Penulis artikel ini adalah trader senior Steve Burns, yang mulai berinvestasi setelah terpesona oleh pasar keuangan pada tahun 1993, dan mulai trading dengan akun miliknya sendiri pada tahun 1995. Steve telah berkecimpung di pasar keuangan selama 30 tahun hingga kini, dan sekarang menjadi trader sukses yang juga berdedikasi membantu trader lain memperbaiki psikologi trading dan profitabilitas mereka.
Strategi 50-day moving average (disingkat "MA") adalah menggunakan garis pada grafik ini untuk memfilter apakah harga saham, indeks, atau instrumen trading lainnya sedang berada dalam tren naik atau tren turun. Ketika harga berada di atas garis ini, biasnya bullish; ketika harga berada di bawah garis ini, biasnya bearish. Ketika harga berada di atas garis ini, trader sebaiknya mempertimbangkan posisi long; ketika harga berada di bawah garis ini, mereka sebaiknya mempertimbangkan untuk memegang cash atau short.
50-day MA adalah moving average paling populer kedua yang sering digunakan trader, setelah 200-day moving average. Banyak platform grafik secara default sudah menampilkan 50-day moving average.
Sinyal 50-Day Moving Average
Berikut adalah faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan saat trading menggunakan 50-day moving average:
1. Dibandingkan 50-day exponential moving average (EMA), 50-day simple moving average (MA) paling sering digunakan investor, sehingga titik beli di levelnya lebih bermakna.
2. 50-day exponential moving average bereaksi lebih cepat daripada 50-day simple moving average, karena dalam rumus perhitungannya memberikan bobot lebih besar pada harga terkini.
Sederhananya, 50-day exponential moving average mampu memfilter misleading dari pergerakan harga harian, dengan mengurangi lag data waktu dan menghindari informasi distorsi yang kurang relevan untuk mengurangi gangguan. Selain itu, ia dapat memperhalus harga untuk menunjukkan tren, memberi petunjuk sinyal yang mungkin kamu lewatkan. Exponential moving average juga sangat andal dan akurat dalam memprediksi perubahan harga pasar di masa depan.
Selain itu, 50-day simple moving average dihitung dengan menjumlahkan harga penutupan setiap hari selama 50 hari trading lalu dibagi 50 hari. Exponential moving average mirip dengan simple moving average, tetapi data terbaru memiliki bobot lebih besar.
Dengan asumsi faktor lain tetap sama, exponential moving average lebih sensitif terhadap perubahan harga dibandingkan simple moving average. Oleh karena itu, secara umum dianggap bahwa exponential moving average lebih cocok untuk trading jangka pendek. Namun hal ini juga sering menuai kritik, karena exponential moving average kadang menghasilkan sinyal breakout palsu, sehingga tidak cocok untuk menampilkan posisi entry dan exit pada grafik.
Dalam hasil backtest saya, menggabungkan 50-day EMA dengan moving average periode lebih pendek (seperti 10-day SMA) mampu menghasilkan sinyal crossover yang lebih baik.
50-day simple moving average adalah filter tren yang sangat baik untuk growth stock; ketika harga berada di atas garis ini, itu menunjukkan harga saham tersebut sedang mengumpulkan momentum untuk naik.
Dalam pasar bullish, sering kali ketika harga saham-saham unggulan dan ETF indeks untuk pertama kalinya turun kembali ke 50-day simple moving average, investor akan masuk untuk beli.
Harga yang menembus ke bawah 50-day simple moving average adalah sinyal peringatan bahwa setidaknya dalam jangka pendek tren naik mungkin akan segera berakhir.
50-day simple moving average yang bergerak naik pada grafik menunjukkan harga sedang dalam tren naik; sebaliknya, jika 50-day simple moving average menurun maka menunjukkan harga sedang dalam tren turun; dan jika 50-day simple moving average tetap datar maka menunjukkan range trading dalam rentang waktu tersebut.
Ketika 50-day moving average digunakan sebagai sinyal mandiri untuk backtest entry dan exit berdasarkan breakout harga di atas atau di bawahnya, jarang ada hasil backtest yang bagus, karena dalam kondisi volatilitas harga yang tinggi, performanya sebagai filter tren akan terpengaruh, dengan terlalu banyak sinyal palsu yang muncul berturut-turut menyebabkan kerugian beruntun. Oleh karena itu, lebih baik menggunakannya sebagai filter tren yang lebih besar.
Ketika menggunakan 50-day moving average sebagai indikator tren, sebaiknya gunakan sinyal lain untuk take profit, misalnya ketika grafik overbought di area RSI-70, itu adalah waktu yang tepat untuk mengunci profit; jangan menunggu harga turun terus kembali ke 50-day moving average.
Filter volatilitas lainnya, seperti Average True Range (ATR), juga dapat memberikan informasi untuk mengetahui kapan tidak cocok menggunakan 50-day moving average sebagai filter price action, karena rentang volatilitasnya yang lebar.
Sinyal Short dengan 50-Day Moving Average
Ketika 50-day moving average menjadi bagian dari pola top yang lebih besar pada grafik, ia juga bisa menjadi bagian dari strategi short. Berikut adalah dua contoh penggunaannya sebagai setup short.
Terakhir, sebuah puisi untuk 50-day MA:
50-day MA bagai benang sutra,
Menenun tarian mimpi pasar saham.
Membawa fluktuasi harga saham,
Mengungkapkan harapan para investor.
Ia mengalir diam-diam seiring waktu,
Menangkap naik turunnya tren.
Membimbing keputusan kita,
Menyertai pasang surut profit dan rugi kita.
Saat menembus golden cross,
Pertanda gelombang naik.
Saat menembus death cross,
Isyarat angin kencang penurunan.
50-day MA bagai mercusuar,
Menuntun arah langkah kita.
Moving average yang stabil memberi keyakinan,
Membuat kita berani melangkah di pasar.
50-day MA menyaksikan sejarah,
Mencatat pasang surut pasar saham.
Bergerak berirama dalam naik dan turun,
50-day MA membawa harapan manusia.