Chris Parry adalah trader profitabel yang tersertifikasi pasar. Sebagai trader profesional, ia ahli dalam analisis price action dan Ichimoku Cloud. Sebagai mentor trading, Chris menggunakan pengalaman tradingnya selama 18 tahun untuk mengajarkan seni trading kepada banyak trader. Ia memiliki reputasi terhormat di dunia trading Inggris dan mendapat julukan "Trader Kebanggaan Nasional" dari para muridnya.
Ciri terbesar dari materi pengajaran Chris adalah sederhana dan mudah dipahami. Ia tidak akan menggunakan grafik dan contoh yang terlalu rumit untuk "memamerkan" keahliannya, melainkan melalui contoh-contoh sederhana dan lugas membuat investor lebih mudah memahami konsep tradingnya.
Indikator teknikal Williams %R pertama kali diciptakan oleh maestro trading terkenal Larry Williams, dan bisa dibilang merupakan salah satu indikator teknikal yang paling umum digunakan di pasar. Beberapa investor profesional mengklaim win rate indikator ini terkadang bisa mencapai 85%. Dalam artikel hari ini, Chris akan berbagi aplikasi spesifik dari indikator teknikal Williams (%R).
Seperti semua indikator overbought/oversold, trader sebaiknya menunggu harga instrumen berubah arah sebelum membuka posisi. Misalnya, jika indikator overbought/oversold menunjukkan kondisi overbought, maka menunggu harga turun sebelum menjual adalah langkah yang bijak.
Seperti semua indikator overbought/oversold, sebaiknya tunggu harga mengubah sinyal sebelum kamu membuka order. Misalnya, jika harga sedang menunjukkan kondisi overbought, maka tunggu harga turun sebelum mengeksekusi penjualan (MACD adalah indikator yang baik untuk memantau perubahan harga). Bukan hal yang jarang ketika harga terus naik atau turun, indikator overbought/oversold akan bertahan dalam kondisi overbought/oversold untuk waktu yang lama. Menjual hanya karena saham terlihat overbought/oversold bisa membuatmu keluar posisi jauh sebelum harga menunjukkan sinyal pelemahan.
Fenomena menarik dari indikator teknikal Williams (%R) adalah kemampuannya yang ajaib dalam memprediksi pembalikan harga underlying. Indikator ini hampir selalu membentuk puncak dan berbalik turun beberapa hari sebelum harga underlying mencapai titik tertinggi dan turun. Demikian pula, indikator Williams (%R) biasanya membentuk palung dan berbalik naik beberapa hari sebelum harga underlying naik kembali.
1. Ketika garis %R mencapai -80, pasar berada dalam kondisi oversold, dan pergerakan harga mungkin akan segera mencapai bottom. Oleh karena itu, garis horizontal -80 umumnya disebut garis beli, di mana investor dapat menunggu kesempatan untuk membeli; sebaliknya, ketika garis %R mencapai 20, pasar berada dalam kondisi overbought, dan tren mungkin akan segera mencapai puncak, garis horizontal 20 disebut garis jual.
2. Ketika %R naik dari zona oversold, ini menunjukkan tren pasar mungkin berbalik. Umumnya, ketika %R menembus garis tengah -50, pasar berubah dari lemah menjadi kuat, yang merupakan sinyal beli; sebaliknya, ketika %R turun dari zona overbought dan menembus ke bawah garis tengah -50, dapat dikonfirmasi bahwa pasar kuat berubah menjadi lemah, yang merupakan sinyal jual.
3. Karena kondisi pasar yang berubah-ubah, setelah overbought bisa terjadi overbought lagi, setelah oversold bisa terjadi oversold lagi. Oleh karena itu, ketika %R memasuki zona overbought atau oversold, tren pasar tidak selalu langsung berbalik. Hanya ketika garis %R jelas berbalik, menembus garis jual atau menembus garis beli, barulah merupakan sinyal beli/jual yang tepat.
4. Saat menggunakan indeks Williams untuk menganalisis pasar, sebaiknya gunakan juga indeks kekuatan (RSI) secara bersamaan untuk verifikasi. Selain itu, ketika garis %R menembus atau menembus ke bawah garis tengah 50, juga dapat digunakan untuk mengkonfirmasi apakah sinyal indeks kekuatan sudah benar. Oleh karena itu, jika pengguna dapat menerapkan indeks Williams dengan benar, memanfaatkan fungsi komplementernya dengan indeks kekuatan dalam menganalisis pasar kuat/lemah dan fenomena overbought/oversold, maka dapat diperoleh penilaian yang lebih jelas tentang arah tren besar.
Berikut adalah rumus perhitungan indikator %R, yang sangat mirip dengan rumus perhitungan stochastic oscillator. Perbedaannya adalah Williams %R digambar terbalik, sedangkan stochastic indicator memiliki smoothing internal.
%R = 100 - (C - Ln) / (Hn - Ln) × 10
C adalah harga penutupan hari ini
Ln adalah harga terendah dalam n hari
Hn adalah harga tertinggi dalam n hari
Dalam rumus, n hari adalah parameter yang dipilih, umumnya diatur ke 14 hari atau 20 hari.
Nilai indikator antara -80% dan -100% menunjukkan harga aset oversold, nilai indikator antara 0 dan -20% menunjukkan overbought.
Indikator teknikal Williams (%R) dapat digunakan dalam berbagai skenario, yang dapat membantu kita menentukan:
1. Momentum;
2. Overbought dan oversold;
3. Kekuatan tren;
4. Serta sinyal beli dan jual potensial.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, indikator teknikal Williams (%R) sangat mirip dengan stochastic indicator, tetapi memiliki penerapan yang lebih luas, dapat bekerja dalam berbagai jenis kondisi pasar, termasuk pasar sideways dan pasar non-trading.
Satu-satunya perbedaan antara kedua indikator adalah prinsip matematika di baliknya. Indikator teknikal Williams (%R) menunjukkan perbandingan harga saat ini dengan harga tertinggi selama periode lookback. Secara default, indikator teknikal Williams (%R) diatur ke 14 periode. Pada grafik harian adalah 14 hari, pada grafik jam adalah 14 jam, dan seterusnya.
Jika kamu melihat angka 0 pada indikator teknikal Williams (%R), ini berarti pasar mendekati atau berada di atas titik tertinggi dalam periode waktu yang dipilih. Sebaliknya, jika kamu melihat pembacaan indikator -100, ini berarti pasar mendekati atau berada di bawah level terendah dalam periode waktu yang dipilih. Itulah penjelasan singkat tentang konsep indikator ini, sekarang mari kita masuk ke bagian demonstrasi aplikasi spesifik.
Contoh Penggunaan Indikator Teknikal Williams (%R)
Indikator teknikal Williams (%R) lebih cocok untuk short-term trading, oleh karena itu, kita akan fokus membahas penggunaannya dalam short-term trading.
Strategi #1: Menggunakan Indikator Teknikal Williams (%R) dalam Day Trading saat Konsolidasi
Seperti yang kita ketahui, sebagian besar waktu pasar dihabiskan untuk konsolidasi, tanpa kemajuan yang jelas. Oleh karena itu, jika kamu ingin bertahan dalam short-term trading, menguasai cara trading di range adalah hal yang krusial. Memilih waktu untuk pasar yang volatil tidaklah mudah. Pada fase konsolidasi, profitabilitas biasanya sangat rendah. Itulah mengapa kamu perlu mampu menemukan titik balik harga dengan presisi sniper. Sebelum kita mulai mencari sinyal trading, pertama-tama kita perlu menemukan pasar yang range bound.
Setelah mengidentifikasi pasar yang bergerak dalam range, langkah selanjutnya adalah menunggu indikator teknikal Williams (%R) mencapai nilai ekstrem.
Jika kita ingin membeli, kita ingin pembacaan indikator teknikal Williams (%R) berada di -100. Ini tidak hanya menunjukkan data oversold yang ekstrem, tetapi juga menunjukkan bahwa supply pasar sedang mengering. Jika indikator momentum memberikan sinyal yang akurat, pasar seharusnya akan rebound. Atau, setidaknya akan mencoba rebound dari kondisi oversold.
Aturan entry sangat sederhana:Entry ketika pembacaan %R mendekati -100, bersamaan dengan penutupan kandil.
Selain itu, kita juga ingin kandil yang mencapai pembacaan -100 memiliki range trading yang lebih besar daripada kandil sebelumnya. Dari sudut pandang teknikal, begitu pasar berbalik, ini akan menghilangkan resistance apa pun. Untuk strategi exit dan manajemen stop loss, kita dapat menempatkan protective stop loss di bawah support bottom range, dan take profit di bagian atas range.
Strategi 2: Day Trading saat Momentum Meledak Seiring Kenaikan Indikator Teknikal Williams
Selain menggunakan indikator teknikal Williams %R untuk mengidentifikasi pembacaan pasar overbought dan oversold, kita juga dapat menggunakannya untuk menangkap lonjakan momentum yang terlihat pada grafik harian. Mari kita pelajari bagaimana momentum trading bekerja dengan menggunakan indikator teknikal Williams %R.
Langkah pertama: Gambar garis pada level -50 indikator teknikal Williams %R
Strategi momentum akan didasarkan pada garis level -50. Untuk mengidentifikasi sinyal trading potensial dengan lebih baik dan cepat, kita menambahkan garis pada level -50. Ketika indikator %R melewati level -50, ini menandakan perubahan momentum.
Kita juga mengubah indeks oversold dan overbought masing-masing menjadi -90 dan -10. Sekarang, mari kita definisikan kondisi apa yang diperlukan sebelum memicu trade.
Langkah kedua: Beli ketika indikator bergerak dari pembacaan oversold ke garis level -50
Sebelum membeli dengan penuh keyakinan, ada dua kondisi yang perlu dipenuhi:
Pertama, kita perlu melihat %R di zona oversold. Jika pembacaannya di bawah -90, kita menganggap pasar oversold. Kedua, kita perlu melihat indikator bergerak dari zona oversold, dan menembus ke atas garis level -50 dari bawah.
Perubahan momentum ini menunjukkan bahwa kita dapat mulai mencari peluang trading ke arah breakout dari level -50. Dalam contoh ini, begitu indikator momentum menembus level -50, kita langsung membeli.
Kesimpulan
Singkatnya, indikator teknikal Williams %R adalah alat yang luar biasa yang dapat membantu kita menentukan level tinggi dan rendah pasar secara akurat. Ini berarti trader tidak perlu menunggu pasar berbalik, dan memiliki kesempatan untuk entry trading sejak awal rebound atau penurunan. Kamu dapat merujuk ke salah satu strategi di atas, tetapi pastikan strategi tersebut sesuai dengan siklus pasar saat ini, dan juga sesuai dengan kepribadian trading kamu sendiri.