Bayangkan saja: gimana rasanya kalau kamu bisa menghasilkan $100 juta (sekitar Rp1,6 triliun) dalam satu hari?
Menurut laporan, salah satu trader top Wall Street dan macro trader paling terkenal di dunia, Paul Tudor Jones, pernah mencapai hasil luar biasa seperti itu selama crash pasar saham AS tahun 1987.
Tapi yang benar-benar menarik bukan cuma berapa banyak yang dia hasilkan, melainkan logika trading di baliknya yang ternyata sangat sederhana.
Alat yang dia gunakan adalah moving average 200-hari (200-Day Moving Average). Dalam sistem tradingnya, MA 200 bukan sekadar indikator biasa, tapi salah satu alat pertahanan paling inti dalam keseluruhan kerangka manajemen risikonya.
Dia pernah menyatakan secara terbuka,"Standar saya untuk mengukur semua pasar adalah moving average 200-hari dari harga penutupan."
Salah satu kutipan Paul Tudor Jones yang paling banyak beredar di kalangan trader adalah:"Setelah harga jatuh di bawah MA 200, biasanya tidak ada hal baik yang terjadi. (Nothing Good Happens Below the 200-Day Moving Average)"
Kutipan aslinya yang lebih klasik adalah:
"Saya sudah terlalu sering melihat saham dan komoditas akhirnya jatuh hampir ke nol. Karena itu, menurut saya pertanyaan terpenting dalam investasi bukanlah 'Bagaimana saya bisa menghasilkan banyak uang?' tapi bagaimana saya menghindari kehilangan segalanya? Solusi saya sangat sederhana: ketika harga jatuh di bawah MA 200, keluar dari pasar dan masuk mode bertahan."
Aturannya sangat langsung:
✔ Ketika harga berada di atas moving average 200-hari, terus pegang posisi atau tetap berinvestasi.
✔ Ketika harga jatuh di bawah moving average 200-hari, keluar dari pasar.
Dengan kata lain, harga di atas moving average 200-hari = beli atau terus pegang posisi long; harga di bawah moving average 200-hari = jual atau sementara keluar dan tunggu di pinggir lapangan.
Aturan yang terlihat sederhana ini ternyata bisa membantu trader menghindari beberapa crash terburuk di pasar, dan secara efektif melindungi modal ketika tren berbalik negatif.
Misalnya, jika menggunakan moving average 200-hari sebagai filter tren, trader akan bisa menghindari sebagian besar penurunan selama pecahnya gelembung dot-com dan krisis keuangan global 2008.
Trader sering mengamati posisi harga relatif terhadap moving average 200-hari untuk mengukur momentum pasar dan mengantisipasi potensi koreksi.
Alasan utama mengapa moving average 200-hari efektif adalah: ia bisa membantumu menghindari bear market.
Moving average 200-hari biasanya dianggap sebagai dasar psikologis (support) atau puncak psikologis (resistance) dalam tren pasar, dan memengaruhi perilaku trader selama koreksi pasar yang signifikan. MA 200 bisa bekerja, terutama selama resesi, karena ia membantumu keluar dari pasar sebelum bear market datang. Ia membantumu menyelamatkan modal, dan ketika pasar kembali ke tren naik, kamu bisa memulai lagi compounding dari basis modal yang lebih besar.
Backtest Strategi Moving Average 200-Hari (Indeks S&P 500)
Mari kita backtest strategi moving average 200-hari yang sederhana ini, dengan aturan trading sebagai berikut:
✔ Beli ketika harga penutupan breakout ke atas moving average 200-hari.
✔ Jual ketika harga penutupan breakout ke bawah moving average 200-hari.
Ini adalah sistem crossover moving average yang sangat sederhana dan banyak digunakan. Jika breakout ke atas atau ke bawah MA 200 disertai dengan volume yang besar, maka reliabilitas sinyal breakout tersebut biasanya lebih tinggi.
Ketika strategi ini diterapkan pada indeks S&P 500 untuk backtest historis, hasilnya menunjukkan:
Dibandingkan dengan strategi buy and hold tradisional, strategi MA 200 secara historis secara signifikan mengurangi besarnya drawdown. Rata-rata return tahunan strategi MA 200 biasanya mirip atau sedikit lebih rendah dibandingkan buy and hold pada periode yang sama. Tapi di saat yang sama, ia memiliki volatilitas yang lebih rendah dan max drawdown yang lebih kecil. Tentu saja, hasil perbandingan ini bisa berbeda tergantung kelas asetnya, misalnya saham, komoditas, atau pasar cryptocurrency.
Perlu diperhatikan secara khusus bahwa kondisi pasar, termasuk tingkat volatilitas dan kekuatan tren, akan memengaruhi performa aktual strategi MA 200.
RSI (dan Indikator Lainnya) dengan Strategi Moving Average 200-Hari
Hal terbaik dari backtest adalah kamu bisa menguji banyak ide trading berbeda hanya dalam hitungan detik. Mari kita uji dulu bagaimana menerapkan strategi MA 200 ke dalam sistem trading.
Aturan inti strategi ini adalah:
✔ Ketika RSI 5-hari dari indeks S&P 500 turun di bawah 35, beli di harga penutupan.
✔ Ketika RSI 5-hari yang sama breakout ke atas 50, jual di harga penutupan.
Moving average 200-hari bisa membantu trader merencanakan timing entry dan mengidentifikasi peluang long ketika harga berada di atas MA, karena ia sering berfungsi sebagai support atau resistance dinamis.
Berdasarkan aturan di atas, hasil backtest strategi ini pada SPY (ETF S&P 500) dari tahun 1993 hingga sekarang adalah sebagai berikut:
Statistik strategi ini adalah:
❍ Total 379 transaksi, rata-rata profit per transaksi 0,7%.
❍ Win rate 76%.
❍ Compound annual return 8,7%, sedangkan buy and hold 9,8%.
❍ Max drawdown 29%.
Lalu, apa yang terjadi jika kita menambahkan filter moving average 200-hari? Strateginya sendiri tetap sama. Satu-satunya kondisi tambahan adalah sinyal trading hanya berlaku ketika harga penutupan berada di atas moving average 200-hari.
Hasilnya, kurva equity menjadi sedikit lebih baik:
Setelah menggunakan strategi trading MA 200, saldo akun tumbuh dari $100.000 (sekitar Rp1,6 miliar) menjadi lebih dari $833.000 (sekitar Rp13,3 miliar).
Ketika kita menambahkan filter tren, strategi ini menghasilkan statistik sebagai berikut:
❍ Total 258 transaksi.
❍ Rata-rata profit per transaksi 0,85%.
❍ Win rate 81%.
❍ Compound annual return 7,1%, sedangkan buy and hold 9,8%.
❍ Max drawdown 14%.
Perlu dicatat bahwa moving average 200-hari termasuk indikator lagging, karena dihitung berdasarkan data harga historis, sehingga reaksinya bisa cenderung lambat ketika menghadapi perubahan harga yang tiba-tiba dan drastis.
Seperti yang kamu lihat, karena jumlah transaksi berkurang dan waktu partisipasi di pasar lebih pendek, total return strategi menjadi lebih rendah. Tapi keunggulannya adalah kamu mendapatkan tingkat drawdown yang jauh lebih rendah dan win rate yang lebih tinggi.
Jika kita membaliknya dan hanya trading strategi ini ketika harga penutupan berada di bawah moving average 200-hari, maka kita akan mendapatkan kurva equity berikut:
Setelah menggunakan strategi trading MA 200, saldo akun tumbuh dari $100.000 (sekitar Rp1,6 miliar) menjadi hampir $240.000 (sekitar Rp3,8 miliar).
Statistik strategi ini adalah:
❍ Total 138 transaksi.
❍ Rata-rata profit per transaksi 0,7%.
❍ Win rate 68%.
❍ Compound annual return 2,7%, sedangkan buy and hold 9,8%.
❍ Max drawdown 25%.
Kenapa MA 200 Penting?
Moving average 200-hari bukanlah formula ajaib. Ia tidak selalu berhasil, dan pasti akan menghasilkan beberapa sinyal palsu.
Tapi ia memiliki satu keunggulan yang sangat penting: ia bisa membantumu tetap disiplin.
Kamu tidak perlu menebak-nebak pasar, tidak perlu memprediksi masa depan, dan tidak perlu terbawa emosi. Kamu hanya perlu mengikuti satu aturan yang jelas.
Ketika pasar berada di atas garis tren jangka panjang, kamu ikut serta di pasar.
Ketika pasar jatuh di bawah garis tren jangka panjang, kamu secara aktif mengurangi risiko.
Sesederhana itu.
Dan justru kesederhanaan inilah yang membuat strategi moving average 200-hari bertahan melewati ujian pasar selama puluhan tahun, dan tetap digunakan secara luas oleh banyak trader dan investor.
Sering kali, kamu tidak membutuhkan sistem yang rumit. Satu aturan sederhana dan jelas sudah cukup untuk membuatmu selalu berada di sisi tren yang benar.