Rayner Teo adalah trader independen, pernah menjadi proprietary trader, dan memiliki pengalaman trading hampir 15 tahun. Kini blog tradingnya cukup populer. Ia terutama mengikuti tren dalam trading. Menurutnya, selain skill dan strategi trading, kemampuan trader untuk mematuhi prinsip dan memiliki psikologi yang baik juga sangat penting.
Menurutnya, kesalahan yang paling sering dilakukan trader adalah mereka selalu berharap menemukan "Holy Grail trading", dan mengabaikan proses belajar serta akumulasi pengalaman dalam trading nyata. Rayner Teo menyarankan trader pemula untuk wajib membuat rencana yang detail. Rencana ini harus menetapkan beberapa parameter untuk setiap trade, seperti kondisi pasar apa yang boleh ditradingkan, bagaimana entry dan exit, serta bagaimana mengelola trade. Jika trading terus merugi, maka segera refleksikan trading plan kamu dan terus perbaiki.
Singkatnya, breakout trading bertujuan menangkap momen entry saat aset acuan menembus pola atau level harga kuncinya.
Mungkin saat harga suatu saham mencetak 52-week high…
Atau entry saat menembus area resistance penting…
Atau membuka posisi saat lepas dari belenggu pola cup and handle…
Meskipun saya menyebutkan tiga skenario kerja breakout trading… semuanya tetap mengikuti satu logika inti: beli di harga tinggi, jual di harga lebih tinggi.
Kamu pasti sering mendengar trader lain berkata:
"Wajib beli saat saham oversold!"
"Beli rendah jual tinggi!"
"Serakah saat orang lain takut, takut saat orang lain serakah!"
Ucapan ini ada benarnya, tapi melawan tren dan mengejar harga tinggi itu sangat berisiko!
Seperti menangkap pisau jatuh dengan tangan kosong, atau seperti karakter anime yang dihantam pukulan keras hingga terjatuh!
Melihat sejarah, beli rendah jual tinggi memang bisa memberi return besar. Tapi meski beli di harga rendah, harga masih bisa terus turun.
Apakah daya tahanmu sanggup menahan pukulan seperti itu?
Inilah keunggulan breakout trading.
Mengapa Memilih Breakout Trading?
Pertama, kamu tidak melawan momentum pasar, melainkan "menumpang" tren yang sudah terbentuk. Tren ini kadang bisa berlanjut berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Ini memungkinkanmu menangkap pergerakan pasar yang luar biasa. Tentu saja, breakout trading juga punya kelemahan, misalnya fenomena "fake breakout" yang sering terjadi.
Tidak ada strategi yang sempurna!
Saat ini kamu mungkin berpikir:
"Sebenarnya mana yang lebih baik?"
"Mengejar harga tinggi dan jual lebih tinggi atau beli di dasar dan jual di harga tinggi?"
Kuncinya adalah: semua strategi punya kelebihan dan kekurangan, tapi intinya adalah memperbesar keunggulan dan menutupi kelemahan.
Inilah poin yang akan dibahas berikut ini.
Rahasia Profit Breakout Trading
Sebelum membagikan kiat-kiat lanjutan, masih ada satu elemen kunci yang perlu dijelaskan terlebih dahulu.
Mengapa memilih pasar saham untuk breakout trading?
Alasan utamanya adalah: pasar saham menawarkan lebih banyak peluang trading.
Jumlah saham memang sangat banyak!
Tapi kali ini, kamu bisa lebih mudah membedakan saham mana yang berkinerja baik dan mana yang buruk.
Bahkan tanpa susah payah kamu bisa melihat Apple (AAPL) dan Nvidia (NVDA) menonjol jelas di heatmap.
Paham kan?
Inilah kunci mengapa trading pasar saham dan strategi breakout saling melengkapi—lebih banyak peluang, tren yang lebih jelas, dan potensi profit yang lebih besar.
Lalu pertanyaan berikutnya:
Bagaimana memanfaatkan keunggulan pasar yang besar ini secara maksimal?
Tiga kiat lanjutan yang akan saya bagikan adalah:
◎ Mengikuti tren pasar secara keseluruhan
◎ Menggunakan strategi trailing stop
◎ Menjalankan manajemen risiko dan kontrol posisi secara ketat
Teknik Lanjutan #1: Ikuti Tren
Kita harus mengakui:
Saat pasar secara keseluruhan berkinerja baik, semuanya terasa lancar…
Seluruh pasar seperti lautan yang penuh kehidupan, hampir semua saham menunjukkan tren naik!
Tapi saat kepanikan menyebar, pasar pun berlumuran darah...
Lalu bagaimana cara melakukannya secara spesifik?
Sederhana—selalu berada di sisi yang benar dari pasar!
Bull market => long
Bear market => pegang cash
Logikanya jelas, bukan?
Tapi kamu mungkin bertanya:
Kapan tepatnya harus long?
Kapan harus pegang cash dan menunggu?
Apakah ada standar acuan yang bisa diukur?
Saat ini, kamu bisa menggunakan indikator yang sudah teruji—index filter.
Daripada menghabiskan energi membaca ratusan laporan keuangan untuk menentukan apakah harus pegang cash, lebih baik gunakan mekanisme index filter.
Misalnya, saat trading S&P 500, pasang 100-week moving average di grafik:
◎ Saat harga close di atas 100-week moving average => mulai cari peluang trading
◎ Saat harga close di bawah moving average => langsung likuidasi dan pegang cash
Meskipun sinyalnya kadang ambigu, sistem ini membuatmu bisa memahami arah arus pasar dengan jelas, sekaligus meningkatkan return dan mengendalikan kerugian.
Apakah ini bisa menghasilkan profit di pasar?
Kurang ideal!
Tapi, saat kamu menambahkan index filter, dengan aturan yang sama, bagaimana hasilnya sekarang?
Beda jauh.
Dan semua ini hanya perlu menambahkan satu aturan index filter!
Jadi, sekarang kamu tahu kapan harus trading dan kapan tidak boleh trading.
Lalu, bagaimana kamu tahu kapan harus exit dari trade?
Biar saya bagikan berikutnya…
Teknik Lanjutan #2: Gunakan Trailing Stop
Sekarang, kamu sudah paham tujuannya adalah beli di harga tinggi dalam tren, dan jual di harga lebih tinggi sebelum tren berakhir.
Tentu saja, kadang breakout bisa sangat singkat, kamu dapat sedikit profit, lalu pasar berbalik melawanmu…
Tapi pada saat yang sama, bisa juga terjadi pergerakan besar seperti ini, seolah tidak ada batas atasnya…
Secara keseluruhan, dalam breakout trading, yang penting adalah kamu tidak pernah tahu seberapa tinggi harga bisa naik.
Ada banyak cara berbeda untuk melacak stop loss-mu, seperti menggunakan moving average, Donchian channel, atau Average True Range (ATR)…
Namun, saya akan membagikan satu metode trailing stop yang sederhana tapi efektif—trailing stop berbasis persentase!
Menggunakan metode ini berarti kamu akan memegang saham sampai turun 30% dari titik tertingginya.
Sederhana bukan. Tidak perlu menghafal rumus rumit, hanya butuh matematika dasar!
Nah, jika kamu ingin menangkap tren jangka pendek, kamu bisa menggunakan trailing stop berbasis persentase 10% hingga 20%.
Tapi jika kamu mencoba menangkap prinsip tren besar jangka panjang, maka kamu perlu mempertimbangkan menggunakan rasio 30% atau lebih.
Tapi hati-hati! Pasar tidak pernah berjalan sesuai skenario ideal. Sering kali berbalik tepat saat kamu beli, atau jatuh setelah mencapai target profit!
Lalu, bagaimana mengatasinya? Bagaimana meningkatkan peluang menang dalam breakout trading?
Biar saya bagikan satu teknik lanjutan terakhir untukmu.
Teknik Lanjutan #3: Manajemen Risiko dan Kontrol Ukuran Posisi
Harus menyadari kenyataan, semua trade bisa mengalami pergerakan berlawanan, kasus breakout gagal pasti akan terjadi.
Tapi kamu bisa menganggapnya sebagai "biaya operasional".
Kabar baiknya, melalui manajemen portofolio kamu bisa mengendalikan kerugian secara efektif: diversifikasi portofolio (bahasa mudahnya: memegang beberapa instrumen sekaligus):
Misalnya, jika kamu punya akun $5.000 (sekitar Rp80 juta), dan kamu punya aturan alokasi portofolio 10%.
Ini berarti kamu tidak akan membeli saham senilai lebih dari $500 (sekitar Rp8 juta), dan maksimal memegang 10 posisi terbuka sekaligus.
Logika intinya adalah, kamu tidak pernah bisa memprediksi saham mana yang akan meledak atau crash.
Melalui alokasi portofolio, meskipun satu saham menjadi nol, kamu masih punya modal untuk terus trading.
Sekaligus, dengan memegang beberapa saham dalam portofolio, kamu punya peluang bagus menangkap breakout jangka panjang di pasar.
Bahkan jika hanya 1-2 saham yang profit, itu sudah cukup membuat portofoliomu kembali untung atau lebih.
Sampai di sini, kamu sudah menguasai logika dasar dan esensi praktik breakout trading, bisa dibilang kamu sudah ahli breakout trading!
Sistem breakout trading yang telah divalidasi backtest. Bagian paling berharga dari panduan ini telah tiba—satu set strategi breakout trading lengkap beserta hasil backtest historisnya.
Sistem Breakout Trading yang Efektif
Inilah yang membuat panduan ini istimewa.
Strategi breakout trading lengkap beserta hasil backtest penuhnya, menunjukkan performanya di pasar saham.
Tentu saja, performa masa lalu tidak pernah menjamin hasil masa depan.
Tapi izinkan saya bertanya:
Jika suatu sistem berkinerja buruk di masa lalu, apakah kamu masih akan mentradingkannya?
Pasti tidak, kan?
Dan inilah yang saya ingin kamu pahami.
Strategi breakout ini menghasilkan return 5175,77% selama 30 tahun terakhir.
Namun, sebelum memulai, kamu perlu memahami beberapa detail penting tentang sistem breakout trading ini:
◎ Sistem ini hanya trading pada timeframe weekly
◎ Sistem ini diuji untuk mentradingkan saham konstituen S&P 500, sekaligus menggunakan indeks itu sendiri sebagai filter tren
◎ Sistem ini menggunakan alokasi portofolio 10%, yang membuatmu maksimal memegang 10 saham (masih ingat yang saya ajarkan sebelumnya?)
Sekarang, mari kita bedah aturan trading sistem ini bersama-sama.
Aturan Satu: Indeks S&P 500 berada di atas 100-week moving average
Masih ingat konsep yang saya ajarkan sebelumnya?
Inilah pilar inti sistem ini.
Tapi sebagai pengulangan, kamu cukup memunculkan 100-period simple moving average, beralih ke timeframe weekly…
Selama harga berada di atas moving average, terus pegang posisi atau buka posisi baru sesuai aturan.
Sangat dasar bukan?
Lalu, apa yang harus dilihat berikutnya?
Aturan Dua: Saat saham mencetak 52-week high, beli di harga open minggu berikutnya
Jika saham mencetak 52-week high, maka beli saham tersebut saat open minggu berikutnya.
Aturan ini hampir menjelaskan dirinya sendiri.
Namun, kesulitannya di sini adalah terus mencari historical high.
Ada sekitar 500 saham dalam indeks yang kita tradingkan.
Memeriksa semua saham itu secara manual setiap minggu sungguh gila!
Lalu, apa solusinya?
Yaitu menggunakan "stock screener".
Untungnya, aturannya cukup sederhana, kamu bisa mengimplementasikannya dengan beberapa screener gratis.
Salah satu screener-nya adalah melalui TradingView!
Aturan Tiga: Urutkan saham berdasarkan indikator 80-week Rate of Change, prioritaskan trading instrumen dengan peringkat teratas
Langkah ini mungkin terbilang baru, kita akan menggunakan alat pengurutan yang disebut "Rate of Change (ROC)".
Fungsi inti indikator ini adalah mengukur kekuatan saham.
Ini tidak menunjukkan status overbought atau oversold—singkatnya, semakin tinggi nilai ROC, semakin kuat momentum saham, dan inilah karakteristik yang kita butuhkan!
Ingat dua aturan besi:
◎ Maksimal posisi terbuka adalah 10
◎ Posisi satu saham tidak melebihi 10% dari total modal
Inilah pentingnya pengurutan ROC—ini bisa menentukan prioritas trading dengan jelas.
Aturan Empat: Saat harga close saham jatuh di bawah 25-week low, jual di harga open minggu berikutnya
Untuk aturan ini, kamu bisa menggunakan Donchian Channel, yang hanya menampilkan lower band…
Parameter diatur ke 25 minggu...
Sekali lagi, semua operasi berdasarkan grafik weekly.
Contoh: saat saham yang dipegang profit besar...
Hanya saat harga close jatuh di bawah 25-week low barulah trigger exit...
Aturannya sangat jelas bukan!
Lalu, bagaimana dengan exit?
Aturan Lima: Jika harga close weekly indeks S&P 500 di bawah 100-week moving average, likuidasi semua posisi di open minggu berikutnya
Saat pasar membaik, pegang dengan teguh.
Tapi bagaimana jika indeks jatuh di bawah 100-week moving average?
Sederhana, misalkan harga close Jumat jatuh di bawah moving average...
Senin berikutnya saat open langsung tutup semua posisi, pegang cash dan tunggu...
Paham?
Sekarang sampai pertanyaan kunci: bagaimana performa sistem ini dalam praktik nyata? Berapa rata-rata return tahunannya?
Berikutnya kamu akan menyaksikan sendiri "keunggulan trading" yang sesungguhnya.
Hasil Backtest Sistem Breakout Trading
Seperti yang kamu tahu, ini adalah sistem trading objektif dengan aturan yang jelas. Ini berarti bisa divalidasi dengan backtest data historis.
Periode pengujian: 1995 hingga 2024
Jumlah datanya memang luar biasa!
Sistem ini melewati berbagai krisis besar: Krisis Finansial Asia 1997, Krisis Finansial Global 2008, guncangan pandemi COVID-19 2020, bahkan perang Rusia-Ukraina—semuanya dilewati dengan aman dan terus profit.
Berikut data performa intinya:
◎ Total trade: 320
◎ Rata-rata return tahunan: 13%
◎ Max drawdown: -12%
◎ Win rate: 50%
Sistem breakout trading ini mengalami 5 tahun merugi dalam 30 tahun terakhir.
Tapi performanya tetap cukup luar biasa.
Sekarang, meskipun sistem ini rata-rata menghasilkan 14,13% per tahun, tapi tidak konstan setiap tahun.
Ada momen gemilang seperti 2024, dan juga masa sulit seperti 2022.
Sistem breakout trading lengkap dengan keunggulan terukur di pasar!
Tapi tentu saja… mempelajari strategi itu satu hal, tapi mengeksekusinya secara konsisten adalah bagian yang sulit.
Saat mengalami kerugian beruntun, kamu pasti akan dilanda berbagai keraguan:
"Mengapa memilih indikator ini?"
"Apakah parameter harus disesuaikan?"
"Bisakah digabung dengan strategi lain?"
Untuk itu disediakan sesi FAQ:
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Terakhir, berikut beberapa pertanyaan umum tentang breakout trading:
1. Jenis order apa yang saya gunakan untuk entry trade?
Dalam kasus ini, kamu perlu menggunakan market order untuk entry.
2. Jika 25-week low tersentuh dalam minggu berjalan (Selasa sampai Jumat), apakah saya langsung exit dari trade, atau menunggu candle weekly close?
Tunggu candle weekly close. Setelah candle weekly close, pada Sabtu, jika harga close di atas 25-week low, kamu pegang trade tersebut. Jika di bawahnya, maka kamu exit dari trade pada Senin.
3. Jika indeks S&P 500 kembali ke atas 100-week moving average dalam minggu berjalan, apakah saya langsung beli saham yang memenuhi kriteria saya, atau menunggu candle weekly close?
Dalam kasus ini, tunggu candle weekly close. Jika harga close S&P 500 di atas 100-week moving average, maka kamu beli saham sesuai aturan trading. Jika tidak, tetap pegang cash.
4. Mengapa kamu menggunakan indeks S&P 500 bukan Russell 3000?
Tidak ada alasan khusus. Kamu bisa menggunakan Russell 3000, sistem tradingnya tetap berfungsi!
5. Mengenai 100-week moving average, apakah saya menggunakan simple moving average atau exponential moving average?
Meskipun saya menggunakan simple moving average (SMA), menggunakan yang mana tidak terlalu penting. Konsep di baliknya yang menjadi kunci, bukan parameternya. Jika sistem trading gagal hanya karena perubahan parameter kecil, saya akan sangat khawatir, karena itu menunjukkan kemungkinan besar overfitting.
6. Apakah sistem breakout trading bisa diterapkan untuk short dengan aturan trading terbalik, yaitu short saham di historical low?
Saya pernah melakukan backtest untuk ini, dan sayangnya, tidak berhasil.