Trade trigger adalah sebuah event yang presisi, yang memberitahu kamu kapan waktunya untuk entry atau exit dari sebuah posisi. Ini membantu trader menghindari entry atau exit terlalu awal (atau terlalu telat), sehingga melewatkan trade terbaik, atau melakukan trade yang seharusnya tidak dilakukan.
Kamu membutuhkan "trigger" trading secara real-time, supaya bisa mengambil aksi pada saat ini juga. Ini adalah event presisi yang memicu aksimu. Sebelumnya, kamu mungkin sudah menyelesaikan analisis, tapi belum mengambil aksi. Trade trigger juga harus terlihat di grafik historis, supaya kamu bisa backtest dan memvalidasi apakah trigger tersebut (beserta strategimu) memang bekerja.
Tanpa trade trigger, kamu mungkin akan masuk ke trade terlalu telat atau melakukan trade terlalu awal, bahkan melewatkan trade, atau melakukan trade yang bukan bagian dari strategimu. Trade trigger adalah sinyal aksimu, dan jika tidak ada sinyal trigger, itu juga memberitahumu untuk tetap wait and see.
Membuat Trade Trigger
Trade trigger bisa sederhana, bisa juga kompleks. Satu trigger tidak selalu lebih baik dari trigger lainnya, semuanya tergantung pada strategi yang ingin kita gunakan. Trade trigger adalah bagian dari strategi.
Strategi tanpa trade trigger adalah berdasarkan impulsif. Kamu beli dan jual berdasarkan feeling, tapi perilaku ini belum tentu berdasarkan metode profit yang sudah teruji. Sedangkan strategi dengan trade trigger bisa diuji profitabilitasnya, direplikasi, dan dioptimasi untuk meningkatkan performa. Trading berdasarkan impuls tidak bisa melakukan hal-hal tersebut.
Ada banyak cara untuk membuat trade trigger, berikut beberapa contohnya:
1. Trading pada waktu tertentu dalam sehari, hari tertentu dalam seminggu, atau hari tertentu dalam setahun, misalnya saat open atau close.
2. Trading ketika sebuah indikator mencapai level tertentu.
3. Trading ketika sebuah indikator bersilangan dengan indikator lain.
4. Trading ketika harga bersilangan dengan sebuah indikator di grafik.
5. Trading ketika harga mencapai harga tertentu atau pergerakan persentase tertentu (sering digunakan untuk stop loss).
6. Trading ketika kandil harga close.
7. Trading ketika harga breakout dari sebuah pola harga (seperti konsolidasi, triangle/contraction, rectangle, head and shoulders, dll).
8. Trading ketika data fundamental atau ekonomi mencapai level tertentu.
9. Trading ketika salah satu sinyal di atas muncul tapi kemudian gagal, ini disebut fake breakout atau failed signal.
Kondisi-kondisi trigger ini bisa dikombinasikan. Misalnya, kamu mungkin hanya trading antara jam 8 sampai 9 pagi, dan hanya ketika satu moving average bersilangan dengan moving average lainnya. Dalam kasus ini, rentang waktu menjadi syarat pembatas, sedangkan moving average adalah trade trigger-nya. Syarat waktu harus terpenuhi, dan jika terpenuhi, maka moving average adalah satu-satunya faktor yang bisa memicu trade.
Contoh ini juga bisa disesuaikan lebih lanjut dengan menunggu kandil harga close. Sekarang, close-nya kandil harga menjadi trade trigger, dengan syarat dua pembatas lainnya (waktu dan persilangan moving average) masih berlaku.
Target profit (atau metode profit yang sudah ditentukan sebelumnya) dan stop loss adalah trade trigger yang sudah ditetapkan sebelumnya, karena di situlah kita ingin exit.
Contoh Trade Trigger
Misalkan seorang trader suka trading breakout pola grafik. Ketika harga breakout dari pola, mereka akan memulai trade. Mereka juga membutuhkan trade trigger untuk exit dari trade, baik itu profit maupun rugi.
Kemudian trader perlu menentukan sendiri position sizing yang tepat. Mereka mungkin juga ingin menambahkan aturan tambahan; misalnya, mereka mungkin hanya trading pola tertentu, atau hanya trading pola yang breakout searah dengan tren saat ini. Semua aturan ini harus ditulis dalam trading plan.
Trade Trigger dengan Indikator Teknikal
Berikut contoh trade trigger lain yang menggunakan indikator. Misalkan trader memiliki beberapa syarat pembatas yang harus terpenuhi sebelum trade trigger terjadi.
Syarat pembatas untuk entry trade:
1. Trade harus dilakukan pada sessions New York.
2. Menggunakan timeframe 5 menit.
3. EMA 5 periode bersilangan dengan EMA 9 periode (arah manapun).
4. Dalam kasus persilangan ke atas, kandil harga 5 menit harus close di atas kedua moving average; dalam kasus persilangan ke bawah, kandil harga 5 menit harus close di bawah kedua moving average (berdasarkan langkah 3).
5. Average True Range (ATR) lebih besar dari 6 poin.
Kondisi trade trigger: Jika syarat pembatas di atas terpenuhi, maka lakukan trade segera setelah kandil harga 5 menit close.
Stop loss: Stop loss maksimal 2x ATR, ditetapkan saat trade dimulai.
Target profit:
1. Gunakan trailing stop. Misalnya, dalam trade long, exit ketika harga pertama kali close di bawah moving average 5 periode atau 9 periode (pilih salah satu).
2. Sebelum exit, biarkan harga bergerak minimal 1x ATR. Dengan kata lain, trailing stop baru aktif setelah harga bergerak minimal 1x ATR ke arah yang menguntungkan.
Contoh Kasus Trade Trigger
Salah satu trade trigger yang saya suka adalah breakout dari konsolidasi. Saya akan melakukan analisis, menunggu harga mendekati area yang ingin saya tradingkan, lalu menunggu harga bergerak sideways minimal tiga kandil. Setelah itu, saya baru akan entry hanya jika harga breakout dari area konsolidasi ke arah yang saya inginkan. Stop loss ditempatkan di sisi lain area konsolidasi.
Trade trigger lain yang saya suka sedikit lebih kompleks. Misalkan tren sedang turun, dan harga mengalami pullback ke atas. Selama pullback, low dari setiap kandil semakin tinggi. Ketika harga membentuk kandil dengan lower low, saya akan entry short searah dengan tren turun secara keseluruhan.
Saya jarang menggunakan indikator teknikal. Saya pribadi lebih suka trading berdasarkan price action, dan menggunakan price action sebagai trade trigger. Tapi jika diperlukan, indikator juga bisa digunakan.
Disclaimer: Apapun yang ada di artikel ini bukan merupakan saran investasi pribadi, dan bukan merupakan saran untuk membeli atau menjual produk apapun. Trading memiliki risiko, dan bisa menyebabkan kerugian besar, bahkan bisa melebihi jumlah margin saat menggunakan leverage.