tapi mereka yang hari demi hari mengeksekusi rencana, review, dan memperbaiki diri dengan gigih. Di akhir pertarungan trading, yang diuji bukan teknik, tapi kemampuan eksekusi.
#3. Rencanakan Tradingmu di Awal
Intinya, setiap trade harus dipikirkan matang dulu sebelum eksekusi, dan setelah dipikirkan harus dijalankan sesuai rencana. Selama kamu disiplin mengikuti rencana, risiko akan selalu terkurung dalam kandang yang sudah kamu siapkan sejak awal. Kamu bahkan bisa menyiapkan beberapa kemungkinan skenario di awal, sehingga hatimu tenang dan tanganmu tidak goyah.
Begitu kamu mulai trading sembarangan di luar rencana, semuanya langsung jadi rumit. Mengubah keputusan mendadak, mengambil keputusan terburu-buru, akhirnya seringkali bukan pasar yang mengalahkanmu, tapi kamu sendiri yang menghancurkan akunmu.
Contoh nyata: kamu awalnya berencana trading dari jam 8 pagi sampai 12 siang, waktu yang paling kamu kuasai, ritmenya pas, kondisimu bagus, dan dalam sekali jalan kamu profit 120 pips, hatimu senang sekali. Lalu kamu berpikir: "Sore juga tidak ada kerjaan, iseng main saja." Hasilnya? Tiga jam kemudian kamu rugi 200 pips, dan kamu bingung, sama sekali tidak tahu di mana masalahnya.
Ingat satu hal: menjaga rencanamu berarti menjaga keunggulanmu. Ketika kamu trading di luar zona nyaman, sebenarnya kamu terjun ke kandang lawan, dan saat itu, keunggulan lawan jauh lebih besar dari yang kamu bayangkan.
#4. Manfaatkan Data Mining untuk Keuntunganmu
Banyak orang begitu merasa strateginya "tidak berfungsi", reaksi pertama adalah mencurigai pasar, mencurigai indikator, tapi jarang bertanya pada diri sendiri: apakah saya sudah menggunakan data historis yang cukup untuk evaluasi yang valid?
Ketika kamu mendesain strategi, jika sampel historisnya terlalu pendek, memang mudah "ditampar" oleh pasar.
Sekarang mendapatkan data tidak sulit, yang penting kamu harus menguji berulang kali dalam lingkungan yang sedekat mungkin dengan pasar nyata. Misalnya, melalui data kamu menemukan bahwa sekitar tanggal 15 Maret pasar sangat mudah bergerak volatil. Maka keputusan paling cerdas apa? Bukan memaksakan entry, tapi tidak trading sama sekali hari itu.
Tapi kalau kamu tidak punya statistik ini, kemungkinan besar kamu akan entry dengan percaya diri, lalu dihajar habis-habisan oleh pasar, dan akhirnya hanya tersisa penyesalan dan keraguan pada hidup.
Jadi, jangan hanya melihat pergerakan permukaan, periksa dengan serius sumber datamu, belajarlah menambang data dengan cerdas, pastikan data itu benar dan dapat diandalkan. Langkah ini seringkali lebih penting daripada menambah satu indikator lagi.
#5. Susun Strategi Trading
Menyusun berbagai strategi dan rencana keseluruhan membutuhkan banyak informasi. Berapa toleransi risikomu? Berapa max drawdown-mu? Apakah kamu akan melakukan pyramiding? Berapa risk-reward ratio-mu? Pasar mana yang akan kamu tradingkan, timeframe apa yang kamu pilih?
Rencanamu harus mencakup hal-hal ini dan lebih banyak detail lagi. Beberapa kategori umum meliputi teknik manajemen risiko, metodologi, dan pengujian strategi.
Susun beberapa rencana yang sudah pasti, dan rencana-rencana ini harus mengikuti rencana induk. Ciptakan strategi yang bisa diadaptasi dalam rencana-rencana tersebut. Setelah selesai, kamu akan memiliki gambaran menyeluruh yang jelas tentang apa yang ingin kamu lakukan dan bagaimana melakukannya.
#6. Pahami Jenis Analisis yang Mempengaruhi Pasar
Sederhananya, analisis pasar hanya punya dua jalur: satu teknikal, satu fundamental.
Analisis teknikal lebih seperti berurusan dengan angka dan grafik — bagaimana pola kandilnya, apakah pasar sedang ranging atau trending, berapa banyak order yang berjalan di pasar, apakah trendline mengarah ke atas atau ke bawah, semua ini dihitung dan digambar dengan matematika.
Fundamental tidak melihat grafik, ia peduli pada hal-hal di luar grafik, misalnya bagaimana suku bunga The Fed berubah beberapa tahun terakhir, ke arah mana kebijakan bergerak. Hal-hal ini tidak langsung memberimu titik beli atau jual, tapi akan memberitahu ke mana pasar kira-kira "ingin bergerak".
Dalam day trading, analisis fundamental akan memberitahu kemungkinan-kemungkinan tertentu, dan analisis teknikal akan mempersempit kemungkinan tersebut lebih lanjut. Semakin kuat kemampuan analisismu, dan semakin mahir kamu menggunakannya, semakin besar peluangmu meningkatkan profit sambil menekan risiko.
#7. Terima Kegagalan
Tingkat kegagalan yang tinggi bukan berarti kamu akan rugi secara keseluruhan. Bahkan jika kamu hanya menang 20% dari trade-mu, profitnya bisa sangat tinggi. Selama kontrol risiko dan strategi profitmu memadai dan dieksekusi dengan disiplin, kamu bisa menetapkan di awal berapa banyak trade rugi yang bersedia kamu tanggung.
Kuncinya adalah menerima bahwa kegagalan hanyalah bagian dari proses trading, dan tidak bisa dihindari. Kamu hanya perlu memastikan profit dari trade yang menang cukup untuk menutupi kerugian. Jika tidak bisa, kamu perlu menyesuaikan risk-reward ratio atau mengubah strategi keseluruhan.
#8. Tetapkan Target Profit yang Realistis
Kesuksesan tidak bisa diraih dengan terburu-buru. Mempelajari pasar, membangun strategi, dan beradaptasi semuanya membutuhkan waktu. Trader yang berhasil melakukannya biasanya baru melihat profit konsisten setelah 5 hingga 12 bulan.
Mengejar target atau prediksi terlalu dini bisa membuatmu trading dengan risiko berlebihan, tidak mengikuti rencana, dan akhirnya kehilangan modal.
#9. Manajemen Risiko
Apakah kamu punya strategi manajemen risiko? Termasuk risiko rutin per trade dan max drawdown bulanan, kamu harus punya rencana. Ini kunci untuk mengurangi kerugian dan akhirnya mencapai profit.
Ingat, cara angka bekerja mungkin berbeda dari yang kamu bayangkan. Misalnya, trade yang rugi 25% membutuhkan kenaikan 33% untuk kembali modal. Semakin besar risiko yang kamu ambil, semakin besar kerugiannya, dan semakin besar pula kenaikan yang kamu butuhkan untuk menutupi kerugian.
#10. Trading dengan Akun Demo Dulu
Benar, uang nyata memang membawa motivasi yang nyata. Tapi belajar dasar-dasarnya dengan akun demo terlebih dahulu itu penting. Ini kesempatan sempurna untuk melatih disiplin. Karena dananya bukan uang nyata, justru lebih sulit mengeksekusi rencana dengan ketat. Di fase belajar ini, kamu bisa menghadapi dan mengatasi emosi seperti rasa takut dan keserakahan yang muncul dalam trading.
Ngomong-ngomong, banyak trader berpengalaman menggunakan akun demo untuk menguji strategi baru, memantau strategi yang sudah ada, atau sekadar meningkatkan pengetahuan tanpa risiko. Manfaatkan sumber daya berharga ini sebagai keunggulanmu.
#11. Hanya Trading dengan Dana yang Kamu Mampu Tanggung
Berkali-kali, kelemahan sifat manusia muncul, dan kita mendengar banyak kisah menyedihkan. Ada yang kehilangan seluruh dana pensiun atau biaya hidupnya hanya karena mempertaruhkan uang hasil kerja kerasnya di pasar seperti berjudi demi mengejar kekayaan jutaan.
Meskipun risiko bisa dikendalikan, day trading pada dasarnya tetap berisiko tinggi. Ketika kamu memutuskan membuka akun real, gunakan hanya dana yang kamu mampu kehilangannya dengan mudah. Banyak trader kehilangan seluruh akunnya berkali-kali sebelum akhirnya profit.
Terimalah kenyataan bahwa uang yang kamu masukkan ke akun secara psikologis harus dianggap sudah hilang. Memulai trading dengan mentalitas "100% dana mungkin bisa rugi" membantu menentukan zona nyamanmu dan mengurangi stres.
#12. Pilih Broker dengan Bijak
Dalam memilih broker, jangan malas. Tanya dulu pada diri sendiri: platform mereka nyaman tidak kamu pakai? Berapa minimum depositnya? Bagaimana perhitungan komisi dan spread-nya? Kalau akunmu sudah besar, apakah penarikan dananya lancar? Kalau pertanyaan-pertanyaan ini tidak kamu pastikan, cepat atau lambat kamu pasti kena masalah.
Kenyataannya, banyak orang bukan rugi karena tradingnya, tapi rugi karena brokernya. Ada yang demi menghemat komisi, memilih platform kecil yang tidak terpercaya, dan begitu perusahaannya bermasalah, uang di akun langsung nol, bahkan tidak ada tempat untuk mengajukan keluhan.
Jadi memilih broker yang punya reputasi baik, sudah lama berdiri, dan diawasi ketat, pada dasarnya adalah mengasuransikan akunmu sendiri. Kalau langkah ini sudah benar, barulah kamu berhak bicara soal trading.
#13. Gunakan Stop Loss
Setiap trade harus dipasang stop loss. Termasuk stop loss keras berupa max drawdown per trade, serta trailing stop yang lebih fleksibel dan bisa berubah.
Misalkan kamu profit 100 pips, tapi tidak memasang trailing stop 20 pips. Pasar turun 50 pips, baru kamu tutup posisi. Kalau kamu menggunakan trailing stop, seharusnya kamu bisa mendapatkan 80 pips bukan hanya 50 pips.
Menggunakan stop loss dengan cerdas sangat penting. Kerugian yang tidak terkendali atau profit besar yang berubah menjadi rugi, rasa penyesalan seperti itu sangat membekas.
#14. Tetap Sederhana
Indikator di pasar begitu banyak sampai membuat mata pusing, tapi kenyataannya: bukan yang paling tidak populer yang terbaik. Kamu bisa lihat dulu indikator apa yang digunakan trader yang benar-benar profit jangka panjang, lalu pilih yang cocok untukmu, kuasai dan pahami sampai tuntas.
Banyak orang mudah tersesat, "menciptakan" indikator super rumit sendiri, parameternya unik, algoritmanya canggih, hasilnya? Rugi terus. Bukan berarti pasti tidak berguna, tapi mayoritas orang di pasar sama sekali tidak melihat referensi ini. Yang orang lihat adalah support, resistance, trend — "koordinat publik" ini.
Trading pada dasarnya adalah perilaku kelompok. Menggunakan indikator yang dilihat kebanyakan orang lebih mudah menciptakan resonansi dengan pasar, sehingga peluang suksesnya lebih tinggi. Setelah kamu benar-benar memahami pasar, baru bicara soal inovasi. Jangan buru-buru jadi penemu.
#15. Pahami Peristiwa "Black Swan"
Ada cerita yang sangat hidup. Dua peraih Nobel Ekonomi — Myron Scholes dan Robert Merton — pernah bergabung dengan perusahaan terkenal Long-Term Capital Management (LTCM). Formula mereka sangat brilian, setiap hari profit. Langit berwarna keemasan, pelangi bersinar... tapi untuk cerita singkatnya, terjadilah "peristiwa default Rusia".
Satu peristiwa black swan yang tak terduga muncul, formula yang tadinya berfungsi menjadi tidak berlaku, kerugiannya sangat besar. Fund itu kolaps, reputasi Scholes dan Merton rusak, dan The Fed harus turun tangan dengan cara tertentu. Peristiwa black swan sama sekali tidak menyenangkan. Meskipun probabilitasnya rendah, tetap usahakan meminimalkan risikonya.
#16. Pahami Volatilitas
Sederhananya, volatilitas adalah seberapa "liar" harga bergerak. Semakin cepat harga melompat dan semakin besar amplitudonya, semakin tinggi volatilitasnya. Pasar yang hanya bergerak 2 pips naik-turun pasti jauh lebih mudah dihadapi daripada pasar yang dalam sekejap bergerak bolak-balik 20 pips. Meskipun ada trader ahli yang khusus memanfaatkan volatilitas, itu permainan tingkat lanjut. Bagi pemula, langsung mengejar volatilitas tinggi pada awalnya pada dasarnya sama dengan membayar uang sekolah ke pasar, dan biayanya tidak murah.
Cara yang lebih cerdas adalah pahami dulu seberapa "galak" pasar saat ini, belajar mengontrol posisi, memasang stop loss dengan baik, dan menekan risiko yang ditimbulkan oleh volatilitas. Setelah kamu stabil, baru pertimbangkan untuk beradu otot dengan volatilitas besar.