Average down adalah praktik menambah posisi saat trading mengalami kerugian. Logikanya: membeli di harga yang lebih rendah dapat menurunkan harga rata-rata keseluruhan posisi. Artinya, jika harga kembali naik, potensi profit akan lebih besar, atau posisi bisa lebih cepat kembali ke titik impas.
Namun, jika trader terus menambah posisi saat harga terus turun, average down bisa menyebabkan kerugian besar. Tapi dalam beberapa kasus, ini juga bisa menguntungkan, misalnya strategi "membangun posisi bertahap" yang sudah direncanakan sebelumnya — ini adalah konsep yang sama sekali berbeda dari average down secara membabi buta.
Artikel ini akan membahas kapan average down layak dilakukan, dan kapan harus dihindari.
"Average down" juga dikenal sebagai dollar-cost averaging, istilah yang biasanya digunakan untuk strategi investasi jangka panjang.
Contoh Average Down
Misalkan kamu membeli sebuah saham seharga $100 (sekitar Rp1.600.000). Ternyata harganya tidak naik, malah turun.
Saat harga turun ke $90 (sekitar Rp1.440.000), kamu masih yakin saham ini akan rebound, jadi kamu beli lagi. Sayangnya, harganya turun lagi.
Saat harga turun ke $80 (sekitar Rp1.280.000), terlihat seperti diskon besar, jadi kamu tambah posisi lagi.
Inilah average down: saat harga turun, kamu terus menambah posisi.
Misalkan setiap kali beli 100 lembar:
Setelah pembelian pertama, harga rata-rata adalah $100;
Setelah pembelian kedua, harga rata-rata menjadi $95 (($100 + $90) / 2);
Setelah pembelian ketiga, harga rata-rata menjadi $90 (($100 + $90 + $80) / 3).
Harga rata-rata yang lebih rendah inilah yang menjadi daya tarik average down.
Saat harga turun ke $80, batch pembelian pertama mengalami kerugian $20 per lembar, tetapi setelah average down, harga rata-rata keseluruhan posisi adalah $90, sehingga total kerugian hanya $10 per lembar.
Jika harga kembali naik di atas $90, trader bisa mulai profit. Tanpa average down, harga saham harus naik kembali di atas $100 untuk bisa impas. Masalahnya: sekarang trader memegang 300 lembar, bukan 100 lembar seperti rencana awal.
Dengan kata lain, harga yang harus dibayar untuk menurunkan harga rata-rata adalah meningkatnya risiko dan potensi kerugian yang lebih besar.
Average down juga bisa terjadi pada posisi short.
Misalkan kamu short sebuah saham di $50, yakin harganya pasti turun.
Ternyata harga malah naik. Kamu masih yakin saham ini "tidak bernilai", jadi kamu short lagi di $56.
Harga terus naik (kamu berpikir: "Pembeli bodoh ini tidak mengerti apa-apa!"), lalu kamu short lagi di $60. Begitu seterusnya, saat harga terus bergerak berlawanan, posisi short kamu semakin membesar.
Cara Menghitung Harga Rata-Rata Saat Average Down
Jika jumlah lembar yang dibeli setiap kali sama, cukup jumlahkan harga beli, lalu bagi dengan jumlah pembelian, seperti contoh di atas.
Contoh: beli masing-masing 100 lembar di $50, $40, dan $30. Harga rata-rata adalah:
($50 + $40 + $30) / 3 = $40.
Jika jumlah lembar yang dibeli setiap kali berbeda, maka perlu menggunakan rumus weighted average.
Misalkan pembelian sebagai berikut:
65 lembar, harga $50
55 lembar, harga $40
70 lembar, harga $30
Total lembar: 65 + 55 + 70 = 190 lembar.
Selanjutnya, hitung harga rata-rata seluruh posisi: kalikan proporsi lembar setiap pembelian dengan harga beli yang sesuai, lalu jumlahkan:
(65/190) × $50 = $17,11
+
(55/190) × $40 = $11,58
+
(70/190) × $30 = $11,05
= $39,74
Tujuan perhitungan ini adalah agar setiap harga beli diberi bobot sesuai proporsi jumlah lembar yang dibeli.
Tentu saja, sekarang banyak kalkulator online yang bisa membantu menghitung harga rata-rata; jika trading sudah dieksekusi, platform trading kamu biasanya juga otomatis menampilkan harga rata-rata posisi saat ini.
Apakah Average Down Ide yang Baik?
Jika harga terus bergerak ke arah yang merugikan, average down bisa menjadi bencana. Terutama jika trader sudah menginvestasikan dana besar sejak awal, atau lebih buruk lagi, menggunakan leverage (uang pinjaman) untuk menambah posisi. Saat kerugian membesar, tekanan psikologis juga meningkat drastis, dan akhirnya sering kali terpaksa menutup posisi dengan kerugian besar. Dalam kasus penggunaan leverage, ketika dana akun hampir habis, broker bisa melakukan forced liquidation.
Untuk posisi long, meskipun harga rata-rata turun, jika harga terus merosot, angka itu tidak ada artinya. Bagaimanapun kamu menghitungnya, kerugian terus membesar.
Average down juga bisa menyebabkan jebakan psikologis yang disebut "penyakit balik modal" — trader terus menambah posisi saat harga turun, menanggung risiko besar, hanya untuk "lepas dari kerugian" atau "balik modal". Perilaku ini justru bertentangan dengan cara berpikir trader profesional.
Trader profesional "bertaruh kecil untuk menang besar": menggunakan risiko yang sangat kecil untuk mengejar potensi profit yang lebih besar; trader amatir sering kali "bertaruh besar untuk menang kecil": menanggung risiko besar hanya demi tidak rugi atau profit kecil.
Perbedaan inilah yang menjadi inti dari risk/reward. Dalam hasil statistik dari banyak trading, cara amatir berisiko tinggi dengan imbal hasil rendah hampir tidak mungkin menghasilkan profit secara konsisten.
Kontrol posisi juga menjadi masalah besar dalam average down. Sebagian besar trader menetapkan jumlah yang bersedia mereka investasikan saat membuka posisi. Misalnya, dalam akun $50.000 (sekitar Rp800.000.000), dia mungkin memutuskan menggunakan $10.000 (sekitar Rp160.000.000) untuk trading ini.
Namun, saat harga mulai turun, dia menambah posisi $5.000 (sekitar Rp80.000.000) atau $10.000 lagi; saat turun lagi, tambah $5.000 atau $10.000 lagi.
Akibatnya, trading yang awalnya hanya direncanakan menggunakan $10.000, menjadi $30.000 (sekitar Rp480.000.000). Awalnya dia mungkin hanya ingin menanggung risiko $10.000, tapi sekarang menanggung kerugian besar pada posisi $30.000. Ini sepenuhnya menyimpang dari trading plan awal.
Jika trading plan awal mencakup stop loss (keluar dengan kerugian kecil setelah stop loss tersentuh), maka rencana itu sekarang sudah benar-benar rusak. Bukannya keluar dengan stop loss, malah menambah posisi yang memperbesar risiko, dan saat harga terus berlawanan, skala kerugian juga berlipat ganda.
Average down secara spontan hampir tidak pernah menjadi ide yang baik. Average down sering kali bukan keputusan rasional, melainkan didorong oleh emosi karena tidak mau menerima kerugian dan stop loss. Meskipun average down memang bisa menurunkan harga beli rata-rata posisi (jika kamu average down searah posisi beli), sehingga saat harga rebound bisa lebih cepat kembali ke titik impas atau bahkan profit, ini juga berarti kamu secara signifikan meningkatkan eksposur risiko dalam prosesnya.
Godaan "menurunkan harga rata-rata" ini sangat kuat. Jika harga berbalik naik, trader mungkin benar-benar bisa lepas dari kerugian, bahkan meraup profit besar. Tapi ingat — untuk potensi keuntungan itu, dia menanggung risiko yang sangat besar.
Cara trader profesional sangat berbeda: mereka hanya menggunakan sebagian kecil dana mereka untuk menguji sebuah ide trading; jika pergerakan trading sesuai ekspektasi, mereka mengikuti tren dan mengejar profit lebih tinggi. Mereka sangat memahami:
Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan, tidak ada trading yang "pasti menang", setiap trading bisa merugi, setiap saham bisa mengalami pergerakan harga yang tidak kita pahami.
Average down tidak memiliki jaminan pasti berhasil. Tapi jika seseorang berulang kali menggunakan strategi average down, probabilitas mengalami kerugian besar sangat tinggi.
Secara umum, jangan average down. Tapi ada dua pengecualian:
✍ "Membangun posisi bertahap" yang sudah direncanakan sebelumnya — ini dilakukan dengan strategi dan kontrol risiko yang jelas, bukan didorong emosi.
✍ Investasi rutin jangka panjang pada aset indeks — misalnya terus membeli ETF berbiaya rendah yang memiliki sejarah kenaikan jangka panjang, strategi ini termasuk dalam kategori investasi jangka panjang, bukan average down untuk trading jangka pendek.
Membangun Posisi Bertahap vs Average Down
Perbedaan keduanya terletak pada ada atau tidaknya perencanaan.
Sebagian besar orang yang "average down" sebenarnya menambah posisi untuk menghindari kerugian. Average down seperti ini biasanya tidak direncanakan sebelumnya, sehingga menyebabkan ukuran posisi jauh melebihi rencana awal.
Sedangkan "membangun posisi bertahap" adalah strategi yang digunakan ketika kita tidak tahu titik entry terbaik. Kita tentukan dulu total dana yang bersedia diinvestasikan untuk trading ini, lalu bagi posisi menjadi beberapa bagian, dan beli secara bertahap di berbagai level harga, bukan membuka posisi sekaligus.
Sebagai contoh: misalkan analisis menunjukkan sebuah saham mungkin mulai stabil dan rebound. Kita memutuskan untuk membagi dana yang awalnya dialokasikan untuk trading ini menjadi 3 atau 4 kali pembelian.
Saat sinyal reversal pertama muncul, beli sebagian; jika harga saham terus turun, tambah sebagian lagi saat sinyal reversal berikutnya muncul; jika harga mulai naik, tambah lagi; terakhir saat sinyal trading lain muncul, beli sisanya.
Ini terlihat seperti "average down" juga — karena kita memang menambah posisi saat harga turun. Tapi perbedaan kuncinya adalah: ini adalah tindakan yang terencana dan terstruktur, dan seluruh ukuran posisi dikontrol ketat dalam batas rencana. Dalam kasus ini, risiko diketahui dan dapat diterima (jika risiko tidak dapat diterima, maka trading ini tidak boleh dilakukan).
Cara ini sangat cocok untuk saham yang fundamentalnya bagus dalam jangka panjang, misalnya yang ada dalam "daftar beli saham saat turun" atau "daftar hold jangka panjang". Saat harganya turun, kita punya kesempatan masuk di harga yang lebih baik, tapi kita tidak tahu titik beli yang tepat — saat itulah, "membangun posisi bertahap" menjadi tindakan yang rasional.
Average Down dan Investasi
Dalam investasi jangka panjang, average down (lebih tepatnya "investasi rutin") memiliki keunggulan. Namun, karena pembelian ini sudah direncanakan sebelumnya, saya pikir lebih tepat disebut "membangun posisi bertahap" daripada "average down".
Karena pasar dalam jangka panjang memiliki bias ke atas, maka investasi rutin yang berkelanjutan masuk akal. Kita tidak bisa memprediksi harga akan turun ke mana, naik ke mana, tapi kita tahu — dalam jangka panjang pasar secara keseluruhan cenderung naik. Investasi rutin memanfaatkan tren ini.
Sekali lagi: ini adalah strategi yang terencana. Jumlah dana yang diinvestasikan setiap bulan (atau setiap periode tetap) sudah ditentukan sebelumnya, dan merupakan bagian dari rencana investasi jangka panjang.
Alternatif Average Down
Daripada average down (bahkan membangun posisi bertahap), cara lain yang umum digunakan adalah: tentukan satu titik entry, dan pasang stop loss. Jika pergerakan harga tidak sesuai ekspektasi, keluar dengan kerugian kecil.
Dengan metode ini, mungkin akan terjadi beberapa kerugian kecil berturut-turut, tapi hampir tidak ada risiko kerugian besar sekaligus.
Ini kembali ke konsep inti "risk/reward". Jika dalam banyak trading, profit dari trading yang menang > kerugian dari trading yang kalah, dan setiap kerugian dikontrol ketat dalam kisaran kecil, bahkan dengan win rate hanya 30%–40%, tetap bisa profit dalam jangka panjang.
Metode ini sangat umum dalam day trading dan swing trading. Trader biasanya entry di area di mana mereka memperkirakan harga akan mulai bergerak (misalnya ascending triangle atau pola kontraksi). Mereka memasang stop loss untuk mengantisipasi jika harga bergerak salah arah; sekaligus menetapkan strategi take profit, misalnya target harga atau trailing stop, untuk mengunci profit saat pergerakan menguntungkan.
Average Down dan Day Trading
Dalam day trading, saya sama sekali tidak melihat perlunya average down.
Inti day trading adalah masuk dan keluar dengan cepat. Jika menambah posisi secara spontan saat trading tidak berjalan baik, itu bukan hanya membuang waktu berharga, tapi juga memperbesar kerugian. Waktu tersebut bisa digunakan untuk mencari peluang berikutnya. Stop loss tepat waktu, segera alihkan perhatian ke peluang trading berikutnya, itulah cara yang seharusnya dilakukan day trader.
Dalam day trading, trader hanya memiliki jendela waktu yang sangat singkat untuk menunggu reversal. Jika memilih average down, harga sering kali tidak rebound tepat waktu, akhirnya harus keluar dengan stop loss, dan membuang waktu trading.
Saya lebih memilih: setelah entry, langsung pasang stop loss dan target harga. Jika trading gagal, segera stop loss dan keluar, lalu cari peluang baru.
Average Down dan Swing Trading
Dalam swing trading, average down harus dihindari.
Namun, membangun posisi bertahap dan mengurangi posisi bertahap diperbolehkan, karena keduanya dilakukan secara sistematis, posisi dan risiko dikelola dengan teratur.
Saya pribadi dalam swing trading lebih suka entry sekali. Jika setelah entry harga tidak bergerak sesuai ekspektasi, saya akan tegas stop loss, hanya kehilangan sebagian kecil dana, lalu lanjut mencari peluang trading berikutnya.
Saya biasanya mengontrol risiko per trading sekitar 1% dari total dana. Ini bukan berarti saya hanya menggunakan 1% dana untuk membuka posisi, melainkan jika trading ini merugi sampai total dana saya berkurang 1%, saya stop loss dan keluar.
Memasukkan Average Down ke dalam Trading Plan
Membangun posisi bertahap diperbolehkan, asalkan risikonya terkendali dan prosesnya direncanakan sebelumnya.
Sebelum eksekusi, harus menjawab beberapa pertanyaan kunci:
◎ Mengapa menggunakan membangun posisi bertahap?
◎ Bagaimana cara eksekusinya?
◎ Selama proses bertahap, bagaimana mengelola risiko?
◎ Sinyal apa yang menandakan bisa terus menambah posisi?
◎ Jika kamu berinvestasi di ETF indeks, maka tentukan: kapan kamu akan melakukan investasi rutin?
Trading plan adalah dokumen strategi tertulis yang jelas, yang mendefinisikan metode trading atau investasi kita. Setidaknya harus mencakup: kapan entry, kapan exit; bagaimana mengontrol risiko.
Strategi bisa berdasarkan riset kita sendiri, atau strategi orang lain yang kita pilih untuk diikuti.
Secara keseluruhan, average down bukan ide yang baik. Perilaku ini biasanya berarti kita sudah melanggar aturan trading kita sendiri, misalnya:
◎ Posisi terlalu besar;
◎ Menambah posisi secara spontan (entry tambahan yang tidak direncanakan);
◎ Mengabaikan aturan stop loss;
◎ Menerima risk/reward ratio yang buruk (Reward:Risk);
◎ Atau mengambil risiko berlebihan.
FAQ
Apa perbedaan "pyramiding" dengan "average down"?
Keduanya bergerak ke arah yang berlawanan: pyramiding menambah posisi saat pergerakan menguntungkan. Average down menambah posisi saat pergerakan merugikan.
Hampir tidak ada trader sukses yang melakukan average down, tapi banyak trader sukses yang menggunakan pyramiding.
Ketika trading menunjukkan tren profit, mereka secara bertahap menambah posisi, sekaligus menaikkan level stop loss, untuk memastikan meskipun posisi bertambah, risiko keseluruhan tetap sama atau bahkan lebih rendah.
Sebagian besar trader, saat harga terus naik, jumlah penambahan posisinya semakin berkurang.
Contoh: pembelian awal 100 lembar; saat harga naik sesuai ekspektasi, tambah 50 lembar; jika tren berlanjut, tambah 25 lembar lagi.
Metode ini membuat risiko selalu terkendali, sekaligus membuat posisi profit tumbuh seperti bola salju.
Disclaimer: Artikel ini hanya untuk tujuan edukasi, bukan merupakan saran investasi pribadi, juga bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual produk apa pun. Trading memiliki risiko, penggunaan leverage dapat menyebabkan kerugian melebihi modal.