Trading yang profitable dan konsisten kuncinya adalah menyeimbangkan win rate dengan risk-reward ratio. Berikut cara mencapainya.
Saya sendiri menggunakan berbagai strategi trading: ada yang win rate-nya tinggi, ada yang rendah; ada yang punya risk-reward ratio tinggi, ada juga yang rendah.
Win rate adalah jumlah trade yang kamu menangkan, sebagai persentase dari total trade. Misalnya 50%, artinya dari setiap 10 trade, 5 menang, atau dari setiap 100 trade, 50 menang. Dengan kata lain, 50% trade menghasilkan profit.
Banyak trader fokus pada meningkatkan win rate, mereka ingin sering benar. Tapi risk-reward ratio (R:R) sama pentingnya. R:R mengukur berapa banyak yang kamu hasilkan dari trade profit dibandingkan berapa banyak yang kamu rugi dari trade loss.
Contohnya, jika risiko maksimal per trade adalah $100 (sekitar Rp1.600.000), tapi saat profit kamu bisa menghasilkan $500 (sekitar Rp8.000.000), meskipun win rate-mu tidak tinggi, kamu tetap bisa profit karena jumlah profit per trade jauh lebih besar daripada kerugian per trade.
Sebaliknya, jika kamu rugi $1.000 (sekitar Rp16.000.000) per trade tapi hanya bisa profit $150 (sekitar Rp2.400.000), maka akunmu hampir mustahil tumbuh dalam jangka panjang, karena kamu harus menang 9 dari setiap 10 trade hanya untuk sekadar break even.
Saya menggunakan format reward:risk daripada "risk/reward" yang lebih umum, karena dengan cara ini lebih intuitif menggunakan angka aktual. Contoh: 2:1, 1.5:1, 3:1, atau bisa langsung bilang reward-nya 3 kali risk. Kalau pakai format "risk/reward", hasilnya jadi pecahan: misalnya reward 3 kali risk, maka risk/reward-nya adalah 1/3 atau 0.3333. Saya lebih suka pakai format "reward:risk".
Memahami Risk-Reward Ratio dalam Trading
Rasio reward terhadap risk adalah fondasi trading yang baik. Risk-reward ratio menunjukkan proporsi profit terhadap risiko dalam sebuah trade, bisa untuk satu trade individual maupun performa keseluruhan dari banyak trade. Contoh: 3:1 berarti profit 3 kali lipat dari risk; 2:1 berarti profit 2 kali lipat dari risk.
Risk-reward ratio dicapai melalui kontrol risk dan penetapan target profit. Ketika risk-reward ratio-mu tinggi, kamu bisa profit meskipun win rate rendah; sebaliknya ketika risk-reward ratio rendah, kamu harus punya win rate yang lebih tinggi untuk bisa profit.
Contoh:
2:1 → win rate 40%+ sudah bisa profit
3:1 → win rate 30%+ sudah bisa profit
5:1 → win rate 20%+ sudah bisa profit
10:1 → win rate hanya perlu 10%+ untuk profit
Jangan trading hanya berdasarkan risk-reward ratio yang kita inginkan secara subjektif! Karakteristik pergerakan harga atau strategi trading (berdasarkan pengujian trade yang ekstensif) adalah kunci yang menentukan apakah trade tersebut bisa mencapai risk-reward ratio tertentu.
Contoh:
Seorang trader menetapkan stop loss 10% di bawah harga entry, ingin menetapkan risk-reward ratio 3:1, lalu berencana take profit saat harga naik 30%. Cara ini mungkin berhasil, tapi tidak didasarkan pada volatilitas aktual aset tersebut. Rasio R:R ini hanya ditetapkan secara sembarangan.
Sebaliknya, kamu harus mempelajari karakteristik volatilitas tipikal suatu aset, memahami seberapa jauh biasanya harga bergerak sebelum pullback. Pertimbangkan berapa lama kamu ingin memegang trade tersebut, lalu berdasarkan informasi itu tentukan target profit yang wajar.
Contoh: suatu saham rata-rata naik 15% lalu biasanya masuk fase sideways panjang atau mengalami pullback. Maka risk-reward ratio yang feasible untuk trade ini mungkin 15%/10% = 1.5. Kalau kamu menetapkan target 30%, kecuali kamu hold posisi sangat lama, target itu kemungkinan besar tidak akan tercapai.
Inilah cara membedakan trade yang bagus dengan trade yang biasa-biasa saja atau bahkan buruk.
Untuk strategi day trading forex 1 menit saya sendiri, risk-reward ratio 2.5:1 bekerja dengan baik. Tapi rasio ini mungkin tidak cocok untuk timeframe lain atau strategi lain.
Sedangkan ketika saya swing trading saham, saya hanya mengambil trade yang secara wajar berpotensi mencapai minimal 3 kali risk-reward.
Win Rate Trading dan Rata-rata Risk-Reward Ratio
Di setiap trade, saya selalu menentukan entry point, posisi stop loss, dan target profit, sehingga saya bisa menghitung estimasi risk-reward ratio (R:R) trade tersebut.
Setelah banyak trade, saya akan mendapatkan rata-rata risk-reward ratio dan rata-rata win rate. Yang benar-benar penting adalah performa rata-rata jangka panjang ini—berdasarkan trade yang sudah kamu close.
Kalau kamu selalu mengejar risk-reward ratio super tinggi 20:1 di setiap trade, tapi harga tidak pernah menyentuh targetmu, pada akhirnya kamu hanya akan menumpuk kerugian tanpa profit nyata.
Kamu harus benar-benar mencapai target profit tersebut agar profit itu bermakna.
Setiap trade itu penting—kita harus berusaha semaksimal mungkin—tapi juga harus berpikir: bagaimana performa keseluruhan strategi ini setelah banyak trade?
Kamu bisa win rate tinggi + risk-reward rendah, atau win rate rendah + risk-reward tinggi
Kebanyakan orang mengira hanya dengan memprediksi arah pasar secara akurat baru bisa menghasilkan uang. Padahal tidak demikian.
Anggap trading sebagai permainan matematika. Melalui kombinasi win rate dan risk-reward ratio, kamu bisa menghitung: keseimbangan seperti apa yang dibutuhkan dalam strategimu untuk mencapai profit.
Meskipun banyak loss, selama trade profit-mu cukup besar, kamu tetap bisa menghasilkan uang. Tentu saja, loss itu berdampak psikologis, terutama kalau kamu ingin "selalu benar". Tapi kalau tujuanmu sebenarnya adalah menghasilkan uang, maka kamu harus belajar menerima: loss adalah bagian dari trading.
Saya melihat masalah ini seperti ini:
Kamu bisa saja di akun $20.000 (sekitar Rp320.000.000), dengan win rate 33% dan risk-reward ratio 5:1, menghasilkan $6.000 (sekitar Rp96.000.000) per bulan. Kamu hanya perlu melakukan 30 trade dalam sebulan di akun tersebut. Berdasarkan statistik, kamu akan rugi di 20 trade sebesar $200 (sekitar Rp3.200.000), yaitu risk 1% dari modal akun per trade. Sedangkan di 10 trade lainnya, rata-rata profit $1.000 (sekitar Rp16.000.000) per trade (risk-reward ratio 5:1). Profit dan loss ini tersebar secara acak sepanjang bulan. Lebih hebatnya lagi, trading tidak memakan banyak waktu, "pekerjaan" ini hanya butuh beberapa jam per minggu.
Perhitungannya:
◔ 20 loss X -$200 = -$4.000
◔ 10 profit X $1.000 = +$10.000
◔ Total profit = +$6.000
Kalau kamu ingin penghasilan lebih tinggi, setelah kamu membuktikan kemampuan profit yang konsisten, kamu bisa trading dengan modal yang lebih besar.
Ketika melihat trading dengan cara ini, semuanya terlihat sangat sederhana. Cukup percaya pada statistikmu, yang didasarkan pada performa ratusan trade sebelumnya dari suatu strategi.
Tapi ketika kita benar-benar mulai trading, kita mungkin punya pikiran seperti ini:
"Kalau saya bisa mengurangi beberapa loss, bukankah saya akan profit lebih banyak?"
"Saya tidak mau rugi, trade yang perasaannya tidak enak ini saya skip saja."
"Saya baru loss 4 kali berturut-turut, saya tidak tahan loss sekali lagi, trade berikutnya saya skip."
Semua pikiran ini mengabaikan satu fakta: kita perlu menerima trade yang loss untuk bisa mencapai profit bulanan. Jadi, kita menyimpang dari fokus. Kita membutuhkan 20 loss itu untuk menemukan 10 trade profit yang menghasilkan keuntungan signifikan. Keduanya tidak bisa dipisahkan.
Contoh ini menunjukkan: meskipun win rate sangat rendah, tetap bisa mendapatkan hasil yang sangat mengesankan. Trader ini hanya menang 33% trade per bulan, tapi punya return bulanan yang luar biasa.
Trader lain juga bisa menghasilkan $6.000 per bulan di akun $20.000, tapi dengan cara yang sama sekali berbeda:
Dia punya win rate 60%, menggunakan risk-reward ratio 2.5:1, juga melakukan 30 trade per bulan.
◔ 12 loss X -$200 = -$2.400
◔ 18 profit X $500 = +$9.000
◔ Total profit = +$6.600
Statistik bisa disesuaikan dengan berbagai cara untuk menampilkan skenario trading yang berbeda. Tidak ada cara yang mutlak lebih baik dari yang lain, tapi kalau win rate-mu rendah, kamu butuh risk-reward ratio yang lebih tinggi; sedangkan kalau win rate-mu tinggi, risk-reward ratio bisa relatif lebih rendah.
Strategi win rate tinggi dengan risk-reward ratio rendah biasanya lebih populer di kalangan umum, karena meskipun profit per trade kecil, profit yang sering membuat psikologis lebih ringan dan fluktuasi emosi lebih kecil.
Tapi jangan salah paham, ini bukan berarti tradingnya lebih mudah. Untuk bisa konsisten menang 60% trade dengan risk-reward ratio ≥ 1:1, sebenarnya sangat sulit. Faktanya, sebagian besar trader sukses punya win rate di bawah 50%.
Sedangkan mereka yang mengklaim win rate 90% sering kali akhirnya blow up, karena mereka sering hanya profit kecil, tapi satu atau dua loss besar saja bisa menghabiskan akun.
Tingkat kesulitan mencoba profit sering melalui win rate tinggi sebanding dengan tingkat kesulitan menahan lebih banyak loss untuk mendapatkan beberapa trade dengan risk-reward ratio tinggi (yang akhirnya menghasilkan profit keseluruhan). Kuncinya adalah, kombinasi strategi yang paling cocok untukmu itulah solusi terbaik. Kamu perlu menemukan cara yang membuatmu paling nyaman—dinilai berdasarkan perasaan saat trading sebenarnya (stres lebih kecil, kepercayaan diri lebih besar, dll), bukan hanya berdasarkan preferensi subjektif.
Masalah Terbesar yang Dihadapi Orang dalam Risk-Reward Ratio dan Win Rate
Salah satu masalah terbesar yang dihadapi sebagian trader adalah—berapa pun target harganya, mereka tidak bisa menahan posisi sampai target tercapai.
Masalah ini biasanya semakin parah ketika risk-reward ratio semakin besar. Untuk menahan sebuah trade sampai target 10:1, bagi sebagian orang adalah hal yang sangat sulit (meskipun bagi yang lain mungkin justru mengasyikkan).
Mereka yang sulit menahan trade profit sering "melompat kapal" sebelum target tercapai. Begitu trade mulai profit, mereka takut kehilangan profit kecil itu, lalu buru-buru close posisi, sehingga melewatkan potensi profit yang lebih besar. Tapi kalau kamu membiarkan trade loss terus berjalan, sementara selalu take profit terlalu dini, maka profit-mu akan perlahan menguap. Kalau kamu bisa cepat take profit dan cepat stop loss, mungkin masih bisa bertahan, asalkan rata-rata profit-mu lebih besar dari rata-rata loss-mu. Tapi kalau begitu, kenapa tidak dari awal saja menetapkan stop loss dan target yang lebih kecil?
Pikirkan kamu tipe trader yang mana. Kamu lebih cenderung ingin punya trade profit besar yang bisa kamu tunggu hasilnya, atau lebih suka mendapatkan profit kecil secara sering? Keduanya tidak ada yang lebih baik atau buruk, tapi trading yang bertentangan dengan sifat alami kamu adalah kesalahan, dan hanya akan membawa frustrasi, bahkan kegagalan. Kenali dirimu, lalu bangun strategi di sekitar karakteristikmu, itulah kuncinya.
Ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan: kamu harus menerima trade loss untuk bisa menangkap peluang yang benar-benar profit. Profit dari trade profit biasanya lebih besar dari satu loss (dengan asumsi risk-reward ratio-mu di atas 1:1), jadi kalau kamu mencoba "melewati" trade loss, tapi tanpa sengaja melewatkan satu big winner, itu akan sangat menyakitkan. Kamu mungkin menghindari loss $400 (sekitar Rp6.400.000), tapi melewatkan profit $2.000 (sekitar Rp32.000.000) (rasio 5:1), atau melepaskan profit $800 (sekitar Rp12.800.000) (rasio 2:1)—itu tidak worth it!
Mencoba menghindari loss mungkin adalah masalah terbesar yang dihadapi banyak trader. Loss tidak hanya mempengaruhi emosi kita, tapi juga menggerus modal kita, sehingga kita punya motivasi kuat untuk menghindarinya. Tapi izinkan saya mengubah sudut pandang dengan sebuah analogi untuk membantumu memahami masalah ini kembali:
Misalkan saya mempekerjakanmu untuk menjalankan strategi trading saya. Saya akan memberitahu semua aturan trading, dan yang perlu kamu lakukan hanyalah mengikuti aturan tersebut. Kamu bukan melakukan trading mandiri, hanya menjalankan instruksi dan strategi saya, seperti merakit furnitur IKEA. Selama kamu mengikuti aturan, saya akan membayarmu $10.000 (sekitar Rp160.000.000) per bulan.
$10.000 adalah bayaran maksimal yang bersedia saya bayarkan, karena itulah yang bisa dihasilkan strategi ini per bulan dengan ukuran modal yang saya alokasikan untukmu.
Tapi setiap kali kamu membuat kesalahan, saya akan memotong $1.000 (sekitar Rp16.000.000) dari gajimu. Kesalahan tersebut meliputi: melakukan trade di luar strategi, close posisi terlalu dini, entry terlalu awal, melewatkan trade yang valid, ukuran posisi yang salah, tidak memasang stop loss, menahan posisi melebihi yang ditentukan strategi, baik itu loss maupun profit, dll. Kalau kamu membuat 10 kesalahan seperti ini dalam sebulan—penghasilanmu akan nol.
Apakah kamu mau menerima pekerjaan ini? Hanya perlu menjalankan 30 trade per bulan? Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjalankan 30 trade itu dengan benar, dan kamu bisa mendapatkan $10.000? Kamu bahkan bisa mengerjakannya di waktu luang! Menurutmu apakah ini lebih mudah daripada trading sendiri?
Inilah trading! Inilah pekerjaanmu sebagai trader! Tapi atasanmu bukan saya, melainkan dirimu sendiri dan strategi trading-mu, dan yang benar-benar memotong gajimu adalah pasar. Mengurangi kesalahan (yaitu penyimpangan antara perilakumu dan strategi) adalah cara paling langsung untuk mulai menghasilkan penghasilan yang signifikan. Tapi kenyataannya, sangat sedikit orang yang mencatat kesalahan mereka dan berusaha memperbaikinya. Sebaliknya, mereka hanya mengganti strategi baru, lalu terus membuat kesalahan yang sama.
Strategi dan modalmu menentukan "gaji"-mu—yaitu potensi profit-mu. **Jangan mencoba menghasilkan profit melebihi "gaji" dengan menyimpang dari strategi.** Kalau kamu ingin menaikkan gaji, kembangkan strategi yang lebih baik atau lebih banyak strategi; atau setelah kamu membuktikan kemampuan profit yang konsisten, tambah modal trading-mu.
Inilah kehidupan nyatamu sebagai trader—semoga gambaran ini membuatmu berpikir tentang trading dari sudut pandang baru, dan membantumu lebih teguh dalam mengikuti strategi.
Patuhi aturan dan strategi trading-mu, ambil gaji yang menjadi hakmu, jangan buang sia-sia karena kesalahan.
Strategi Menentukan Rata-rata Win Rate dan Risk-Reward Ratio
Strategimu menentukan win rate dan risk-reward ratio (R:R)-mu. Tapi kamu bisa menyusun strategi sesuai preferensi dan tujuanmu.
Setelah kamu memahami konsep position sizing, kamu bisa memanfaatkan pergerakan harga yang relatif kecil untuk menciptakan risk-reward ratio yang besar.
Kamu tidak perlu menggunakan risk-reward ratio yang sama di setiap trade. Kamu bisa membiarkan pasar yang menentukan (saya akan jelaskan nanti), tapi dengan syarat hanya trading ketika risk-reward ratio menguntungkan (di atas 1:1). Ngomong-ngomong, inilah alasan kamu tidak boleh trading binary option. Menang 70% dari jumlah taruhan terdengar menggiurkan, tapi orang sering lupa bahwa mereka mempertaruhkan 100% dari jumlah taruhan. Kamu menang lebih sedikit dari yang kamu kalahkan (0.7:1), yang justru kebalikan dari yang kamu inginkan. Bahkan di blackjack, odds menang satu tangan adalah 1:1!
Sebagai contoh, sebagai swing trader, kamu mungkin melihat harga sedang mendekati bagian atas dari expanded range di chart daily. Lalu kamu beralih ke chart hourly, kemudian 15 menit, untuk melihat apakah harga mulai menunjukkan tanda-tanda reversal ke bawah.
Kamu masuk short, dan menetapkan stop loss 50 pips/sen di atas entry point, sedikit di atas swing high terbaru. Sekaligus menetapkan target 375 pips/$3.75 di bawah, dekat bagian bawah expanded range.
Ini adalah trade dengan risk-reward ratio hampir 8:1, disingkat 8R. Target ini tidak berlebihan, tapi didasarkan pada pergerakan aktual aset tersebut.
Pertanyaan umum: "Tapi bagaimana saya tahu harga akan mencapai target 10:1, 2:1, 5:1 yang saya tetapkan?"
Kamu tidak tahu! Dan kamu tidak akan pernah tahu. Itulah mengapa kamu perlu menetapkan target profit berdasarkan level harga yang wajar, yang didasarkan pada strategi yang sudah diuji dan divalidasi. Dengan begitu, meskipun beberapa (atau banyak) trade tidak mencapai target, kamu tetap bisa percaya diri dengan trade yang kamu lakukan. Kadang harga mencapai target, kadang tidak. Ingat: ketika kamu menggunakan risk-reward ratio tinggi, hanya perlu beberapa trade sukses untuk menutupi banyak loss. Sedangkan ketika kamu menggunakan risk-reward ratio yang lebih kecil, biasanya lebih mudah mendapatkan win rate yang tinggi.
Kalau kamu kesulitan menemukan target point yang "wajar", lihatlah price action terbaru. Pengujian strategi dan latihanmu seharusnya memberitahu win rate dan level risk-reward yang bisa kamu harapkan. Kalau kamu tidak suka hasilnya, ubah strateginya. Kalau strategimu dibangun dengan baik dan sudah divalidasi efektif, biarkan ia bekerja. Ambil "gaji" yang menjadi hakmu, jangan sampai dipotong karena kesalahan!
Trailing Stop
Tidak harus menggunakan target profit tetap, kamu juga bisa menggunakan trailing stop. Pengujian strategimu tetap akan mengungkap rata-rata win rate dan rata-rata risk-reward ratio-mu dari banyak trade.
Pada kondisi tertentu, trailing stop bisa sangat efektif. Contoh: Renko Charts bisa digunakan sebagai alat trailing stop, terutama efektif pada periode tren yang kuat. Tapi dalam kondisi pasar ranging sehari-hari, target profit tetap seringkali lebih baik, karena trailing stop bisa close posisi di waktu yang tidak tepat.
Solusi untuk Masalah Profit
Kalau kamu melacak win rate dan risk-reward ratio-mu, biasanya kamu bisa menemukan di mana masalahnya. Review trade-mu, lihat apakah masih bisa mendapatkan lebih banyak profit. Mungkin kamu take profit terlalu dini; atau mungkin target take profit-mu rata-rata sedikit terlalu jauh, sehingga harga tidak bisa mencapainya sebelum reversal. Turunkan sedikit risk-reward ratio, atau lebih baik lagi, lihat apakah kamu bisa mengurangi risk-mu. Dengan begitu kamu bisa mempertahankan risk-reward ratio yang sama sambil membuat target lebih dekat ke entry point.
Mungkin entry point-mu sendiri memang buruk (maka pelajari cara memperbaiki entry). Jadi setelah entry, harga reversal, sehingga kamu tidak bisa mendapatkan profit yang seharusnya. Analisis hubungan posisi antara potensi profit dan entry point: apakah muncul sebelum? Atau sesudah? Optimalkan entry point-mu berdasarkan temuan tersebut.
Ketika kamu melacak dan menganalisis data ini, data akan memberitahumu cara memperbaikinya.
Saran Akhir tentang Win Rate dan Risk-Reward Ratio
Saya suka sesekali menangkap trade dengan R tinggi (return tinggi), sekaligus menikmati trade stabil 2:1 ke atas. Kalau kamu bisa sesekali menangkap trade 10R atau 20R, itu bisa menutupi banyak loss. Kamu tidak selalu harus mengejar trade seperti itu... tradinglah berdasarkan peluang yang diberikan pasar. Kadang 5:1, kadang 3:1, 8:1 bahkan 30:1.
Bayangkan, kamu bisa menangkap satu atau dua trade 20R atau 30R per tahun. Kalau kamu hanya risk 1% per trade, maka satu trade saja bisa menumbuhkan akunmu 20% atau 30%. Kontribusinya terhadap pertumbuhan akun sangat besar! Tapi peluang seperti ini tidak sering muncul. Kamu juga perlu mental yang baik untuk menahan trade profit ini, mungkin harus menahan beberapa fluktuasi, sampai harga akhirnya mencapai target. Jadi, beberapa faktor harus terpenuhi secara bersamaan agar kamu benar-benar bisa menangkap peluang ini.
Alternatif lainnya adalah secara rutin mengambil profit kecil yang cepat, mengejar win rate yang lebih tinggi, tapi biasanya risk-reward ratio-nya lebih rendah. Saya sebagian besar waktu melakukan ini—melakukan trade 2:1 atau 3:1—tapi saya juga memperhatikan kondisi pasar tertentu yang bisa menghasilkan profit lebih besar. Dalam situasi tersebut, saya memperbesar target profit saya, atau menggunakan trailing stop untuk mencoba menangkap pergerakan besar yang sesungguhnya. Dalam trading plan-mu, tentukan secara jelas dalam kondisi apa kamu akan memilih risk-reward ratio yang lebih kecil atau lebih besar.
Zona profit-mu ada di suatu titik keseimbangan antara win rate dan risk-reward ratio. Kalau kamu merasa tradingmu stuck, mungkin kamu tidak perlu mengubah strategi secara total. Hanya beberapa penyesuaian kecil saja bisa mengubah loss menjadi profit, atau meningkatkan rata-rata profit per trade.
FAQ
1. Berapa win rate tipikal trader sukses?
Sebagian besar trader profesional punya win rate mendekati atau di bawah 60%. Mereka profit karena mereka menghasilkan lebih banyak dari trade profit dibandingkan yang mereka rugi dari trade loss.
2. Apa itu risk/reward dalam trading?
Risk/reward adalah rasio jumlah profit dari trade profit terhadap jumlah loss dari trade loss. Contoh: kalau satu trade loss rugi $100 (sekitar Rp1.600.000), dan satu trade profit menghasilkan $200 (sekitar Rp3.200.000), maka risk/reward ratio-mu adalah 100/200 = 0.5. Bisa juga dipahami dari arah sebaliknya sebagai reward/risk = 200/100 = 2. Artinya profit-mu dua kali lipat dari loss-mu. Hitung rata-rata dari banyak trade, maka kamu akan mendapatkan rata-rata risk/reward ratio. Sebagian besar trader profesional menghasilkan lebih banyak saat profit dibandingkan yang mereka rugi saat loss, sehingga meskipun win rate mereka hanya 50% atau bahkan lebih rendah, mereka tetap bisa profit.