Kalau kamu mencari pergerakan harga pasar yang cepat, daily chart mungkin bukan untukmu.
Kamu harus menunggu setiap hari trading berakhir sebelum bisa memutuskan apakah akan menyiapkan strategi trading. Ini mungkin cukup sulit bagi trader forex, karena pasar forex beroperasi berbeda dari pasar saham atau futures yang memiliki waktu buka dan tutup yang jelas.
Di daily chart, kamu tidak akan sesering di timeframe rendah seperti 5 menit atau 15 menit dalam menemukan peluang trading.
Tapi masalahnya adalah... banyak trader pemula selalu terburu-buru terjun ke dunia day trading yang serba cepat, bahkan sebelum mereka berhasil di daily chart.
Bagi kebanyakan orang, ini bukan keputusan yang bijak.
Daily Chart — Kenapa Kasino Membencinya
Saya dulu sangat gemar trading di timeframe rendah karena saya percaya semakin banyak peluang, semakin banyak pula uang yang saya hasilkan.
Tapi selain tidak memperhatikan biaya trading, saya menyadari bahwa saya selama ini kecanduan sensasi dari trading berikutnya.
Rasanya seperti berada di kasino.
Ketika saya punya trading yang profit, saya merasa sangat senang, kadang bahkan yakin bahwa trading berikutnya juga akan menang. Saya mengabaikan "kekuatan take profit tepat waktu" dan hanya tenggelam dalam euforia profit cepat.
Tapi rugi itu nyata, jadi saya terus trading, dalam hati berkata: "Peluang trading berikutnya pasti profit."
Ini seperti seorang penjudi.
Ini adalah kesalahan besar.
Memasuki Dunia Trading Daily Chart
Dengan strategi trading yang sama, peluang trading menjadi lebih sedikit, dan ini menguji kesabaran saya. Seiring waktu, saya belajar bahwa peluang trading tidak muncul setiap hari. Rasa "kepuasan instan" dari profit cepat itu sudah tidak ada lagi.
Saya tidak lagi seperti dulu yang mengumpulkan uang kecil dari trading yang sering. Saya mulai menghabiskan lebih sedikit waktu, tapi mendapatkan hasil yang lebih baik, dan perlahan-lahan terbebas dari "mentalitas kasino" itu.
Ini adalah kemajuan bagi saya.
Chart 15 menit biasanya memunculkan cukup banyak sinyal trading untuk sebagian besar strategi trading. Sedangkan ketika saya beralih ke daily chart, kita bisa melihat peluang trading pola pullback sederhana, dan muncul sinyal entry untuk long.
Peluang trading memang lebih sedikit, tapi price action-nya sangat jelas.
Lima Manfaat Trading di Daily Chart
Saya hanya bisa berbicara dari pengalaman saya sendiri tentang manfaat menggunakan daily chart (weekly chart juga tidak bisa diabaikan), tapi saya yakin kamu juga akan tertarik.
1. Lebih Banyak Waktu — Lebih Sedikit Stres
Tidak seperti di timeframe yang lebih pendek di mana kamu harus mengamati setiap pergerakan harga, saya bisa memilih untuk melihat daily chart di paruh kedua setiap hari, untuk melihat apakah muncul pola trading yang saya cari. Dengan mengamati daily chart, saya bisa lebih objektif menilai apakah pasar sesuai dengan kondisi entry saya.
Saya tidak perlu seperti saat scalping atau day trading yang harus terus menatap chart 1 menit atau 15 menit.
Saya hanya melihat chart sekali sehari saat kandil daily ditutup atau mendekati penutupan, dan dengan cepat bisa memindai berbagai grafik harga untuk mencari peluang. Saya tidak lagi perlu berlomba dengan waktu untuk memasang order, khawatir harga langsung melesat.
Dorongan "mengejar pasar yang bergerak cepat" yang umum terjadi di timeframe kecil, hampir tidak ada dalam trading daily chart. Karena satu kandil membutuhkan satu hari trading penuh untuk ditutup, kecuali saya menggunakan limit order, saya hanya perlu memperhatikan harga penutupan dan posisinya di grafik.
Dengan menggunakan metode pullback dasar, trendline standar, dan area support/resistance, kamu bisa dengan cepat menentukan setiap hari apakah ada peluang trading. Tanda silang merah di grafik menunjukkan bahwa pada hari-hari itu kamu hanya perlu 3 detik untuk melihat apakah ada sinyal trading.
Sedangkan tanda centang hijau menunjukkan bahwa kamu akan berhenti dan menganalisis grafik dengan serius, untuk memastikan apakah memenuhi kondisi pola trading spesifikmu. Kamu akan memeriksa satu per satu sesuai trading plan-mu, dan mengeksekusi trading sesuai rencana.
2. Frekuensi Trading Lebih Rendah — Win Rate Lebih Tinggi
Saya tidak perlu terus-menerus menatap layar untuk melihat pergerakan harga, karena saya tahu kapan harus melihat grafik untuk mencari peluang trading.
Meskipun saya pernah mencoba mempertahankan jadwal day trading dan menetapkan waktu berhenti trading, saya selalu khawatir akan melewatkan pergerakan besar. Di timeframe yang lebih kecil, sinyal trading datang sangat cepat.
Sedangkan di daily chart, saya menemukan bahwa pola-pola trading ini cenderung memicu pergerakan harga yang lebih besar. Di grafik timeframe kecil, pergerakan harga yang sedikit merugikan saja bisa menyentuh stop loss, sedangkan entry di daily chart tetap valid. Tanpa sadar saya sudah menjadi seorang swing trader.
Rentang stop loss di daily chart lebih besar, memberi harga lebih banyak ruang untuk bergerak ke arah yang menguntungkan.
Tentu saja, ada juga saat-saat ketika saya entry di timeframe yang lebih tinggi lalu harga langsung bergerak merugikan. Tapi karena rentang stop loss diatur lebih masuk akal, saya bisa mengelola risiko trading dengan lebih baik, sehingga mengendalikan proporsi toleransi risiko secara keseluruhan.
◔ Win rate keseluruhan saya meningkat, karena eksposur risiko saya terhadap pasar lebih sedikit
◔ Profit keseluruhan saya meningkat, sementara waktu yang saya habiskan di pasar lebih sedikit
Semakin sedikit trading, semakin rendah biaya trading.
Meskipun biaya per trading mungkin terlihat kecil, tapi jika diakumulasi akan membuat perbedaan besar. Peluang trading yang lebih sedikit, justru adalah hal yang benar-benar dibutuhkan sebagian besar trader, terutama trader pemula.
3. Lebih Sedikit Terganggu oleh Berita dan Rilis Data
Saya masih ingat ketika baru mulai trading forex, saya sempat tertarik dengan trading "Non-Farm Payroll" (NFP). Pergerakan harga yang tajam itu terlihat sangat menggoda, tapi seringkali, slippage membuat semuanya menjadi tidak berarti. Ditambah lagi dengan delay transmisi data atau pending order, akhirnya selalu kehilangan profit.
Sedangkan ketika menggunakan metode trading daily chart, dampak dari peristiwa berita atau pelebaran spread broker forex terhadap posisi sangat kecil.
Sebagian besar trader, bahkan hampir semua trader di semua pasar, biasanya menggunakan swing high dan swing low sebagai posisi stop loss. Bisa dipastikan, banyak trader yang terkena stop loss di dua spike di posisi ekstrem rentang trading tersebut.
4. Fokus pada Proses Trading
Trading daily chart memberimu waktu.
◔ Waktu untuk mengeksekusi trading plan-mu langkah demi langkah
◔ Waktu untuk belajar bagaimana membiarkan profit berjalan
◔ Waktu untuk mengembangkan sumber penghasilan lain
Kamu tidak perlu bekerja penuh waktu untuk memilih menggunakan daily chart dalam trading.
Ada satu hal yang menurut saya sangat menarik: di sesi offline kami, beberapa trader bertanya: "Kalau para mentor ini bisa menghasilkan uang dari trading, kenapa mereka masih membuat video trading atau menjual kursus?"
Jawaban saya adalah: kalau kamu punya waktu untuk menambah sumber penghasilan lain, kenapa tidak? Itulah sebabnya banyak orang mulai belajar trading sambil tetap memiliki pekerjaan. Mereka memahami satu prinsip — jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang.
Saat menggunakan timeframe yang lebih tinggi, waktu trading harianmu sebenarnya sangat singkat.
Baik swing trading maupun trend following, kamu tidak perlu bereaksi terhadap setiap pergerakan kecil di layar.
Trader yang menggunakan strategi jangka panjang akan perlahan belajar membiarkan profit berjalan. Mereka tidak akan terburu-buru menutup posisi hanya untuk profit kecil, sementara menanggung kerugian yang besar.
Tentu saja, cara ini juga memiliki kelemahan: tergantung pada strategi stop loss-mu, kamu mungkin akan mengembalikan sebagian besar floating profit, karena harga bisa bergerak merugikan dalam jangka pendek. Tapi inilah trade-off-nya. Seiring waktu, kamu akan belajar bahwa mempertahankan trading plan yang kamu rancang sendiri, selalu menjadi pilihan terbaik.
5. Berapa Nilai Waktumu?
Di timeframe yang lebih kecil, kamu mungkin menghabiskan berjam-jam duduk di meja trading, mempertaruhkan risiko rugi $50 (sekitar Rp800.000) hanya untuk mendapatkan $100 (sekitar Rp1.600.000) — atau bahkan lebih sedikit.
Kenapa profitnya begitu kecil?
Karena sebagian besar trader kekurangan modal untuk menanggung ukuran posisi yang lebih besar.
Lalu bagaimana dengan trading yang rugi? Akan terus menumpuk. Akhirnya, kamu mungkin mendapati diri hanya menghasilkan $20 (sekitar Rp320.000) sepanjang hari, dan itu sama sekali tidak sepadan.
Setelah menggunakan timeframe yang lebih tinggi, saya bisa mengetahui beberapa hari sebelumnya apakah peluang trading akan segera muncul. Misalnya, jika harga breakout resistance, saya bisa memasang buy stop order, dan menunggu trigger.
Saya tidak perlu duduk di kursi sepanjang hari menunggu untuk klik mouse. Waktumu jauh lebih berharga daripada beberapa dolar yang dihasilkan dari berjam-jam.
Berpikirlah lebih besar: ini adalah peluang mendapatkan penghasilan penuh waktu dengan waktu paruh waktu.
Strategi Trading Daily Chart
Selanjutnya saya akan berbagi strategi trading daily chart yang sederhana tapi cocok untuk swing trader.
Jangan tertipu oleh kesederhanaannya.
Kamu hanya membutuhkan dua indikator trading:
◔ Moving average sederhana (SMA) 20 periode
◔ ATR (Average True Range) 5 periode
Aturan entry untuk long adalah sebagai berikut:
1. Tunggu harga breakout di atas moving average 20 periode;
2. Harga terendah dari dua kandil berturut-turut sepenuhnya berada di atas moving average, ini akan menjadi sinyal trading;
3. Setelah kandil kedua terbentuk, pasang buy stop order di 20% ATR di atas titik tertinggi dari kedua kandil tersebut;
4. Stop loss dipasang di 20% ATR di bawah moving average;
5. Gunakan moving average untuk trailing stop.
Tips Menangani Support dan Resistance
Saya biasanya tidak menyarankan untuk terlalu banyak menyesuaikan strategi hanya untuk menghindari kerugian, tapi mengevaluasi apakah akan entry dengan mempertimbangkan struktur harga memang memiliki nilai tersendiri.
Ketika kita melihat harga terus-menerus melintasi naik turun di sekitar moving average, biasanya ini menandakan pasar memasuki rentang konsolidasi.
Kesimpulan
Trading menggunakan daily chart jauh lebih santai dibandingkan day trading yang serba cepat.
Kamu hanya perlu melihat pasar sekali sehari, memasang pending order, dan kembali lagi keesokan harinya untuk memeriksanya. Dengan begitu, trader bisa mengalokasikan energi ke sumber penghasilan lain. Ya, frekuensi trading berkurang, tapi bagi saya, ini adalah pilihan yang tepat.
Tentu saja perlu dipahami juga bahwa di beberapa pasar, menggunakan moving average sebagai stop loss bisa memberikan tekanan yang cukup besar pada modal akunmu. Pastikan level risiko pasar yang kamu tradingkan sesuai dengan kemampuan modalmu.
Berpikirlah dari perspektif yang lebih makro. Akun trading-mu mungkin akan berterima kasih padamu.