Mengalami drawdown besar saat meningkatkan posisi secara cepat adalah hal yang sangat umum. Selama dana akun memungkinkan, peningkatan posisi harus dilakukan secara bertahap untuk menghindari kecemasan atau emosi lain yang dapat merusak performa trading. Berikut beberapa cara konkretnya.
Hubungan Antara Ukuran Posisi dan Profit
Pada dasarnya, ada dua cara agar trading kamu menghasilkan lebih banyak uang:
◎ Meningkatkan tingkat pengembalian per trade pada posisi saat ini. Sederhananya, membuat teknik trading kamu lebih mahir.
◎ Seiring pertumbuhan dana akun, secara bertahap meningkatkan rata-rata ukuran posisi trading kamu, untuk mendapatkan keuntungan absolut yang lebih besar melalui posisi yang lebih besar.
Meningkatkan tingkat pengembalian tentu bagus. Ini biasanya berasal dari mengurangi kesalahan trading dan mengeksekusi strategi dengan lebih efektif. Meningkatkan persentase pengembalian adalah salah satu cara untuk memeras lebih banyak keuntungan dari akun.
Tapi sebagian besar trader juga ingin akun mereka terus tumbuh. Ketika akun tumbuh, untuk mempertahankan tingkat pengembalian yang serupa, ukuran posisi juga harus meningkat.
Misalnya, jika kamu biasanya menginvestasikan Rp20.000.000 pada satu saham, dan total akun kamu Rp100.000.000, asumsikan kamu bisa mendapatkan 50% pengembalian per tahun (yaitu profit akun Rp50.000.000).
Tahun berikutnya, akun kamu tumbuh menjadi sekitar Rp150.000.000. Jika kamu masih hanya menginvestasikan Rp20.000.000 setiap kali, kemungkinan besar kamu masih hanya bisa mendapatkan Rp50.000.000 (dengan asumsi kondisi pasar serupa). Tapi saat itu, Rp50.000.000 hanya mewakili 33% tingkat pengembalian dari akun kamu. Ukuran posisi tidak tumbuh seiring skala akun, menyebabkan persentase pengembalian kamu menurun.
Pada contoh pertama, ukuran posisi per trade adalah 20% dari saldo akun (Rp20.000.000 / Rp100.000.000); pada contoh kedua, ukuran posisi turun menjadi 13,3% (Rp20.000.000 / Rp150.000.000).
Situasi idealnya adalah: seiring pertumbuhan akun, ukuran posisi trading juga meningkat. Dengan begitu, kamu bisa mempertahankan tingkat pengembalian yang serupa saat akun membesar.
Untuk mempertahankan eksposur risiko yang sama, setelah akun mencapai Rp150.000.000, ukuran posisi per trade harus ditingkatkan menjadi Rp30.000.000. Jika kondisi pasar serupa, kamu masih mungkin mendapatkan 50% pengembalian lagi, dan profit kali ini bisa mencapai Rp75.000.000, bukan Rp50.000.000 seperti tahun sebelumnya.
Logika yang sama juga berlaku untuk kontrol risiko berdasarkan persentase akun. Jika kamu hanya mengambil risiko 1% per trade, maka ketika akun Rp100.000.000, kerugian maksimum per trade adalah Rp1.000.000. Asumsikan dengan cara ini kamu bisa mendapatkan 40% pengembalian per tahun (tentu saja angka spesifiknya harus ditetapkan berdasarkan kemampuan strategi kamu), maka tahun berikutnya akun menjadi Rp140.000.000, dan risiko yang bisa kamu tanggung meningkat menjadi Rp1.400.000/trade. Jika kamu masih hanya mengambil risiko Rp1.000.000, persentase pengembalian kamu kemungkinan besar akan menurun.
Seiring pertumbuhan akun, ukuran posisi juga harus tumbuh, selama kamu belum mencapai "bottleneck" psikologis atau strategi. Tapi perhatikan, ketika ukuran posisi tumbuh sampai tingkat tertentu, bisa memicu kecemasan atau gangguan emosi lain, yang mempengaruhi eksekusi trading.
Masalah yang Dihadapi Saat Meningkatkan Ukuran Posisi
Kita semua ingin meningkatkan ukuran posisi. Jika strategi kita bisa menghasilkan 30% pengembalian per tahun, kita tentu ingin menggunakan modal kita sebanyak mungkin dengan risiko yang terkendali, untuk mencapai 30% pengembalian tersebut. Jika kita menggunakan ukuran posisi di bawah level ideal, hasil akhirnya juga akan di bawah level yang seharusnya bisa dicapai (misalnya 30% tersebut).
Sebagai contoh: dalam jangka panjang, pengembalian tahunan rata-rata investasi di indeks S&P 500 adalah sekitar 10%. Jika kamu memiliki $1.000.000 (sekitar Rp16 miliar) dan menginvestasikan seluruh dana ke ETF S&P 500, maka selama bertahun-tahun kamu kemungkinan besar akan mendapatkan pengembalian tahunan rata-rata 10%. Tapi jika kamu hanya menginvestasikan $500.000 (sekitar Rp8 miliar), dan sisanya disimpan di bawah kasur, maka pengembalian tahunan rata-rata keseluruhan kamu mungkin hanya 5% (bagian $500.000 mendapat 10%, bagian lainnya mendapat 0%).
Meskipun kita ingin meningkatkan ukuran posisi untuk memaksimalkan keuntungan, seiring posisi membesar, manusia sering menghadapi hambatan psikologis.
Secara teori, kita bisa berkata pada diri sendiri: "Mengambil risiko 1% saat akun kecil dan akun besar itu sama saja."
Tapi dalam kenyataannya, apakah kita benar-benar bisa berpikir seperti itu?
Bagi banyak orang yang tinggal di negara Barat, ketika akun $100 (sekitar Rp1.600.000), risiko 1% hanya $1 (sekitar Rp16.000). Mereka sama sekali tidak akan peduli apakah $1 itu hilang. Pikiran santai, tanpa kecemasan sama sekali terhadap trading, bahkan risikonya terlalu kecil sehingga mereka tidak akan serius memperhatikan trade tersebut.
Tapi bagaimana jika kamu mengambil risiko 1% dari akun $500.000 (sekitar Rp8 miliar)? Itu berarti satu trade bisa merugi $5.000 (sekitar Rp80 juta), dan profitnya bisa lebih besar lagi. Bagi banyak orang, itu sudah setara gaji sebulan penuh. Segalanya menjadi lebih "terasa". Apakah kamu masih orang yang tenang? Ketika satu trade bisa membuatmu rugi $5.000, apakah kondisi psikologismu sudah berubah? Ini masih tetap hanya 1%.
Lalu bagaimana jika akunnya $1.000.000 (sekitar Rp16 miliar), risiko 1% berarti satu trade merugi $10.000 (sekitar Rp160 juta). Apakah saat itu kamu mulai gugup? Apakah kamu mulai berpikir apakah trade ini selesai dalam 5 menit atau dipegang selama 5 tahun? Timeframe yang berbeda bisa memberikan tekanan psikologis yang sangat berbeda bagimu.
Setiap orang memiliki "titik keringat" (titik kritis psikologis) yang berbeda. Titik ini adalah titik balik di mana kamu beralih dari tenang dan santai menjadi cemas dan tegang. Pemicunya sering kali adalah ukuran posisi trading yang terlalu besar atau jumlah potensi kerugian yang terlalu tinggi sehingga menimbulkan beban psikologis.
Jika kamu sudah terbiasa menangani dana besar, maka mengambil risiko $10.000 atau $50.000 mungkin terasa biasa saja seperti makan sandwich. Tapi bagi orang lain, melihat satu trade mengalami floating loss $20 atau $200 bahkan $500 saja sudah cukup membuat mereka hancur. "Ya Tuhan, ini uang yang sangat banyak!" Kecemasan yang dipicu oleh angka-angka ini akan mengganggu penilaian kita dan menghalangi kita membuat keputusan trading yang rasional.
Cara Benar Melampaui "Titik Keringat": Tingkatkan Ukuran Posisi Secara Bertahap
Kamu mungkin belum tahu di mana "titik keringat" kamu. Mungkin juga kamu sudah mengalaminya: setelah ukuran posisi membesar, performa trading mulai memburuk, tapi kamu tidak tahu kenapa — sampai saat ini baru menyadarinya.
Begitu kita menyentuh titik kritis psikologis, kita akan menjadi cemas saat trading. Mekanisme "fight or flight" di otak teraktifkan, kemampuan berpikir jernih menurun, dan bagian otak yang paling kita butuhkan untuk trading justru tidak berfungsi saat itu.
Ketika kamu menyadari bahwa kamu cemas karena ukuran posisi, kamu harus mengurangi ukuran posisi dan mundur ke level yang terasa nyaman bagimu.
Contoh: jika kamu awalnya mengontrol risiko berdasarkan 1% dari saldo akun, sekarang coba sesuaikan ke 0,9% atau 0,8%; atau jika kamu awalnya menginvestasikan $50.000 per trade, sekarang turunkan ke $45.000 atau $40.000.
Meskipun eksposur risiko kamu sekarang di bawah level "ideal" yang bisa ditanggung akun, ini tetap worth it. Daripada trading dengan kecemasan dan membuat kesalahan yang merugikan, mengurangi ukuran posisi justru pilihan yang lebih bijak.
Pada titik ini, kamu sudah mengetahui "titik keringat" kamu. Di balik titik ini, sering tersembunyi serangkaian keyakinan bawah sadar kamu tentang uang. Untuk menembus penghalang psikologis ini, kamu harus memperluasnya secara perlahan.
Caranya sebagai berikut:
Mundur sedikit dari "titik keringat", kembali ke zona nyaman dulu; lalu buat rencana (mingguan atau bulanan) untuk secara bertahap meningkatkan ukuran posisi.
Misalnya: kamu awalnya trading 100 lembar saham, tahap berikutnya coba 105 lembar; awalnya menginvestasikan $5.000 per trade, langkah berikutnya coba $5.100 atau $5.200; awalnya trading forex menggunakan 5 mini lot, sekarang coba tingkatkan ke 6 atau 7.
Dalam proses ini, lakukan beberapa trade dan observasi perasaan psikologismu. Jika kondisinya baik, lain kali tambah sedikit lagi. Jangan terburu-buru,否则 kamu mungkin harus mundur lagi dan menyesuaikan ulang.
Disarankan dalam proses "memperluas posisi" ini, kamu melakukan latihan visualisasi: bayangkan dirimu trading dengan posisi yang lebih besar; bayangkan angka-angka yang muncul di akun saat profit dan loss; latih diri untuk "bernapas melewati" ketidaknyamanan ini sambil tetap mengeksekusi strategi trading kamu.
Seiring bertambahnya pengalaman, kamu akan menghadapi semakin banyak "penghalang" psikologis. Kamu bisa memilih menghormati penghalang ini dan tetap di level saat ini; atau memilih mengikuti metode di atas, menembusnya satu langkah demi satu langkah.
Tentu saja, beberapa hambatan psikologis mungkin cukup dalam dan memerlukan penggalian batin yang lebih dalam, bahkan bisa mempertimbangkan bantuan psikolog atau coach performa trading untuk membantumu menembusnya.
Saat Trading, Sebisa Mungkin Lepaskan Pikiran Tentang Uang
Meskipun kita terus mengingatkan diri sendiri "jangan memikirkan uang", selama proses trading, kita tetap tidak bisa menahan diri untuk memikirkannya. Semakin besar ukuran posisi, semakin mudah pikiran tentang uang muncul di kepala (sampai kita benar-benar terbiasa dengan ukuran posisi tersebut). Beberapa trader menyembunyikan tampilan profit/loss saat trading, jika ini membantumu menjaga emosi, itu sama sekali tidak masalah. Tapi pada akhirnya, kita tidak mungkin sepenuhnya menghindari pikiran-pikiran acak ini. Pikiran tentang berapa banyak yang kita hasilkan, atau berapa banyak yang mungkin kita rugikan akan selalu muncul dan memicu fluktuasi emosi.
Kita tidak bisa sepenuhnya menghilangkan pikiran-pikiran ini, tapi kita bisa belajar menggantinya dengan konten pemikiran yang lebih bernilai. Ketika pikiran tentang uang muncul, kita harus membangun kebiasaan: kenali itu, lalu segera ganti dengan pikiran-pikiran berikut:
◎ Kamu sudah menguji dan mempercayai sistem trading kamu
◎ Kamu tidak bisa mengontrol hasil akhir dari trade manapun
◎ Yang harus kamu lakukan adalah fokus pada eksekusi aturan entry dan exit, serta mengapa kamu mempertahankan aturan-aturan tersebut
Pikiran tentang uang akan muncul, dan hampir pasti akan terus muncul. Tapi ini tidak berarti pikiran-pikiran itu harus mengganggu kondisi trading kamu. Kamu bisa memilih untuk mengalihkan perhatian kembali ke hal yang benar-benar harus dilakukan. Latih proses ini berulang kali. Trader yang sukses bukanlah mereka yang tidak pernah memikirkan profit/loss, tapi mereka yang meskipun pikiran-pikiran itu sering datang, tetap bisa membawa fokus kembali ke hal yang harus dilakukan.
Waspadai Overconfidence dalam Proses Trading
Overconfidence adalah pembunuh trader.
Jika performa trading kamu belakangan ini sangat baik, kamu mungkin merasa bersemangat, euforia, bahkan sedikit sombong — ini adalah manifestasi khas dari overconfidence.
Dan kondisi ini sering kali menutupi "titik keringat" kita yang sebenarnya.
Ketika kita dengan cepat menumbuhkan akun dalam jangka pendek, kecenderungan banyak orang adalah meningkatkan ukuran posisi secara besar-besaran, berharap mendapatkan lebih banyak.
Inilah yang menjadi pemicu banyak trader "margin call" (kerugian besar, bahkan hingga nol). Penyebabnya biasanya meliputi:
◎ Periode kemenangan itu mungkin hanya keberuntungan, dan trader sebenarnya tidak benar-benar memahami apa yang dilakukannya;
◎ Atau trader menjadi sombong, merasa dirinya sudah "tak terkalahkan", sehingga mengabaikan prinsip-prinsip yang dulu membantunya sukses, mulai trading sembarangan, dan tidak lagi mengikuti strategi yang telah ditetapkan;
◎ Atau, overconfidence untuk sementara menutupi "titik keringat" mereka. Ketika suatu trade tidak lagi "mudah menghasilkan uang" seperti sebelumnya, rasa takut tiba-tiba menyerang. Saat itu, pikiran mulai kacau, kesalahan sering terjadi.
Saya telah melihat banyak kasus seperti ini — beberapa trader hancur dalam semalam, yang lain perlahan-lahan kehilangan kendali dalam beberapa bulan. Baik itu beberapa kesalahan kecil berturut-turut, atau satu kesalahan besar yang tidak segera di-stop loss, semuanya cukup untuk menghancurkan trader yang telah sukses bertahun-tahun.
Jadi, tetap waspada. Jika kamu baru saja memiliki rekor trading yang luar biasa, pertimbangkan untuk memperlambat ritme peningkatan ukuran posisi, lebih lambat dari yang secara teoritis bisa kamu terima. Kamu masih maju, tapi juga lebih mungkin menghindari situasi kehilangan kendali emosi seperti "ditelan rasa takut saat trading", sehingga menghindari kesalahan yang menumpuk.
Tentu saja, jika kamu menemukan bahwa kamu masih tenang dengan posisi yang lebih besar, dan emosimu stabil, kamu bisa terus meningkatkan ukuran posisi dalam batas toleransi risiko kamu.
Kesimpulan dalam satu kalimat: Kekuatan psikologis dalam trading tidak hanya terjadi saat kamu kalah, tapi juga diam-diam datang saat kamu "menang terlalu cepat". Mampu mengendalikan kondisi dirimu sendiri adalah prasyarat untuk mengendalikan pasar.
Saran Terakhir untuk Meningkatkan Ukuran Posisi dengan Benar
Beberapa orang memiliki lebih banyak hambatan psikologis tentang "uang" dibandingkan orang lain. Latar belakang pertumbuhan kita berbeda, dan kita memiliki pandangan serta keyakinan yang berbeda tentang uang.
Beberapa orang akan cepat mencapai hambatan psikologis — bahkan hanya kemungkinan kehilangan sedikit uang sudah cukup membuat mereka cemas. Hormati perasaan ini, dan tingkatkan ukuran posisi secara bertahap dan perlahan, untuk memastikan kamu trading dalam zona psikologis yang nyaman, sehingga bisa tampil optimal.
Jika hanya memikirkan kehilangan sedikit uang saja sudah membuatmu cemas, maka kamu kemungkinan besar perlu menangani masalah psikologis ini terlebih dahulu sebelum mulai trading, atau mempertimbangkan apakah trading benar-benar cocok untukmu.
Ada juga sebagian orang yang hampir tidak pernah mengalami hambatan psikologis terkait ukuran posisi. Mereka trading dengan $10.000.000 (sekitar Rp160 miliar), sama santainya seperti bertaruh $5 dengan teman.
Dalam proses trading kamu, belajarlah untuk menyadari emosi kamu dan temukan cara mengatasinya.
Salah satu caranya adalah memperluas batas psikologis kamu secara perlahan. Cara lain yang lebih mendalam adalah memeriksa keyakinan-keyakinan yang menciptakan hambatan tersebut. Keyakinan ini mungkin didasarkan pada informasi yang salah yang diberitahukan orang lain kepadamu sejak lama. Kita bisa mempertanyakan keyakinan ini dan menggantinya dengan pemikiran yang lebih positif dan konstruktif.
Ada juga cara lain yaitu berdialog dengan suara batinmu yang merasa takut atau cemas. Suara itu mungkin berkata: "Wah, posisi ini terlalu besar! Ini uang yang sangat banyak!" atau membuat perutmu terasa kencang. Jika kita bisa berdialog dengan baik dengan "suara batin" yang memicu kecemasan itu, dan menenangkannya, maka kita mungkin bisa meredakan hambatan psikologis ini, sehingga bisa menghilangkannya.
Pada saat yang sama, teruslah berlatih: ganti pikiran "berapa banyak yang mungkin saya hasilkan/rugikan" dalam trading kamu, dengan pemikiran "mengapa saya masuk atau keluar di posisi ini".
Disclaimer: Konten artikel ini tidak merupakan saran investasi pribadi apapun, dan juga tidak merupakan saran untuk membeli atau menjual aset apapun. Trading memiliki risiko tinggi, dapat menyebabkan kerugian besar, dan penggunaan leverage bahkan dapat menyebabkan kerugian melebihi modal akun kamu.