Sebelumnya kita sudah sering membahas tentang "trading breakout", yaitu metode efektif untuk mengikuti tren baru begitu muncul. Breakout terbaik biasanya terjadi ketika harga menembus level resistance yang sangat jelas, yang diperhatikan oleh banyak pelaku pasar. Pada saat itu, momentum pasar sering meningkat tajam, menarik lebih banyak pembeli masuk, sehingga mendorong harga naik lebih jauh.
Namun, menangkap breakout ini tidak semudah kelihatannya. Dalam artikel ini, kita akan membahas empat cara entry trading breakout yang berbeda, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya.
Ingat, pilih cara yang paling sesuai dengan gaya trading kamu untuk meningkatkan probabilitas keberhasilan!
Bagaimana Cara Entry Trading Breakout?
Menentukan Level Breakout
Trader pertama-tama perlu menentukan level harga kunci atau indikator teknikal untuk breakout. Ini bisa berupa trendline, moving average, atau level resistance.
Opsi 1: Beli Sebelum Breakout
Membeli sebelum breakout benar-benar terjadi sangat mungkin dilakukan, ini juga disebut "mengantisipasi breakout". Namun, tidak diragukan lagi, cara ini lebih berisiko dibandingkan opsi lain yang dibahas di bawah.
Jika kamu memutuskan menggunakan cara ini, pastikan hanya memilih saham atau instrumen yang menunjukkan momentum kuat dan volume sudah meningkat sebelum breakout.
Keuntungan utama metode ini adalah jika breakout benar-benar terjadi, kamu akan cepat profit karena sudah mengantisipasi breakout sebelumnya. Namun, breakout mungkin akhirnya tidak terjadi, atau breakout bisa gagal.
Trader yang menggunakan strategi ini biasanya masuk dengan posisi kecil terlebih dahulu, lalu membeli lagi saat breakout atau setelah breakout, untuk membangun beberapa posisi.
Entry dan stop loss
Beli saat harga masih dalam fase konsolidasi sideways. Stop loss awal biasanya ditempatkan di bawah channel trading sideways.
Opsi 2: Beli Saat Breakout
Membeli saat breakout memastikan bahwa breakout valid benar-benar terjadi. Untuk opsi ini, kamu juga perlu memperhatikan momentum dan volume dengan cermat. Momentum yang lebih kuat dan volume yang lebih tinggi adalah sinyal awal meningkatnya minat pembeli. Ini memiliki probabilitas keberhasilan yang jauh lebih tinggi daripada mengantisipasi breakout.
Mirip dengan Opsi 1, membeli saat breakout kuat memberi peluang profit cepat.
Namun, masih ada kemungkinan fake breakout. Pada grafik harian, fake breakout biasanya terlihat sebagai harga yang breakout selama sesi trading, tetapi harga penutupan akhirnya berada di bawah level breakout.
Dalam kasus ini, trader perlu memutuskan apakah akan terus memegang posisi (dengan asumsi breakout akhirnya akan terjadi) atau segera menutup posisi dan menunggu harga mencoba breakout lagi.
Entry dan stop loss
Segera beli begitu harga menembus level breakout yang telah ditentukan. Stop loss bisa ditempatkan di bawah kandil terakhir (agresif) atau di bawah range sideways (konservatif).
Opsi 3: Beli Setelah Breakout
Opsi 3 adalah strategi yang lebih konservatif, tetapi keunggulannya adalah memberikan kepastian yang lebih tinggi. Bukan hanya breakout sudah terjadi, tetapi breakout juga sudah dikonfirmasi karena harga penutupan di akhir hari trading berada di atas level breakout. Dengan demikian, ini menghilangkan kemungkinan fake breakout intraday.
Kerugian utama menunggu konfirmasi breakout adalah kamu mungkin melewatkan sebagian dari kenaikan harga yang besar. Breakout sebesar 10%, 15% atau bahkan lebih sering terjadi. Tidak semua trader bersedia entry setelah harga sudah naik signifikan.
Selain itu, masih ada kemungkinan harga turun kembali di bawah level breakout pada hari trading berikutnya. Jadi, kemungkinan breakout gagal masih ada, hanya saja tidak terjadi pada hari breakout itu sendiri.
Entry dan stop loss
Beli begitu harga ditutup di atas level resistance yang telah ditentukan. Harga penutupan tergantung pada timeframe yang dipilih. Dalam hal ini, stop loss bisa langsung ditempatkan di bawah kandil breakout (agresif), atau sedikit lebih rendah untuk memberi harga lebih banyak ruang bergerak dan menghindari stop loss terlalu dini (konservatif).
Opsi 4: Beli Saat Retest Setelah Breakout
Metode terakhir adalah yang paling konservatif. Pertama, seperti Opsi 3, kamu perlu menunggu breakout yang terkonfirmasi terjadi. Kemudian, tunggu harga melakukan retest ke level breakout sebelum entry.
Retest yang berhasil adalah sinyal konfirmasi tambahan setelah breakout. Cara trading ini membutuhkan kesabaran luar biasa dari trader, harus bisa menahan godaan untuk entry lebih awal. Pengguna metode ini perlu menerima bahwa jika tidak ada retest setelah breakout dan harga langsung terus naik, banyak peluang breakout akan terlewat.
Beberapa trader menggunakan metode retest untuk memperluas posisi awal (posisi kecil) mereka menjadi posisi penuh. Dalam hal ini, cara retest sangat penting. Penurunan yang menyebabkan harga kembali ke level breakout awal harus terkendali, dan volume jual harus lebih rendah dari volume beli sebelumnya.
Entry dan stop loss
Beli setelah harga retest ke level breakout awal. Beli saat harga retest ke level breakout awal dan muncul sinyal reversal. Stop loss biasanya ditempatkan tidak jauh di bawah level breakout. Namun, kamu juga bisa memilih cara yang lebih konservatif dengan menggunakan swing low sebelumnya sebagai level stop loss.
Bagaimana Cara Exit dari Trading Breakout yang Berhasil?
Setelah breakout berhasil, mengelola posisi long yang terbuka dengan baik sangat penting untuk mencapai profitabilitas struktural jangka panjang. Tergantung pada gaya trading kamu, ada beberapa cara untuk melakukan ini.
1. Menetapkan Target Harga
Target harga ditetapkan bersamaan dengan entry dan stop loss. Pastikan target kamu setidaknya 1,5 kali dari stop loss awal.
Misalnya, beli saham di 12,92 yuan, stop loss di 12,49 yuan, risiko per saham adalah 0,43 yuan. Jadi, jika kita ingin target harga setidaknya 1,5 kali risiko, kita perlu mencapai profit minimal 0,65 yuan (0,43 yuan * 1,5). Dalam hal ini, target harga minimum harus ditetapkan di 13,56 yuan.
Misalkan setengah dari trading kamu terkena stop loss, dan setengah lainnya mencapai target take profit, strategi exit ini masih bisa menghasilkan profit.
2. Menggunakan trailing stop
Cara stop loss ini memastikan sebagian profit yang terakumulasi terlindungi saat harga turun. Namun, selama harga naik, trailing stop juga akan naik, sehingga melindungi proporsi profit yang lebih besar.
3. Menggunakan Indikator Teknikal
Banyak indikator teknikal dapat memberikan wawasan tentang pergerakan harga, membantu kamu menilai apakah momentum tren yang ada menguat atau melemah. Di bawah ini kita akan membahas beberapa indikator umum yang berguna dalam hal ini.
◎ Indikator RSI
Ini adalah indikator momentum oscillator yang mengukur kecepatan dan perubahan pergerakan harga. Nilai batas atas default indikator ini adalah 70. Di atas nilai ini dianggap kondisi overbought.
Trader harus memperhatikan kemungkinan perubahan tren (jangka pendek atau jangka panjang). Terutama divergence antara indikator RSI dan harga harus diperhatikan dengan cermat, untuk mendeteksi perubahan harga pada tahap awal.
◎ Indikator MACD
Ini adalah indikator momentum pengikut tren, yang terdiri dari garis MACD dan garis sinyal. Garis MACD yang memotong ke bawah garis sinyal dapat menjadi sinyal exit untuk posisi long yang ada.
◎ Bollinger Bands
Bollinger Bands digunakan untuk memantau volatilitas atau tingkat fluktuasi harga. Batas atas dan bawah pergerakan harga normal didefinisikan melalui standar deviasi dari moving average. Jika harga melebihi batas atas (upper Bollinger Band), ini bisa menunjukkan harga bereaksi berlebihan dan berpotensi memicu penurunan harga. Berdasarkan hal ini, posisi long yang ada bisa ditutup.
Berhati-hatilah saat menggunakan indikator teknikal sebagai sinyal exit. Dalam pergerakan tren yang kuat, indikator akan menghasilkan banyak sinyal palsu, menyebabkan harga terus naik, sehingga kamu kehilangan banyak profit dalam jangka panjang.
Sebaiknya gunakan indikator sebagai sinyal peringatan. Daripada langsung menutup posisi, lebih baik gunakan sinyal exit untuk secara manual menggeser stop loss sedikit lebih dekat ke harga saat ini.
Jika sinyal exit benar, kamu akhirnya akan terkena stop loss (sambil mempertahankan sebagian besar profit). Namun, jika harga terus naik, kamu akan terus mendapat profit dari tren naik tersebut.
Bagaimana Cara Exit dari Trading Breakout yang Gagal?
Sama seperti posisi yang profit, mengelola posisi yang rugi dengan baik juga sangat penting. Satu-satunya cara cepat dan efektif adalah menggunakan hard stop loss.
Saat menggunakan strategi breakout, trader mengharapkan tren berlanjut setelah breakout. Jika breakout tidak berlanjut dan harga turun lagi, stop loss akan memastikan kerugian dibatasi.
Sebelumnya kita sudah membahas perkiraan lokasi stop loss awal untuk setiap opsi. Dalam hal ini, kami ingin menekankan dua poin:
1. Perhatikan level support penting dengan cermat, dan tempatkan stop loss secara strategis di bawah level support tersebut. Jika level support sebelumnya gagal membuat harga naik kembali, ini adalah sinyal kuat bahwa harga mungkin akan turun lebih jauh. Stop loss akan melindungi kamu dari penurunan harga yang lebih besar.
2. Jangan menempatkan stop loss terlalu dekat dengan harga saat ini. Dalam hal ini, stop loss mungkin akan terpicu terlalu dini. Dalam banyak kasus, kamu akan menyadari bahwa tidak lama kemudian harga bergerak ke arah yang diharapkan. Ini bisa menyebabkan banyak frustrasi!
Untuk menentukan jarak minimum stop loss, kamu bisa menggunakan misalnya indikator ATR.
Kesimpulan
Poin-Poin Penting
1. Trading berdasarkan breakout harga adalah cara yang sangat baik untuk memanfaatkan tren pasar baru secara maksimal.
2. Setelah menentukan breakout, kamu harus selalu memperhatikan momentum dan volume sebelum memutuskan untuk membuka posisi.
3. Empat cara entry trading breakout meliputi "beli sebelum breakout", "beli saat breakout", "beli setelah breakout", dan "beli saat retest level breakout". Setiap cara memiliki kelebihan dan kekurangannya.
4. Pilih cara yang paling sesuai dengan gaya trading pribadimu, ini akan memberimu peluang keberhasilan terbesar.
5. Manajemen risiko juga berperan penting dalam kesuksesan jangka panjang. Strategi exit yang tepat untuk melindungi profit atau membatasi kerugian sangat penting dalam hal ini.
FAQ
1. Apakah trading breakout bisa menghasilkan profit?
Umumnya, trading breakout bisa sangat menguntungkan. Berhasil mengidentifikasi breakout dan entry pada waktu yang tepat dapat menghasilkan profit yang signifikan, tetapi selalu ada kemungkinan fake breakout atau harga tidak bergerak ke arah yang diharapkan. Ingat, tidak ada strategi yang hanya menghasilkan profit tanpa pernah mengalami kerugian.
Oleh karena itu, mencapai profit konsisten melalui strategi breakout sangat terkait dengan manajemen risiko dan position sizing yang tepat. Untuk itu, strategi exit yang memastikan profit maksimal dan mengurangi risiko (baik untuk posisi profit maupun rugi) sangat penting.
2. Apa timeframe ideal untuk trading breakout?
Trading breakout dapat dilakukan pada berbagai timeframe. Pola breakout bisa sama-sama muncul pada grafik 5 menit atau grafik bulanan.
Timeframe ideal untuk trading breakout tergantung pada beberapa faktor berikut:
● Gaya trading dan strategi kamu
● Sentimen pasar saat ini dan tren pasar secara keseluruhan
● Volatilitas instrumen keuangan yang kamu tradingkan
Breakout jangka pendek (entry dan tindakan selanjutnya diselesaikan dalam beberapa jam hingga beberapa hari) terutama digunakan oleh day trader dan swing trader. Mereka terutama menggunakan grafik intraday (5 menit, 15 menit, 1 jam, dll.) untuk mengidentifikasi area breakout harga.
Breakout jangka panjang (tujuan utama adalah berpartisipasi sedini mungkin dalam tren jangka panjang yang berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan) adalah domain utama position trader. Mereka terutama fokus pada grafik harian dan grafik mingguan untuk menentukan kapan dan di mana entry.
3. Bagaimana cara menghindari fake breakout dalam trading?
Untuk menghindari fake breakout sebanyak mungkin, kamu bisa melakukan langkah-langkah berikut:
● Tunggu konfirmasi breakout, harga ditutup di atas level resistance. Meskipun ini akan melewatkan pergerakan breakout yang sebenarnya, tetapi juga bisa menghindari banyak fake breakout.
● Perhatikan faktor konfirmasi tambahan yang mendukung breakout. Peningkatan volume yang signifikan sebelum dan sesudah breakout adalah parameter terpenting. Hindari breakout dengan volume yang hanya moderat.
● Perhatikan tren jangka panjang. Fokus pada breakout ke atas dari instrumen yang sudah menunjukkan tren naik jangka panjang yang jelas.
● Pertimbangkan tren pasar secara keseluruhan dan sentimen pasar. Breakout paling efektif ketika pasar secara keseluruhan bullish.