Bapak dari analisis teknikal adalah Charles Dow, yang pada tahun 1884 menciptakan Indeks Dow Jones, dan hingga 42 tahun kemudian, indeks ini masih menjadi salah satu dari tiga indeks saham utama Amerika yang klasik. Setelah Charles Dow, para master analisis teknikal memang memiliki pencapaian di bidangnya masing-masing, namun yang mampu menciptakan alat analisis pasar yang diakui oleh seluruh masyarakat sangatlah langka.
Tren adalah raja, di mana tren yang dimaksud merujuk pada tren utama (primary trend) yang dikemukakan oleh Teori Dow. Tren utama berlangsung selama satu hingga beberapa tahun, di bawahnya terdapat tren koreksi sekunder dan fluktuasi harian. Tren koreksi sekunder adalah kesulitan terbesar yang membingungkan para trend trader. Jika tren koreksi sekunder berlangsung terlalu lama, atau pergerakan berlawanannya terlalu besar, akan menyebabkan banyak trend trader salah menilai bahwa titik balik telah tiba, sehingga mereka menutup posisi terlalu dini.
Memanfaatkan tren untuk profit, ada tiga kesulitan utama:
1. Menunggu Tren
Tren tidak akan selalu ada. Ketika tidak ada tren, kita harus belajar menunggu tren. Menunggu tampaknya adalah hal yang mudah — tidak melakukan apa-apa, cukup menunggu tren datang. Namun, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa hal yang paling tidak bisa ditoleransi orang adalah menunggu. Orang yang kurang sabar akan mencari segala cara untuk membuat dirinya sibuk, karena hanya dengan begitu mereka bisa menenangkan hasrat mereka terhadap trading. Seperti yang dikatakan Charlie Munger: menghasilkan uang besar bukan dari jual beli, tapi dari menunggu.
Ketika kamu memiliki cukup dana untuk trading, tren mungkin belum muncul; ketika kamu penuh semangat dan dorongan untuk trading, tren mungkin masih belum muncul; ketika kamu merasa telah menyempurnakan sistem trading yang hampir sempurna, tren mungkin tetap belum muncul. Suatu hari, tren muncul. Namun, kamu mungkin tidak memiliki cukup dana, atau tidak memiliki cukup semangat, atau tidak memiliki strategi yang andal. Ketidakcocokan antara tren dan kondisi pribadi ini bukanlah kejadian berprobabilitas kecil, melainkan drama yang berlangsung setiap hari.
2. Mengenali Tren
Meskipun kondisi pasar tidak sedang naik ya sedang turun, tidak bisa dikatakan bahwa tren itu entah bull market atau bear market. Tren harus bergantung pada perubahan kondisi makro pasar. Misalnya emas, bisa bertahan dalam bull market ketika ekspektasi penurunan suku bunga The Fed ada, dan juga bisa bertahan dalam bear market ketika ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed ada. Namun, ketika The Fed tidak memiliki kecenderungan penyesuaian kebijakan moneter, dan faktor-faktor lain tetap tidak berubah, emas meskipun ada naik turun, tidak ada yang disebut tren.
Begitu tren muncul, ia akan berlangsung selama beberapa tahun. Jika fundamental tidak berubah, tren akan segera berakhir dan tidak dapat membentuk tren utama. Jadi, menunggu tren terbentuk, selain menguji kesabaran, juga menguji kemampuan analisis makro. Banyak orang melihat tren secara sempit sebagai susunan moving average atau terbentuknya sinyal teknikal, dan sepenuhnya mengabaikan penelitian fundamental. Ini adalah kesalahan mendasar yang mudah menyebabkan melewatkan tren yang sebenarnya atau menganggap koreksi sekunder sebagai kedatangan tren utama.
3. Mengikuti Tren
Trading mengikuti tren berarti setelah mengidentifikasi tren utama, memegang posisi long atau short sesuai arah tren. Esensi mengikuti tren adalah memegang posisi — jika pasar mendukung, berarti memegang posisi profit; jika pasar tidak mendukung, berarti memegang posisi rugi. Ketika profit berkembang pesat, bisa memicu psikologi dalam diri seseorang untuk segera mengamankan profit demi kepastian; ketika rugi berkembang pesat, bisa memicu rasa takut dalam diri seseorang untuk "cut loss" sehingga memilih psikologi berjudi dengan menahan posisi.
Kesulitan lain dari memegang posisi mengikuti tren adalah timing exit. Trading mengikuti tren tidak seperti value investing ala Buffett yang memegang suatu instrumen selama bertahun-tahun atau puluhan tahun, yang tidak terlalu perlu memperhatikan timing exit. Trading mengikuti tren harus waspada terhadap timing exit, karena ini menyangkut apakah risk-reward ratio dapat berkembang secara efektif. Stop loss trend trader harus jelas lebih besar daripada day trading atau trading jangka pendek. Jika setelah menangkap satu putaran tren, tidak bisa memaksimalkan profit yang bisa diambil, akan menyebabkan risk-reward ratio tidak sesuai harapan. Dengan win rate yang rendah dalam trading mengikuti tren, daya rusak dari risk-reward ratio yang rendah sangatlah fatal.
Kesimpulan
Tren adalah raja. Selama kamu memahami cara menunggu tren, mengenali tren, dan mengikuti tren, kemungkinan besar kamu bisa berdiri di sisi para pemenang.