Ketika kamu masuk ke sebuah posisi trading, stop loss adalah alat keluar yang membantumu menentukan "kapan harus keluar dari trading", karena saat itu kamu sedang rugi.
Fungsi stop loss adalah mencegah kerugian kecil berkembang menjadi kerugian besar.
Ini adalah salah satu elemen inti terpenting dalam trading, karena penyebab utama trader tidak bisa profit dalam jangka panjang sering kali justru adalah "kerugian besar".
Semua trading kamu pada akhirnya hanya boleh menghasilkan salah satu dari empat kemungkinan berikut:
✔ Profit besar
✔ Profit kecil
✔ Break even (modal kembali)
✔ Rugi kecil
Tidak ada satu pun trading yang boleh berakhir dengan "kerugian besar"; dan stop loss adalah caramu menyingkirkan "kerugian besar" sepenuhnya dari sistem trading.
Level stop loss harus ditempatkan di posisi yang tepat: cukup jauh untuk menghindari tersapu oleh fluktuasi pasar normal di timeframe yang kamu tradingkan; namun cukup dekat untuk mencegah kerugian membesar menjadi "kerugian besar" yang didefinisikan dalam sistem trading kamu.
Tentu saja, ukuran posisi kamu dan jarak stop loss saling berkaitan.
Ukuran posisi kamu tidak boleh terlalu besar hingga meskipun stop loss tersentuh, tetap akan menyebabkan kerugian yang sangat besar.
Berikut adalah 5 strategi stop loss berdasarkan price action:
#1. Stop loss berdasarkan kegagalan support moving average kunci
Jika kamu sedang trading dalam tren naik, dan salah satu moving average kunci yang selama ini berfungsi sebagai support berhasil ditembus ke bawah, dan harga close di bawah moving average tersebut, maka kamu harus keluar.
#2. Stop loss berdasarkan persentase kerugian dari balance akun
Stop loss juga bisa ditetapkan berdasarkan persentase kerugian posisi terhadap balance.
Misalnya, jika kamu beli suatu instrumen, strategi exit kamu bisa menetapkan bahwa ketika harga turun lebih dari 5% dari harga entry, kamu stop loss dan keluar. Misalkan kamu beli di $100 (sekitar Rp1.600.000), maka stop loss kamu adalah di bawah $95 (sekitar Rp1.520.000).
#3. Time stop loss
Stop loss juga bisa berdasarkan waktu.
Misalnya, kamu beli saham AS di $100 (sekitar Rp1.600.000), merencanakan swing trading dengan target harga $110 (sekitar Rp1.760.000). Tapi setelah tiga minggu, harga saham masih saja bergerak di sekitar $101 (sekitar Rp1.616.000).
Maka salah satu strateginya adalah langsung keluar, membebaskan modal untuk peluang yang lebih baik. Karena harga gagal mencapai target profit kamu dalam waktu yang wajar.
Tentu saja, ini tetap bergantung pada parameter aturan sistem trading kamu sendiri.
#4. Stop loss berdasarkan indikator teknikal
Stop loss juga bisa ditetapkan berdasarkan indikator teknikal, misalnya RSI turun di bawah level kunci, harga jatuh di bawah lower band Bollinger Bands, dan MACD membentuk death cross (persilangan ke bawah). Indikator teknikal tidak hanya membantumu stop loss, tapi juga bisa digunakan untuk membangun risk-reward ratio yang wajar, dan menetapkan posisi exit berdasarkan itu.
#5. Stop loss berdasarkan volatilitas
Jika saham yang kamu pegang tiba-tiba mengalami pelebaran rentang pergerakan harian yang signifikan, atau harga bergerak melawan posisimu sebesar satu rentang harian penuh, maka kamu harus mempertimbangkan stop loss. Kamu bisa mengurangi ukuran posisi atau langsung keluar. Karena pelebaran volatilitas berarti risiko sedang meningkat.
ATR (Average True Range, rata-rata rentang sebenarnya) adalah salah satu cara untuk mengukur volatilitas ini.
Kesimpulan
Ada banyak cara untuk mengendalikan risiko downside, dan tujuan bersama mereka adalah membuatmu sadar bahwa karena trading sudah mulai merugi, maka posisi ini kemungkinan besar tidak akan berjalan sesuai harapan.
Sistem trading yang baik tidak hanya memiliki sinyal entry, tapi juga harus dilengkapi strategi exit yang matang, untuk memastikan kerugian selalu tetap dalam skala kecil.