Umumnya, harga pasar berada dalam fase konsolidasi range selama 55%-70% waktu, dan pasar hanya berada dalam tren yang jelas selama 30%-45% waktu.
Ketika pasar sedang konsolidasi range, kita semua mengharapkan akan muncul tren "impulsif" setelah pergerakan range tersebut, dan setiap trader berharap bisa masuk ke pasar saat tren baru dimulai untuk mendapatkan return trading yang besar. Oleh karena itu, strategi breakout dengan probabilitas tinggi menjadi metode trading yang terus dieksplorasi oleh para trader.
Saat trading breakout, tujuan trader adalah mengidentifikasi tren dan memperhatikan momen ketika harga breakout dari tren tersebut. Breakout trading begitu menarik karena menandai dimulainya tren baru, trader bisa segera naik ke kereta cepat tren baru hingga tren berakhir. Karena bisa masuk ke tren baru lebih awal, trader memiliki peluang lebih besar untuk menangkap pergerakan harga utama, dan peningkatan volatilitas pada saat itu menjadi indikator positif bagi trader yang bisa mengantisipasi perubahan tren.
Apa itu Breakout?
Breakout adalah sinyal trading yang kuat sebelum pergerakan "impulsif" pasar.
Ini merujuk pada harga yang menembus level support atau resistance apa pun. Breakout dari channel penting ini akan membawa pergerakan harga yang besar dan tren baru. Ini seperti home run dalam pertandingan baseball yang begitu memukau.
Breakout harga berasal dari:
1. High atau low dari kandil sebelumnya (breakout support dan resistance)
2. Swing high atau swing low terbaru (support dan resistance jangka pendek)
3. Support dan resistance utama
4. Trendline atau moving average
Breakout terjadi ketika harga bergerak ke luar area support dan resistance yang telah ditentukan disertai dengan peningkatan volume; area-area ini bisa bersifat horizontal atau diagonal (trendline) atau campuran keduanya (pola triangle).
Trader breakout mencari posisi long setelah harga breakout resistance; begitu pula, mereka akan masuk posisi short setelah harga menembus support. Breakout menyebabkan peningkatan volume, yang menjadikannya "checkpoint" yang layak diperhatikan, tidak hanya berharga untuk trading saat ini, tetapi juga sangat penting sebagai referensi di masa depan.
Namun, tidak semua prediksi akan benar; oleh karena itu, meskipun breakout trading memiliki kesamaan tertentu, di pasar juga terdapat "fake breakout", yaitu ketika tampaknya harga sudah breakout dari tren, tetapi ternyata harga berbalik kembali ke range semula, menipu mereka yang mencoba masuk pasar lebih awal untuk mengalahkan trader lain.
Apa itu Fake Breakout?
Fake breakout (juga disebut "false breakout" atau "fakeout") merujuk pada situasi di mana harga breakout dari area support dan resistance yang telah ditentukan, kemudian dengan cepat berbalik kembali ke area tersebut, menyebabkan trader mengalami rugi.
Logika dasar fake breakout adalah pasar melalui manipulasi tertentu membuat harga tampak akan breakout, sehingga memancing trader pemula untuk trading fake breakout tersebut. Ada dua jenis fake breakout:
◎ Bull trap —— Ketika harga breakout dari resistance kunci kemudian pullback kembali ke dalam channel.
◎ Bear trap —— Ketika harga menembus support kunci kemudian kembali lagi ke dalam channel.
Secara umum, mengidentifikasi fake breakout memerlukan pengalaman yang terakumulasi melalui analisis price action.
Mengidentifikasi Breakout dan Fake Breakout
Perbedaan terbesar antara breakout dan fake breakout adalah volume yang terlibat; saat melakukan analisis teknikal, kamu bisa melihat volume di bagian bawah grafik. Jika volume pada titik breakout meningkat secara signifikan, maka itu adalah sinyal breakout yang valid; jika tidak, kamu harus waspada terhadap kemungkinan sinyal baru. Untuk konfirmasi, kamu bisa memeriksa volume pada timeframe yang lebih rendah untuk memverifikasi apakah ada perubahan volume yang signifikan.
Konfirmasi Breakout
Cara terbaik untuk mengonfirmasi kekuatan breakout adalah melihat apakah support telah berubah menjadi resistance (pada bearish breakout), atau resistance telah berubah menjadi support (pada bullish breakout); ini berarti harga sudah breakout dari area tersebut dan tidak akan berbalik kembali.
Untuk mendapatkan konfirmasi ini, trader biasanya menunggu "retest", yaitu harga pullback ke level support atau resistance yang baru saja di-breakout; namun, ketika harga mencapai level support atau resistance tersebut, harga akan terus bergerak naik disertai dengan peningkatan volume; ini mengonfirmasi kekuatan tren baru, serta level support/resistance yang baru berbalik fungsi.
Praktik Aman dalam Breakout Trading
Meskipun breakout trading dianggap sebagai strategi "risiko rendah" karena hasilnya biasanya bisa terlihat lebih awal, tetap perlu berhati-hati, dengan cara sebagai berikut:
1. Gunakan zona support dan resistance yang kuat: Saat melakukan analisis teknikal, mencari level support dan resistance yang kuat sangatlah penting; sebagai aturan praktis, semakin kuat level support/resistance, biasanya semakin baik hasil analisisnya.
2. Tunggu konfirmasi: Ketika kamu melihat aksi breakout disertai dengan peningkatan volume yang sesuai, jangan terburu-buru "melompat" ke trading, karena ini bisa menyebabkan keputusan yang salah; lebih baik tunggu beberapa kandil untuk konfirmasi, atau bahkan lebih baik lagi menunggu konfirmasi retest, kembali ke level support/resistance yang baru saja di-breakout, untuk menunjukkan sinyal analisis yang lebih kuat.
3. Pasang stop loss: Baik kamu masuk trading lebih awal atau lebih lambat, memasang stop loss sangat penting, karena bahkan jika analisismu sempurna, bisa saja dirusak oleh laporan fundamental yang tiba-tiba. Jika kamu masuk trading segera setelah breakout, stop loss harus dipasang sedikit di bawah level resistance (atau sedikit di atas level support), sehingga saat retest kamu tidak akan terkena stop loss.
Cara Mengidentifikasi Fake Breakout
Kita kembali ke topik "fake breakout". Mengidentifikasi breakout tidaklah mudah, tetapi ada beberapa metode yang bisa membantumu menghindari jebakan fake breakout.
1. Bandingkan timeframe
Pertama, timeframe yang kamu gunakan untuk menganalisis pasar sangat penting untuk mengidentifikasi validitas breakout.
Timeframe yang lebih kecil (seperti M1, M5, M15, M30) tidak cocok untuk mengidentifikasi atau trading fake breakout, karena pergerakan harga dalam timeframe tersebut terlalu berisik. Saya merekomendasikan penggunaan timeframe yang lebih tinggi (seperti H1, H4, D, W) untuk mengidentifikasi breakout, karena dalam arah tren, fake breakout lebih mudah diidentifikasi.
Secara teknis, jika kamu menemukan breakout pada grafik H1, kamu bisa membandingkannya dengan grafik H4, daily, atau weekly untuk mengonfirmasi tren utama.
Jika pada grafik timeframe yang lebih kecil harga breakout, tetapi pada grafik timeframe yang lebih panjang tidak breakout, ini bisa dianggap sebagai fake breakout.
Aturan 3%
Sederhananya, aturan ini adalah menunggu harga breakout dari level support/resistance, kemudian terus bergerak naik atau turun sebesar 3%. Ini memerlukan kesabaran tertentu, karena kamu perlu mengamati pasar untuk beberapa waktu guna mengonfirmasi apakah breakout yang sebenarnya telah terbentuk. Keuntungan dari aturan ini adalah bisa menghindarkanmu dari rugi akibat fake breakout.
Fake breakout sering terjadi di pasar forex, futures, dan saham, tetapi kemampuan untuk mengidentifikasi atau menemukannya akan membantumu menghindari rugi sebagai trader.
Keunggulan strategi breakout trading:
Breakout trading memiliki beberapa keunggulan. Misalnya:
1. Dorongan tren —— Trading breakout memungkinkanmu masuk trading dengan dorongan tren, disertai momentum.
2. Menangkap tren besar —— Jika kamu trading pullback, terkadang pullback mungkin tidak akan pernah datang. Tetapi dengan strategi breakout, kamu tidak perlu khawatir ketinggalan pergerakan pasar berikutnya.
Kelemahan strategi breakout trading:
1. Fake breakout atau jebakan
Kapan harus menghindari trading breakout?
1. Ketika pasar jauh dari support/resistance (S/R), jangan melakukan breakout trading. Apakah ada hambatan di atas atau di bawah yang mungkin menghalangi harga naik atau turun?
2. Ketika tidak ada trading range yang ketat (konsolidasi) sebelum breakout, jangan melakukan breakout trading.
3. Ketika arah breakout berlawanan dengan tren dominan, jangan melakukan breakout trading.
Kesimpulan
Breakout trading bergantung pada volatilitas pasar, terutama ketika harga breakout dari zona support atau resistance kunci, disertai dengan peningkatan volume. Meskipun volatilitas membawa peluang profit yang cepat, tetapi juga bisa memicu pergerakan harga yang drastis, menyebabkan penyebaran panik dan keserakahan. Oleh karena itu, saat melakukan breakout trading, tetap tenang dan disiplin menjalankan trading plan sangatlah penting. Trader perlu mengikuti kerangka analisis yang telah ditetapkan sebelumnya, menghindari keputusan emosional, dan ketika pergerakan pasar tidak sesuai harapan, mampu keluar dengan tegas untuk melindungi modalnya.