Moving averagekarena perhitungannya yang sederhana dan fungsinya sebagai penunjuk tren, moving average menjadi salah satu indikator teknikal paling populer di pasar keuangan. Selain untuk mengidentifikasi tren, apakah kita bisa menggunakan moving average untuk trading lainnya?
Jawabannya tentu saja bisa! Pakar analisis volume-harga terkenal dari Amerika, Granville (Joseph Granville) mencetuskan "8 Hukum" yang berbasis pada moving average. Melalui logika bias, persilangan moving average, dan lainnya, ia membangun sebuah sistem trading moving average. "8 Hukum Granville" ini menjadi strategi investasi yang paling diperhatikan di bidang analisis teknikal, dan juga membuat moving average sepenuhnya menunjukkan inti dari "Teori Dow".
Mari kita kenali dulu sosok Granville. Selain menciptakan 8 Hukum Granville, ia juga adalah pendiri moving average, sekaligus orang pertama yang mengemukakan "teori volume-harga". Pada 6 Januari 1981, Granville memberikan peringatan kepada investor, meramalkan bahwa pasar saham akan segera crash, dan menyarankan untuk menjual semua saham. Benar saja, keesokan harinya indeks Dow Jones turun 4,2%, dan dalam setahun berikutnya, Dow turun 14%. Prediksi yang akurat ini membuat nama Granville melambung di dunia investasi.
8 Hukum Granville berpendapat bahwa fluktuasi harga memiliki pola tertentu, dan moving average mewakili arah tren. Oleh karena itu, ketika fluktuasi harga menyimpang dari tren, yaitu "penyimpangan harga dari moving average", maka ke depannya akan dikoreksi ke arah tren. Jadi, ketika terjadi penyimpangan, itulah sinyal beli dan jual yang signifikan.
Kita menyebut penyimpangan harga dari moving average sebagai bias (Bias), yaitu Bias = Price - MA, di mana Price adalah harga; MA adalah moving average. Semakin besar bias, semakin tinggi kemungkinan koreksi harga, tetapi di sisi lain, jika tren sedang berakselerasi, bias juga bisa diprediksi akan melebar. Jadi bias juga merupakan indikator yang perlu diperhatikan.
8 Hukum Granville menggunakan hubungan antara harga (harga saham, harga futures, atau harga valas, dll.) dengan moving average sebagai dasar sinyal beli dan jual. Strategi utamanya meliputi support, resistance, breakout, bias, fake breakout, dll. Melalui sinyal-sinyal ini, trader bisa mendapatkan referensi dalam operasionalnya.
Granville berpendapat bahwa fluktuasi harga saham memiliki pola tertentu, dan moving average mewakili arah pergerakan tren. 8 Hukum Granville merangkum delapan situasi berbeda sebagai dasar untuk entry dan exit:
① Breakout: Ketika moving average berangsur-angsur berubah dari tren turun menjadi konsolidasi horizontal atau naik, dan harga saham breakout ke atas melewati moving average dari bawah, ini bisa dianggap sebagai sinyal beli.
② Fake breakout: Harga saham turun menembus moving average, tetapi kemudian rebound kembali ke atas moving average, dan saat itu moving average masih menunjukkan tren naik, ini bisa dianggap sebagai sinyal beli.
③ Support: Ketika harga saham bergerak di atas moving average, meskipun harga saham terkoreksi turun tetapi tidak menembus moving average dan kembali rebound naik, ini bisa dianggap sebagai sinyal beli.
④ Rebound: Ketika harga saham turun tajam, tidak hanya menembus moving average, bahkan menyimpang jauh ke bawah moving average, dan harga saham mulai rebound naik mendekati moving average, ini bisa dianggap sebagai sinyal beli.
⑤ Breakdown: Ketika moving average berubah dari tren naik menjadi garis horizontal atau menunjukkan penurunan, dan harga saham turun menembus moving average dari atas, ini bisa dianggap sebagai sinyal jual.
⑥ Fake breakout: Ketika harga saham rebound menembus moving average, tetapi kemudian berbalik turun menembus moving average, dan saat itu moving average masih menunjukkan tren turun, ini bisa dianggap sebagai sinyal jual.
⑦ Resistance (tekanan balik): Ketika harga saham terus bergerak di bawah moving average, bahkan rebound harga saham tidak mampu menembus moving average, saat itu moving average menjadi resistance bagi harga saham, ini bisa dianggap sebagai sinyal jual.
⑧ Reversal: Ketika harga saham naik tajam, dan menyimpang sangat jauh ke atas moving average, kemudian harga saham berbalik turun mendekati moving average, ini bisa dianggap sebagai sinyal jual.
◔ 4 Inti Utama 8 Hukum Granville
1. Moving average naik jangan short, moving average turun jangan long.
2. Moving average itu sendiri memiliki sifat support resistance, mendorong kenaikan dan penurunan, sehingga moving average berguna untuk analisis long-short.
3. Susunan bullish dan susunan bearish harga adalah formasi kombinasi harga dengan moving average. Begitu arah susunan berbalik, strategi perlu diganti dan dilakukan operasi sebaliknya.
4. Golden cross dan death cross moving average adalah titik pertemuan biaya harga sebelumnya. Begitu terjadi persilangan, seringkali bisa membuat harga membentuk tren naik atau turun, dan memberikan peluang operasi searah tren.
◔ 4 Kelemahan Penerapan 8 Hukum Granville
1. Karena hukum Granville sangat bergantung pada operasi moving average, sedangkan moving average adalah jejak historis harga, maka sinyal yang muncul seringkali tertinggal dari harga, menciptakan jeda waktu.
2. Ketika harga terjebak dalam konsolidasi, biasanya akan muncul sinyal palsu.
3. Jika memilih moving average dengan periode lebih pendek, seperti MA5 atau MA10, maka jeda waktu sinyal akan berkurang, tetapi sinyal palsu akan lebih banyak.
4. Jika memilih moving average dengan periode lebih panjang, seperti MA120 atau MA200, maka sinyal yang didapat akan lebih signifikan dan efektif, tetapi akan ada jeda waktu, misalnya harga sudah naik atau turun sedikit terlebih dahulu, baru sinyal beli jual muncul.
◔ Pengaturan Parameter 8 Hukum Granville
Sebelumnya sudah disebutkan, menggunakan moving average periode lebih pendek (seperti MA10), kecepatan perubahannya lebih sensitif dibandingkan moving average periode lebih panjang. Sebaliknya, moving average periode panjang perubahannya lebih lambat dan stabil. Jadi, ketika harga saham breakout melewati moving average periode panjang dan pendek secara bersamaan, bisa dianggap sebagai sinyal beli pembalikan jangka pendek, lakukan aksi beli. Jika harga menembus ke bawah moving average periode pendek, bisa dianggap sebagai sinyal jual pembalikan jangka pendek, trader jangka pendek bahkan bisa melakukan operasi short.
Oleh karena itu, pemilihan periode moving average sangat penting. Pasti ada yang bertanya: parameter mana yang terbaik! Pertanyaan ini sangat bagus, karena ini juga pertanyaan yang selalu dicari setiap trader.
Di sini saya berikan jawaban standarnya: Tidak ada parameter periode yang paling bagus dan paling akurat, hanya ada periode yang paling cocok untuk diri sendiri.
Beberapa trader mungkin tipe day trading, maka parameter periode moving average tidak perlu diatur terlalu panjang, untuk mengantisipasi fluktuasi cepat yang dibutuhkan day trading. Atau jika trader tipe swing trading, maka parameter periode moving average tidak perlu diatur terlalu pendek, cukup untuk menilai tren jangka menengah pergerakan harga.
Temukan periode moving average yang cocok dengan komoditas yang sedang kamu trading, sesuaikan dengan logika operasional dan kebiasaanmu, baru bisa memastikan keandalan dan stabilitas sinyal beli jual.
Sebelum trader benar-benar mulai menggunakan 8 hukum ini untuk entry exit berdasarkan sinyal beli jual, sebaiknya terlebih dahulu menguji hasil dari berbagai komoditas dan berbagai periode, dalam hal akurasi dan win rate, setelah memiliki tingkat keyakinan yang cukup, baru penerapannya bisa lebih lancar.
◔ Contoh Penerapan Praktis 8 Hukum Granville
Saya yakin setelah mempelajari konten di atas, kamu sudah memahami 8 Hukum Granville.
8 Hukum Granville sangat bergantung pada moving average, oleh karena itu, tidak hanya bisa digunakan untuk saham, tetapi juga bisa digunakan di pasar futures, emas, minyak mentah, dan forex.
Dalam penerapan praktis, kita bisa menggabungkan faktor lain untuk memfilter fake breakout. Misalnya, mensyaratkan kandil harus breakout moving average dengan body panjang, atau dua kandil berturut-turut harga close-nya breakout moving average. Selain itu, kandil saat breakout perlu disertai volume yang membesar (berlaku untuk saham dan futures). Kita bahkan bisa menggunakan beberapa moving average, mengatur agar setelah kandil breakout beberapa moving average baru memilih exit. Metode-metode ini bisa efektif meningkatkan akurasi trading.
Parameter moving average perlu disesuaikan dengan sistem trading masing-masing. Sebenarnya, esensi semua moving average itu sama. Moving average jangka panjang tidak sensitif terhadap perubahan harga, mampu menangkap pergerakan yang lebih besar, tetapi bisa jadi malah menelan banyak floating profit. Sedangkan moving average jangka pendek lebih sensitif, bisa menangkap lebih banyak jumlah tren, tetapi frekuensi trading yang terlalu tinggi bisa mempengaruhi performa keseluruhan sistem. Jadi, pengaturan parameter moving average yang wajar sangat penting.
Dari indikator moving average ini, kita bisa lebih jauh mengeksplorasi indikator teknikal lainnya, seperti outer band Bollinger Bands dan parabola, dll. Indikator-indikator ini juga bisa digunakan sebagai titik exit trailing stop, membantu kita lebih baik mengelola risiko dan menangkap peluang trading.
Tiga Penggunaan Moving Average: Entry Searah Tren, Exit Take Profit, Kontra Tren Beli di Bawah
Penggunaan lanjutan moving average adalah menjadikannya sebagai kondisi trailing take profit. Misalnya, ketika moving average terus bergerak naik, jika harga tidak menembus ke bawah moving average, kita bisa terus memegang posisi. Hanya ketika harga menembus ke bawah moving average, baru pertimbangkan take profit. Metode ini bisa membantu kita mengunci profit dalam tren.
Moving average memiliki tiga penggunaan utama. Pertama, entry sesuai 8 Hukum Granville, yaitu beli ketika harga mendekati moving average, atau beli ketika harga mendekati moving average lalu muncul rebound. Kedua, moving average bisa digunakan sebagai dasar trailing take profit, misalnya saat long, setelah harga naik beberapa saat jika menembus ke bawah moving average maka exit. Ketiga, moving average juga bisa menjadi kondisi entry kontra tren, misalnya setelah pasar turun beberapa saat, ketika harga breakout moving average maka beli di bawah; atau setelah pasar naik beberapa saat, ketika harga menembus ke bawah moving average maka short. Ini berarti moving average yang sama dalam lingkungan pasar yang berbeda, cara berpikir yang berbeda akan menghasilkan efek penerapan yang berbeda.
Kesimpulan
Sistem trading yang dirancang dengan moving average sebagai indikator utama biasanya memiliki win rate rendah dan drawdown tinggi, jadi saya sarankan terutama gunakan moving average untuk menentukan tren pasar. Bisa menggunakan pola struktur B dan C untuk menangkap posisi entry, dan tidak disarankan menggunakan pola struktur A serta metode turunannya untuk entry, guna menghindari risiko potensial. Pada saat yang sama, sebisa mungkin hindari menggunakan pola struktur D untuk entry. Moving average juga bisa digunakan sebagai metode exit trailing stop, untuk membantu mengelola risiko.
8 Hukum Granville memiliki definisi parameter moving average yang berbeda-beda. Jangka pendek bisa menggunakan MA10 sebagai parameter, jangka menengah-panjang bisa menggunakan MA22, MA65 sebagai parameter. Moving average sebenarnya adalah biaya rata-rata pemegang harga. 8 Hukum Granville adalah hubungan timbal balik antara harga dengan biaya yang dipegang mayoritas orang, menggunakan perubahannya sebagai dasar beli jual.
Selain mengatur parameter moving average secara bebas, kamu juga bisa memanfaatkan periode moving average harian, mingguan, bulanan, dll. di software trading untuk menentukan waktu beli jual. Dalam penerapannya, jika ingin sangat akurat, harus memilih periode moving average yang tepat untuk diterapkan, dan dikombinasikan dengan teori gelombang untuk operasional, barulah bisa menangkap fluktuasi harga secara presisi.