Analisis teknikal adalah metodologi yang digunakan untuk trading di pasar. Metode ini memanfaatkan data harga historis (atau volume) untuk membantumu mengambil keputusan trading.
Ada ratusan alat analisis teknikal di pasaran, tapi sebagian besar bisa dikategorikan ke dalam beberapa kelompok berikut:
◎ Volume
◎ Indikator
◎ Pola grafik
◎ Support dan resistance
Tapi masalahnya adalah……
Meskipun memiliki banyak alat ini (seperti RSI, MACD, Stochastic, Fibonacci, dll.), sebagian besar trader tetap rugi saat menggunakan analisis teknikal.
Mengapa bisa begitu?
Biasanya karena mereka melakukan salah satu dari kesalahan berikut……
Tidak punya trading plan (menimbulkan "masalah tak terduga")
Izinkan saya bertanya satu hal……
"Entry yang penting, atau exit yang penting?"
Sebagian besar trader sangat fokus pada entry, menganggap entry yang bagus akan menjamin profit.
Karena itu, mereka terutama menggunakan analisis teknikal untuk menentukan timing entry. Tapi menemukan titik entry yang sempurna di setiap trade itu mustahil.
Tanpa trading plan, banyak pertanyaan krusial akan menggantung tanpa jawaban: Bagaimana jika pasar bergerak berlawanan? Kapan kamu jual jika setelah profit harga berbalik? Jika suatu trade tiba-tiba profit, apa yang kamu lakukan?
Jelas, trading jauh lebih dari sekadar menemukan titik entry terbaik.
Untuk menjadi trader yang konsisten profit, kamu harus punya trading plan yang memandumu menghadapi apa pun yang terjadi di pasar.
Kesalahan umum kedua adalah:
Tidak punya trading edge (menutupi kerugian yang terus berlanjut)
Jadi, apa tujuan sebenarnya dari analisis teknikal?
Analisis teknikal membantumu membangun sistem trading yang memiliki edge di pasar.
Lalu, apa itu edge? Edge (alias ekspektasi) adalah kemampuan aktivitas trading-mu untuk menghasilkan profit bersih dalam jangka panjang.
Rumus matematikanya adalah:
E = (win rate × rata-rata profit) – (losing rate × rata-rata rugi)
Saya beri beberapa contoh untuk menjelaskan cara kerja rumus ini……
Contoh 1:
◔ Win rate: 70%
◔ Rata-rata profit: $80 (sekitar Rp1.280.000)
◔ Losing rate: 30%
◔ Rata-rata rugi: $100 (sekitar Rp1.600.000)
E = (0.7 × 80) – (0.3 × 100) = $26 (sekitar Rp416.000)
Artinya ekspektasi profit per trade-mu adalah $26. Jadi setelah 100 trade, kamu kira-kira bisa mendapat $26 × 100 = $2.600 (sekitar Rp41.600.000).
Kamu mungkin berpikir……
"Jadi saya butuh win rate yang tinggi untuk menjadi trader yang profit?"
Bukan begitu.
Lihat contoh lain di mana win rate tinggi tapi tetap rugi……
Contoh 2:
◔ Win rate: 70%
◔ Rata-rata profit: $10 (sekitar Rp160.000)
◔ Losing rate: 30%
◔ Rata-rata rugi: $100 (sekitar Rp1.600.000)
E = (0.7 × 10) – (0.3 × 100) = -$23 (sekitar -Rp368.000)
Artinya ekspektasi rugi per trade-mu adalah $23.
Ini menunjukkan bahwa win rate atau risk-reward ratio (R:R) saja, tanpa konteks, adalah angka yang tidak bermakna.
Kamu perlu mempertimbangkan kedua faktor ini secara bersamaan untuk memvalidasi apakah sistem trading-mu memiliki edge.
Peran inti analisis teknikal adalah membantumu membangun sistem trading yang memiliki edge.
Jadi, tanyakan pada dirimu dengan jujur……
"Apakah sistem trading-mu benar-benar punya edge?"
Jika kamu tidak bisa menjawab pertanyaan ini, biasanya itu karena kamu masih……
Tidak punya data (menyebabkan kurangnya disiplin eksekusi)
Tanpa data, kamu tidak bisa mendefinisikan edge trading-mu, tidak bisa memvalidasi apakah sistem trading-mu efektif, dan tidak bisa mempertahankan disiplin yang dibutuhkan untuk mengikuti aturan trading.
Faktanya, ini biasanya menyebabkan trader menyerah pada sistem trading mereka setelah mengalami beberapa kali rugi.
Jadi, pertama-tama, kamu harus melacak data berikut……
◔ Annual return % (tingkat pengembalian tahunan)
◔ Number of trades (jumlah trade)
◔ Maximum drawdown % (persentase drawdown maksimum)
◔ Winning rate % (win rate)
◔ Losing rate % (tingkat kerugian)
◔ Average gain $ (rata-rata profit)
◔ Average loss $ (rata-rata rugi)
Sekarang kamu mungkin berpikir:
"Bagaimana cara mendapatkan data ini?"
Ada dua cara.
Pertama, catat trading journal-mu dan kumpulkan data ini seiring waktu. Tapi ini sangat memakan waktu, kamu mungkin butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mendapatkan sampel yang signifikan.
Cara lainnya adalah backtest (ini metode yang lebih saya rekomendasikan). Saya akan bahas lebih detail nanti……
Tapi sekarang mari kita bahas alasan lain yang menyebabkan sebagian besar trader gagal:
Tidak punya manajemen risiko (menghempaskan banyak akun)
Bayangkan ada dua trader: John dan Sally.
◔ Masing-masing punya $1.000 (sekitar Rp16.000.000) di akun mereka
◔ Win rate mereka 50%
◔ Rata-rata risk-reward ratio mereka 1:2
◔ John mempertaruhkan $250 (sekitar Rp4.000.000) per trade
◔ Sally mempertaruhkan $20 (sekitar Rp320.000) per trade
Hasil 8 trade berikutnya adalah:
Rugi, rugi, rugi, rugi, profit, profit, profit, profit.
Mari lihat hasil akun mereka:
Hasil John: -250 -250 -250 -250 = margin call
Hasil Sally: -20 -20 -20 -20 +40 +40 +40 +40 = +$80 (sekitar Rp1.280.000)
Sekarang kamu bisa memahami pentingnya manajemen risiko?
Sebagai trader, kamu pasti akan sering mengalami rugi, ini tidak bisa dihindari.
Tapi manajemen risiko yang tepat bisa mengendalikan kerugian, menjaganya dalam batas yang bisa ditanggung.
Ringkasnya…… sebagian besar orang rugi saat menggunakan analisis teknikal karena mereka kurang:
◎ Trading plan yang efektif
◎ Trading edge yang jelas
◎ Pelacakan data yang konsisten
◎ Manajemen risiko yang ketat
Semua masalah ini bisa diringkas menjadi satu akar penyebab yang sama: kurangnya sistem trading yang didukung data, terukur, dan teruji.
Tapi begitu kamu membangun sistem seperti itu, semua masalah di atas akan teratasi dengan sendirinya.
Kamu mungkin sekarang bertanya:
"Jadi bagaimana cara saya membangun sistem trading yang efektif?"
Jawaban saya adalah:
Metode RETT
Ini adalah metode yang saya gunakan untuk membangun berbagai sistem trading, yang memungkinkan saya terus profit di bull market, bear market, bahkan selama resesi ekonomi.
Bagaimana sebenarnya cara kerja Metode RETT?
Metode ini bisa dibagi menjadi empat langkah:
◎ Baca buku trading yang punya hasil backtest
◎ Ekstrak ide trading
◎ Uji sistem trading
◎ Optimasi sistem trading
Izinkan saya menjelaskan satu per satu……
1. Baca buku trading yang punya hasil backtest
Kamu perlu membaca buku-buku trading yang memberikan aturan trading spesifik disertai hasil backtest, karena tiga alasan:
◐ Kamu bisa menggunakannya sebagai dasar untuk membangun sistem, menghemat banyak waktu
◐ Hasil backtest meningkatkan kredibilitas sistem, dan memudahkanmu membandingkan dengan hasilmu sendiri
◐ Reputasi penulis akan terpengaruh, jadi mereka lebih cenderung memberikan sistem yang benar-benar efektif
Setelah kamu membaca beberapa buku seperti ini, kamu akan menemukan bahwa sebagian besar sistem trading yang profit sebenarnya memiliki karakteristik yang sama. Saat itulah kamu bisa lanjut ke langkah berikutnya……
2. Ekstrak ide trading
Yang dimaksud "ide" adalah prinsip inti yang mendasari berjalannya sebuah sistem trading.
Contohnya:
◐ Ide SMC: metode yang bertujuan menyelaraskan operasi trader individu dengan investor institusional (yang disebut "smart money").
◐ Ide breakout: beli ketika harga menembus level kunci tertentu, ikuti tren.
◐ Ide counter-trend: coba beli dalam downtrend, short dalam uptrend.
◐ Ide trailing stop: beri trade "ruang bernapas", berharap mengikuti tren selama mungkin.
Setiap sistem trading yang profit, di belakangnya menggabungkan beberapa ide inti. Setelah memahami ide-ide ini, kamu bisa mengembangkan berbagai sistem trading yang sesuai dengan pasar yang berbeda.
Untuk mengekstrak ide inti sebuah sistem trading, kamu bisa bertanya pada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut:
◎ Apa karakteristik sistem trading ini?
◎ Di kondisi pasar seperti apa sistem ini paling baik?
◎ Di kondisi pasar seperti apa sistem ini kurang baik?
◎ Apa logika entry-nya?
◎ Apa sinyal exit-nya?
Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, kamu bisa memahami logika di balik sistem trading ini, bagaimana cara kerjanya, mengapa efektif, dan bagaimana merancang sistem serupa sendiri.
3. Uji sistem trading
Untuk memvalidasi sebuah sistem trading, kamu perlu melakukan backtest.
Artinya, menggunakan data historis untuk mensimulasikan trading, melihat bagaimana performa sistem ini di masa lalu.
Ini bisa memberitahumu apakah sebuah sistem trading efektif, tidak hanya menghemat waktu dan uang, tapi juga memperkuat kepercayaan dirimu saat mengalami drawdown.
Kamu mungkin sekarang berpikir:
"Jika buku sudah memberikan hasil backtest, mengapa saya harus backtest sendiri?"
Ini karena kamu tidak bisa memastikan apakah hasil backtest dalam buku itu akurat. Kamu harus memverifikasinya sendiri.
4. Optimasi sistem trading
Jika kamu puas dengan hasil backtest, maka kamu bisa menguji sistem ini di akun real dengan akun kecil.
Tapi jika kamu ingin optimasi lebih lanjut, misalnya:
◎ Mengurangi max drawdown
◎ Meningkatkan return yang disesuaikan risiko
◎ Mengurangi korelasi dengan sistem yang sudah ada
Kamu bisa melakukannya dengan metode berikut:
Mengurangi max drawdown
Alasan sebagian besar sistem trading saham mengalami drawdown yang dalam adalah karena mereka beroperasi melawan tren, berlawanan dengan tren pasar secara keseluruhan. Karena itu, menambahkan filter tren bisa efektif mengurangi max drawdown.
Contoh: hanya beli saham ketika indeks S&P 500 berada di atas moving average 200 hari, jika tidak tetap flat.
Meningkatkan return yang disesuaikan risiko
Untuk meningkatkan return yang disesuaikan risiko dari sistem trading-mu, kamu bisa menguji performa berbagai pengaturan parameter, menemukan kombinasi optimal.
Misalnya, sebuah sistem melakukan long ketika harga saham menciptakan low baru 5 hari. Lalu apa yang terjadi jika diubah menjadi menguji low baru 10 hari, 20 hari, bahkan 50 hari? Setelah periode holding lebih lama, apakah return menjadi lebih baik, atau performanya memburuk?
Mengurangi korelasi dengan sistem yang sudah ada
Ada fakta yang jarang diketahui:
Jika kamu menjalankan beberapa sistem trading dengan korelasi sangat rendah secara bersamaan, return yang disesuaikan risikomu akan lebih tinggi, max drawdown akan lebih kecil, dan kurva equity akan lebih halus.
Jadi, bagaimana cara mengurangi korelasi antar sistem trading?
Salah satu caranya adalah menerapkan sistem trading yang sama ke pasar yang berbeda.
Contoh: sistem yang awalnya digunakan di pasar saham AS, bisa dicoba untuk pasar saham Jepang atau pasar saham Tiongkok.
Dengan menggunakan Metode RETT, selama bertahun-tahun saya telah mengembangkan berbagai sistem trading.
Ringkasan
Berikut adalah hal-hal yang kamu pelajari hari ini:
Sebagian besar trader rugi saat menggunakan analisis teknikal karena mereka tidak punya trading plan, tidak punya edge, tidak punya dukungan data, atau kurang manajemen risiko.
Untuk mengatasi masalah ini, kamu perlu sistem trading yang efektif, yang harus terukur dan didukung data.
Salah satu cara membangun sistem trading yang profit adalah menggunakan Metode RETT:
1) Baca buku trading yang punya hasil backtest
2) Ekstrak ide inti di baliknya
3) Uji sistem trading ini
4) Optimasi sistem trading-mu