Analisis pola teknikal juga dikenal sebagai 「morfologi」, yaitu mengidentifikasi perilaku harga saat ini berdasarkan pola yang terbentuk dari pergerakan harga di masa lalu, sehingga trader dapat memprediksi kemungkinan arah pergerakan harga di masa depan.
Artikel ini akan memperkenalkan 13 pola umum, yang dapat dibagi secara sederhana menjadi dua jenis: "pola konsolidasi" dan "pola pembalikan". Setiap pola memiliki karakteristik tertentu, sehingga dengan mempelajari cara mengidentifikasi makna dan cara penggunaan pola-pola ini, trader dapat lebih jelas mengetahui dan menentukan waktu entry dan exit dalam trading.
1. Pola Konsolidasi: Box
Box (Darvas Box) adalah salah satu pola konsolidasi yang umum, pada grafik kandil dapat terlihat dengan jelas bahwa harga bergerak naik turun dalam rentang tertentu, jika rentang ini digambar, bentuknya seperti sebuah kotak.
Dalam rentang pola ini, setelah harga naik ke tingkat tertentu akan tertekan oleh aksi jual dan turun, ketika harga turun ke posisi tertentu, akan mendapatkan support dari aksi beli dan naik kembali.
Jika titik-titik high selama periode ini dihubungkan, akan membentuk bagian atas kotak, yaitu "atap kotak", dan jika titik-titik low dihubungkan, akan membentuk bagian bawah kotak, yaitu "dasar kotak".
Dalam rentang pola ini, ada trader yang menunggu harga turun ke dasar kotak untuk beli, dan jual ketika harga naik ke atap kotak, sehingga melakukan operasi dalam rentang konsolidasi.
Sedangkan trader yang mengejar efisiensi penggunaan modal akan menunggu harga "breakout atap kotak (resistance) dengan kandil bullish besar bervolume tinggi" untuk entry, atau "kandil bearish besar" menembus dasar kotak (support) untuk melakukan short.
2. Pola Konsolidasi: Triangle Convergence
Pola Triangle Convergence (Triangle) adalah pola konsolidasi yang sering muncul pada kandil, pada grafik kandil merupakan fenomena di mana fluktuasi semakin mengecil dari kiri ke kanan, di atas ada garis resistance, di bawah ada garis support, dan selama proses konvergensi, volume biasanya secara bertahap menyusut. Pola triangle convergence dapat dibagi menjadi 3 tipe:
(1) Symmetrical Triangle Convergence: Ciri utamanya adalah selama proses konvergensi, titik high di atas semakin rendah, titik low di bawah semakin tinggi, dan amplitudo pergerakan harga menyusut secara bertahap dari kiri ke kanan.
(2) Ascending Triangle Convergence: Ciri pola ini adalah titik low semakin tinggi, sedangkan titik high menunjukkan level horizontal, di atas seperti ada dinding yang membentuk tekanan, setiap kali harga menyentuh dinding akan tertekan kembali, sedangkan aksi beli di bawah terus meningkat, menunjukkan setelah harga pullback, semakin sedikit orang yang bersedia jual di harga rendah.
(3) Descending Triangle Convergence: Ciri kebalikan dari pola ascending triangle convergence, titik high semakin rendah, di bawah membentuk support horizontal. Pola ini berarti, setiap kali harga turun ke level tertentu akan mendapatkan support, tetapi seiring setiap kenaikan, keinginan untuk membeli di harga tinggi semakin rendah, menyebabkan titik high terus menurun.
3. Pola Konsolidasi: Flag
Pola Flag (Flag Pattern) adalah salah satu pola konsolidasi yang umum, selama proses konsolidasi pola, harga akan bergerak dalam rentang tertentu, dan bentuk pergerakannya seperti sebuah bendera, sehingga disebut flag.
Berdasarkan pola flag yang muncul selama tren naik dan turun, dapat dibagi menjadi dua bentuk: "bull flag" dan "bear flag".
Bull flag terutama terdiri dari tiang bendera dan kain bendera yang mengarah ke kanan bawah. Bagian tiang bendera berasal dari pergerakan naik yang cepat, ketika harga mencapai area high, mulai muncul tekanan jual dari aksi ambil untung, membuat harga masuk konsolidasi, bergerak ketat dalam rentang.
Jika titik high dihubungkan dengan titik high, dan titik low dihubungkan dengan titik low, akan membentuk dua garis paralel yang arahnya berlawanan dengan tren aslinya, membentuk jajaran genjang. Umumnya, setelah konsolidasi harga biasanya breakout ke atas, kembali ke tren naik.
Bear flag juga terdiri dari tiang bendera dan kain bendera yang mengarah ke kanan atas, tetapi performanya kebalikan dari bull flag. Bagian tiang bendera berasal dari pergerakan turun yang cepat, ketika harga mencapai area low, mulai muncul support dari aksi beli yang masuk di harga rendah, membuat harga mengalami rebound kecil, dan bergerak ketat dalam rentang. Setelah konsolidasi, harga biasanya breakout ke bawah, kembali ke tren turun.
4. Pola Pembalikan: Head and Shoulders Bottom
Pola Head and Shoulders Bottom sesuai namanya pola ini terdiri dari "kepala" dan "bahu", ketika pola head and shoulders bottom muncul pada grafik kandil, dapat terlihat jelas 3 lembah yang muncul, secara berurutan yaitu "bahu kiri", "kepala", "bahu kanan", pola ini dianggap sebagai pola pembalikan bottom.
Setelah harga turun, muncul satu kali rebound membentuk "bahu kiri", setelah rebound mudah tertekan oleh aksi jual dari yang ingin lepas dari kerugian, membuat harga turun lagi dan turun lebih dalam, menembus titik terendah penurunan sebelumnya, kemudian muncul lagi satu kali rebound membentuk "kepala", dan ketinggian rebound kali ini kurang lebih sama dengan ketinggian sebelumnya.
Harga melakukan penurunan ke-3, tetapi amplitudo penurunan kali ini kurang lebih sama atau lebih kecil dari yang pertama, membentuk "bahu kanan", jika kedua titik high rebound ini dihubungkan menjadi satu garis, akan membentuk "neckline", neckline tidak selalu horizontal, terkadang bisa sedikit miring.
Ketika harga muncul "kandil bullish besar bervolume tinggi" menembus neckline dan tidak kembali ke bawah neckline lagi, menandakan pola head and shoulders bottom terkonfirmasi, probabilitas kenaikan ke depan lebih besar.
5. Pola Pembalikan: Head and Shoulders Top
Pola Head & Shoulders Top kebalikan dari head and shoulders bottom, tetapi sama-sama terdiri dari "kepala" dan "bahu", terlihat seperti sebuah gunung, pola head and shoulders top dianggap sebagai pola pembalikan top.
Setelah harga mengalami satu putaran kenaikan, muncul pullback membentuk "bahu kiri", kembali ke tren naik asli, setelah menembus titik high sebelumnya membentuk "kepala", harga turun lagi, dan kedalaman penurunan kali ini lebih dalam, mencapai sekitar titik low sebelumnya, kemudian naik lagi membentuk "bahu kanan", tetapi kekuatan kenaikan kali ini tidak cukup, tidak melewati titik high sebelumnya.
Akhirnya harga turun dan menembus neckline, pola head and shoulders top terkonfirmasi. Perlu diperhatikan, neckline tidak selalu horizontal, terkadang bisa sedikit miring.
Ketika harga muncul "kandil bearish besar dengan body panjang" menembus neckline dan tidak kembali ke atas neckline, menandakan pola head and shoulders top terkonfirmasi, probabilitas penurunan harga ke depan lebih besar.
Tips: Kandil bearish besar dengan body panjang yang menembus neckline tidak selalu harus "bervolume", tetapi jika muncul kandil bearish besar dengan body panjang yang menembus neckline "bervolume", maka penurunan selanjutnya mungkin lebih kuat.
6. Pola Pembalikan: Double Bottom (W Bottom)
Double Bottom juga disebut W bottom, karena pola ini mirip dengan huruf Inggris "W", sehingga biasanya disebut "W bottom".
Pola ini biasanya muncul setelah harga mengalami satu gelombang penurunan, terjadi rebound pertama membentuk kaki pertama (bottom kiri), kemudian turun lagi ke sekitar titik low sebelumnya, melakukan rebound kedua membentuk kaki kedua (bottom kanan), sampai harga berhasil breakout titik high sebelumnya (posisi neckline), menandakan pola W bottom terkonfirmasi.
Dalam rentang konsolidasi bottom terjadi dua kali pembentukan bottom, muncul bottom kiri dan bottom kanan, biasanya bottom kanan kurang lebih sama atau sedikit lebih tinggi dari bottom kiri, tetapi ada juga kemungkinan bottom kanan lebih rendah dari bottom kiri.
Umumnya, setelah harga breakout neckline, pullback tidak akan menembus posisi neckline, tetapi jika setelah breakout harga kembali menembus posisi neckline, berarti pola gagal, jika trader yang beli karena melihat pola breakout muncul, pada saat ini harus bersiap untuk exit.
7. Pola Pembalikan: Double Top (M Top)
Double Top juga disebut M top, karena pola ini mirip dengan huruf Inggris "M", sehingga biasanya disebut "M top".
Pola ini biasanya muncul setelah harga mengalami satu gelombang kenaikan, terbentuk pada posisi high relatif, pullback pertama harga membentuk bahu kiri, kemudian naik lagi ke sekitar titik high sebelumnya (biasanya tidak melewati high sebelumnya), melakukan penurunan kedua membentuk bahu kanan.
Sampai harga menembus titik low penurunan sebelumnya (posisi neckline), baru secara resmi menandakan pola terkonfirmasi.
8. Pola Pembalikan: Triple Bottom
Pola Triple Bottom juga disebut "triple bottom", adalah setelah periode konsolidasi yang panjang, harga berfluktuasi dalam rentang tertentu, naik ke level tertentu akan bertemu tekanan jual, turun ke level tertentu akan muncul aksi beli, polanya mirip dengan pola box.
Triple bottom di area pembentukan bottom, garis yang menghubungkan titik high di atas rentang jelas membentuk tekanan, dan tekanan ini adalah tekanan neckline, garis yang menghubungkan titik low di bawah rentang membentuk support, sampai harga breakout neckline dengan volume, pola terkonfirmasi.
9. Pola Pembalikan: Triple Top
Pola Triple Top juga disebut "triple top", pola ini juga setelah periode konsolidasi yang panjang, setelah harga mengalami satu gelombang kenaikan kemudian konsolidasi sideways di posisi high relatif, naik ke level tertentu akan bertemu tekanan jual, turun ke level tertentu akan muncul aksi beli, polanya mirip dengan pola box.
Triple top di bawah rentang, garis yang menghubungkan titik low jelas membentuk support, dan garis support ini adalah neckline, ketika suatu hari harga menembus neckline, menandakan pola top terkonfirmasi, harga ke depan cenderung turun.
10. Pola Pembalikan: Rounding Bottom
Pola Rounding Bottom berarti harga dalam proses fluktuasi menunjukkan pergerakan melengkung, biasanya pembentukan pola ini membutuhkan waktu yang sangat lama.
Selama proses penurunan volume akan secara bertahap menyusut, harga terus menembus bottom, sampai di area bottom secara bertahap mulai muncul aksi beli, membuat harga naik secara bertahap, volume juga ikut meningkat secara bertahap.
Umumnya pada pola rounding bottom, volume terbesar ada di sisi kiri dan kanan, sedangkan di proses tengah volume menunjukkan kondisi lesu. Sampai harga muncul "kandil bullish besar bervolume" menembus tekanan neckline, baru pola dapat terkonfirmasi.
11. Pola Pembalikan: Wedge
Pola Wedge berarti harga bergerak dalam dua garis lurus dengan arah yang sama dan semakin konvergen, kedua garis tren ini terdiri dari garis yang menghubungkan puncak gelombang (titik high) dengan puncak gelombang, dan garis yang menghubungkan lembah gelombang (titik low) dengan lembah gelombang.
Performa fluktuasi harga selama periode konvergensi biasanya menunjukkan keadaan yang semakin melemah dari gelombang ke gelombang, dan selama periode ini volume biasanya secara bertahap menurun, dan pola wedge ini dapat dibagi menjadi dua bentuk: "rising wedge" dan "falling wedge".
Munculnya pola wedge biasanya dianggap sebagai tanda harga akan segera reversal, yaitu, di akhir tren naik muncul rising wedge cenderung membentuk top, karena kondisi kenaikan yang semakin melemah, setelahnya harga mudah mengalami pembalikan turun.
Sebaliknya, ketika di akhir tren turun muncul falling wedge cenderung membentuk bottom, karena kondisi penurunan yang semakin melemah, harga selanjutnya mudah mengalami pembalikan naik.
12. Pola Pembalikan: False Breakdown
Pola False Breakdown biasanya muncul setelah harga mengalami penurunan selama beberapa waktu, mulai konsolidasi membentuk bottom di posisi low relatif, dan dalam proses pembentukan bottom, harga sekali lagi menembus dasar rentang (posisi support), tetapi dalam waktu singkat kembali lagi ke dalam rentang konsolidasi asli.
Sederhananya, harga terlebih dahulu "menembus bottom" kemudian "kembali" ke rentang, itulah yang disebut pola "false breakdown".
Munculnya pola seperti ini biasanya berarti dasar rentang ini memiliki kekuatan support yang kuat, yaitu, area support ini ada yang menjaganya (membeli).
Oleh karena itu, jika pada saat ini trader ingin entry dapat masuk membangun posisi ketika harga kembali ke rentang konsolidasi asli, di sekitar area support bottom, dengan syarat bottom ini berfungsi menopang harga.
13. Pola Pembalikan: Island Reversal
Island reversal sesuai namanya bentuknya seperti "pulau kecil yang terisolasi", di sisi kiri dan kanan pulau masing-masing akan muncul gap, posisi kedua gap simetris, dan berada di rentang harga yang sama.
Sisi kiri biasanya merupakan exhaustion gap, sisi kanan merupakan breakout gap, munculnya pola ini sering digunakan untuk menentukan sinyal pembalikan tren, biasanya island reversal di bottom akan disertai volume yang lebih besar.
Jika gap pembalikan semakin besar berarti kekuatan pembalikan tren semakin kuat; sebaliknya, jika gap pembalikan lebih kecil dari gap tren asli, mudah gagal reversal.
Munculnya pola ini biasanya setelah satu gelombang kenaikan, berada di posisi high relatif, selama proses kenaikan harga, orang-orang yang melihat harga terus naik tetapi tidak berani mengejar, ditambah media berita terus mengeluarkan berita positif, membuat orang-orang ini akhirnya tidak tahan dan masuk mengejar harga tinggi.
Harga setelah adanya aksi beli pengejaran muncul gap membuat harga akhirnya melesat, dan orang-orang yang beli di bottom pada saat ini memilih ambil untung, ketika selanjutnya kurangnya kekuatan aksi beli, harga mudah masuk fase koreksi.
Jika pada saat ini muncul pola island reversal, perlu diperhatikan apakah tren mungkin mengalami perubahan, pergerakan harga mungkin mulai turun.
Dengan prinsip yang sama, jika harga setelah satu gelombang penurunan koreksi, berada di area low relatif, muncul pola island reversal, juga perlu diperhatikan apakah tren akan segera berubah, pergerakan harga mungkin mulai rebound naik.
Kesimpulan
Trader dalam menggunakan pola grafik teknikal juga perlu memperhatikan satu hal, setiap orang terbiasa melihat grafik harga dengan timeframe yang berbeda, ada yang melihat grafik 3 bulan, ada yang melihat grafik 1 tahun, di dalamnya ada pola besar, pola kecil, dalam interpretasi pasti akan menemui hal-hal yang saling bertentangan. Jadi dalam penggunaannya, harus menetapkan satu timeframe yang konsisten, jika hari ini melihat jangka panjang, besok melihat jangka pendek, kamu mungkin akan mudah bingung.
Pasar berubah-ubah, setiap saham atau setiap instrumen trading pergerakannya tidak sama, apa kesamaannya? Tetapi analisis teknikal adalah hasil dari statistik besar yang dikompilasi, membuat referensi yang valid, mengharapkan sejarah terulang kembali, sehingga para ahli trading mengumpulkan statistik besar dari grafik pergerakan historis, menemukan banyak harga sebelum naik atau turun, akan menunjukkan pergerakan yang serupa, dalam analisis teknikal kita menyebutnya "morfologi".
Jika bisa memahami morfologi di pasar trading, kita juga bisa melihat tanda-tanda kenaikan dan penurunan harga sebelumnya, bukankah cukup menarik?