Dalam trading sehari-hari, saat kita melihat grafik saham, forex, atau futures, sering kali terasa seperti mencari profit itu mudah. Namun, banyak trader dan investor tidak memantau pergerakan harga secara real-time, melainkan hanya melihat grafik lima menit, jam, atau harian setelah kejadian. Meskipun melihat grafik setelah kejadian memang berguna, itu hanya menunjukkan beberapa titik data, bukan semua yang terjadi selama periode tersebut.
Jenis grafik yang umum, seperti OHLC (open, high, low, close) dan candlestick, kehilangan informasi di akhir periode waktu. Saat kandil harga terbentuk, ia bergerak dengan setiap transaksi (atau pada grafik forex, setiap perubahan quote). Tapi di akhir periode, kamu hanya bisa melihat harga open, high, low, dan close.
Trader yang tidak menyadari hilangnya informasi ini, ketika mereka hanya melakukan backtest pada kandil yang sudah selesai, mungkin kesulitan menerapkan strategi secara real-time. Atau strategi mereka mungkin berkinerja jauh di bawah hasil backtest saat diuji di akun real.
Kenapa saya tahu ini? Karena saya kadang terkena stop loss dalam trading real-time, padahal saat melihat grafik setelah kejadian, trade tersebut terlihat seperti pasti profit.
OHLC dan candlestick kehilangan informasi selama proses pembentukan
Grafik menyediakan data ringkasan untuk suatu periode, bukan detail yang terjadi selama periode tersebut. Saat sebuah kandil harga ditampilkan, sebagian besar data harga yang terjadi selama periode waktu itu sudah hilang, hanya menyisakan harga open, high, low, dan close untuk mewakili periode tersebut.
Dilihat setelah kejadian, satu kandil mungkin terasa seperti harga bergerak langsung dari open ke close, padahal sebenarnya antara open dan close bisa ada banyak pergerakan naik-turun.
Informasi yang hilang bisa mencakup breakout palsu, pergerakan bolak-balik yang cepat, atau kombinasi pergerakan apa pun yang terjadi di antara harga high, open, close, dan low pada kandil harga tersebut.
Dampak negatif mengandalkan data grafik historis
Banyak riset dan analisis dilakukan berdasarkan grafik historis. Backtest biasanya menggunakan price bar yang sudah selesai (lihat opsi lain di bawah). Tapi karena di dalam price bar terdapat banyak pergerakan harga, hal ini sering menimbulkan masalah yang mempengaruhi hasil trading di akun real:
1. Sering terkena stop loss
Trader mungkin sering terkena stop loss dan bertanya-tanya kenapa strategi berkinerja baik di backtest. Lalu harga bergerak ke arah yang mereka perkirakan. Strateginya sendiri mungkin valid, tapi tidak memperhitungkan pergerakan harga di dalam price bar. Trader sudah terkena stop loss sebelum pergerakan yang ingin mereka tangkap (dan validasi di backtest) terjadi.
2. Sulit mendapatkan harga yang diharapkan
Dalam trading real-time, harga entry dan exit yang diharapkan mungkin sulit tercapai. Harga bisa bergerak cepat, mungkin ada slippage yang tidak diperhitungkan. Grafik candlestick menunjukkan data ringkasan, tidak bisa mengungkap apakah ada gap likuiditas. Secara teori, sebuah transaksi mungkin hanya terjadi di harga open, high, low, atau close, sementara harga lain di dalam kandil mungkin tidak ada transaksi sama sekali. Tapi setelah kandil ditutup, orang biasanya berasumsi setiap harga di dalam kandil terjadi transaksi. Kenyataannya bisa iya, bisa juga tidak.
3. Pergerakan harga melebihi ekspektasi
Dalam trading real-time, harga bisa mengalami banyak pergerakan yang tidak diperkirakan trader, karena price bar yang sudah selesai biasanya membuat aset seperti saham terlihat hanya bergerak ke satu arah. Melihat harga naik-turun setelah entry, dan posisi yang bergantian antara rugi dan profit, adalah hal yang tidak bisa ditunjukkan oleh grafik historis. Faktor psikologis (seperti fear atau greed) akan muncul, yang bisa menyebabkan penyimpangan dari strategi.
4. Kesalahpahaman urutan harga
Jika sebuah kandil harga menunjukkan kenaikan (close lebih tinggi dari open), bukan berarti harga low terjadi sebelum harga high (wick kandil). Secara visual, kita ingin melihat pergerakan harga dalam urutan waktu, dan berasumsi informasi yang kita lihat tersusun dalam urutan tersebut. Tapi di pasar, urutan yang terlihat masuk akal secara visual mungkin bukan kenyataan yang terjadi secara real-time. Kita hanya tahu close terjadi setelah open, tapi kita tidak tahu mana yang terjadi lebih dulu antara high dan low. Kecuali kamu benar-benar tahu, jangan berasumsi.
Menggunakan data grafik historis untuk menyusun strategi (dan keterbatasannya)
Jika kamu menggunakan komputer atau software untuk backtest, unduh data tick aktual selama periode tertentu, dan jalankan backtest pada data tick tersebut, bukan pada data grafik yang sudah diringkas (seperti 1 menit, 5 menit, dll).
Data tick memperhitungkan setiap transaksi, bukan hanya harga open, close, high, dan low kandil. Ini akan memberitahu kamu berapa kali terkena stop loss (atau tidak terkena), dan seberapa sering harga menyentuh target.
Jika kamu melakukan backtest manual, yaitu melihat sendiri grafik historis, ingat poin-poin berikut:
1. Asumsi tentang stop loss
Ingat, ketika kita mungkin melakukan trading selama pembentukan suatu kandil, kita tidak tahu urutan yang sebenarnya terjadi. Jadi, asumsikan stop loss perlu ditempatkan di luar seluruh range kandil tersebut. Jika stop loss ditempatkan di dalam range kandil pemicu, maka ada kemungkinan terkena di dalam kandil tersebut. Pastikan kamu mempertimbangkan hal ini.
2. Masalah likuiditas dan slippage
Kecuali kamu mempelajari volume dan likuiditas aset (seperti bid-ask spread), kamu tidak bisa benar-benar memastikan apakah bisa entry di harga yang diharapkan. Kamu mungkin perlu mempertimbangkan slippage tertentu, atau karena harga bergerak terlalu cepat, melewatkan beberapa trade.
3. Tekanan psikologis trading di akun real: Dalam trading di akun real, terutama day trading, kamu mungkin akan terus memantau pergerakan trade setelah entry. Saat kita melihat grafik historis, rasa waktu itu hilang. Tapi dalam trading nyata, rasa waktu bisa membuat kita meragukan trade kita sendiri. Untuk setiap kandil harga, begitu trade dimulai, kamu harus menahan pergerakan harga (atau tinggalkan setelah order dipasang). Jika kamu perlu memantau atau mengelola trade sepanjang waktu saat trade berjalan, apakah strategi ini masih layak?
4. Analisis grafik historis dengan cermat
Ketika kamu melihat grafik historis, pastikan kamu teliti. Terutama jika kamu menghitung profit/loss dari setup trade sebelumnya. Jika harga terlihat mungkin pullback ke posisi stop loss kamu, asumsikan itu benar-benar terkena stop loss, atau beralih ke timeframe yang lebih rendah untuk konfirmasi. Lebih baik berasumsi skenario terburuk dan strategi tetap berkinerja baik, daripada berasumsi skenario terbaik tapi berkinerja buruk di trading nyata.
Jika suatu entry dan stop loss mungkin terpicu beberapa kali, pertimbangkan hal ini, atau beralih ke timeframe yang lebih rendah untuk konfirmasi. Jika tidak yakin, kamu perlu sedikit menyesuaikan kondisi pemicu untuk semua trade agar tidak membingungkan. Tapi pahami, tidak ada yang bisa menggantikan trading di akun real menggunakan data real-time. Profit sesungguhnya berasal dari trading di akun real, dan di situlah kita perlu menunjukkan kemampuan kita.
Kesimpulan
Yang terpenting, hindari berasumsi bahwa harga akan bergerak ke satu arah, bahkan jika suatu kandil terlihat demikian. Hampir dalam semua kasus, harga akan bergerak naik-turun di dalam kandil. Meskipun kadang terjadi pergerakan besar satu arah, berasumsi hal ini akan langsung terjadi saat kamu entry adalah sangat tidak mungkin dalam sebagian besar kasus.
Ketika kamu baru mulai trading, terutama jika kamu "terburu-buru entry", kamu akan memiliki banyak trade yang terkena stop loss sebelum harga bergerak ke arah yang kamu perkirakan.
Kamu akan merasa terkena stop loss tepat setelah entry, lalu menyaksikan harga bergerak ke arah yang kamu perkirakan tidak lama kemudian (sementara kamu sudah keluar). Inilah masalah yang dibahas di artikel ini. Di grafik historis, semuanya terlihat mudah. Tapi kamu perlu belajar trading secara selektif dan dengan pertimbangan yang matang. Kamu perlu bersabar menunggu sinyal pemicu harga yang tepat, yang berarti jangan bertindak terlalu awal. Ini butuh waktu untuk dipelajari, karena sebagian besar trader pemula takut melewatkan peluang bagus... sehingga mereka mengambil terlalu banyak peluang... termasuk banyak peluang buruk.
Ketika mereka melihat kembali grafik, mereka bertanya-tanya bagaimana bisa salah! Pergerakan harga terlihat jelas dan mudah ditangkap, tapi mereka rugi banyak. Grafik menyembunyikan sesuatu, dan trader yang impulsif menjadi korbannya. Semoga sekarang kamu paham kenapa ini terjadi, bahkan setelah kamu mempelajari banyak grafik historis.
Jika harga bergerak ke arah yang kamu perkirakan setelah banyak trade kamu, tapi kamu melewatkannya karena terkena stop loss, biasanya hanya butuh sedikit kesabaran untuk menangkap timing yang tepat.
Jika kamu selalu entry terlalu terlambat dan melewatkan peluang, itu masalah lain. Kamu mungkin tidak siap untuk trade yang akan dilakukan. Pertimbangkan untuk membuat anotasi pada pergerakan harga, sehingga kamu bisa tahu dengan jelas apa yang harus dilakukan, dan kapan melakukannya.
Disclaimer:Segala hal dalam artikel ini bukan merupakan saran investasi pribadi, dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset apa pun. Trading memiliki risiko, dapat menyebabkan kerugian besar, dan jika menggunakan leverage, kerugian bisa melebihi dana yang disetorkan.