Apakah kamu seorang day trader short-term? Jika ya, maka kamu pasti akan menemukan artikel ini bermanfaat untuk mulai mengeksplorasi breakout trading short-term. Hari ini kita akan membahas 4 strategi untuk melakukan breakout trading short-term. Sebelum kita masuk ke inti artikel ini, mari kita bahas dulu definisi breakout dan beberapa karakteristik kuncinya.
Apa itu breakout?
Breakout terjadi pada level harga kritis.
Level-level ini bisa berupa trendline, support, resistance, atau level Fibonacci kunci. Ingat, level harga ini bersifat psikologis dan merepresentasikan emosi trader short-term pada masing-masing level harga tersebut.
Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar breakout trading? Mencetak新高 harian,新高 dua hari,新高 mingguan,新高 historis? Seperti yang kamu lihat, breakout sangat berarti bagi banyak trader.
Lalu, mengapa begitu banyak orang yang rugi dalam day trading? Mengapa trader terus membeli saat harga menyentuh高点 intraday, tapi dalam beberapa menit harganya berbalik? Berapa kali kamu short sebuah saham saat breakout dari support kunci, lalu pergi beli kopi, dan ketika kembali harga sudah rebound, sementara kamu sudah membeli segelas susu kedelai latte senilai $5.000 (sekitar Rp78.000.000) tanpa busa?
Dalam artikel ini, saya akan memberitahumu "rahasia" yang digunakan banyak profesional breakout trading setiap hari, untuk membawa diri mereka dari biasa menjadi luar biasa.
Siapa yang bisa menghasilkan uang dari breakout trading short-term?
"Rahasia" breakout short-term adalah mengetahui kapan harus trading. Biasanya, setiap hari trading hanya ada 2-3 jam waktu di mana kamu bisa breakout dalam basis short-term. Jika kamu suka short-term trading, kamu hanya punya sekitar 2 jam setiap hari untuk menghasilkan uang dengan mudah dan cepat, tanpa perlu terlalu banyak usaha.
Selain itu, di grafikmu harus ada dua indikator. Yaitu Fibonacci (retracement dan extension) dan pivot point.
Ini memberimu level support dan resistance untuk masuk dan keluar dari trading.
Poin kunci lainnya adalah asumsikan kamu tidak melakukan scalping. Kamu sebaiknya hanya melakukan 1 sampai 4 trading per hari. Tidak perlu overtrading. Jika kamu menjaga ritme dengan baik, kamu justru akan menghasilkan lebih banyak uang.
Timeframe mana yang paling efektif?
Waktu terbaik untuk breakout short-term adalah 30 menit pertama dan 30 menit terakhir setiap hari. Di jendela waktu ini ada cukup volume, baik untuk membuka posisi maupun menutup posisi, ini adalah waktu yang lebih matang.
Sebagian besar trader mengatakan untuk menjauhi trading di pagi dan sore hari, karena terlalu tidak stabil.
Berikut adalah beberapa aturan dasar yang dapat membantumu mengidentifikasi breakout trading dengan win rate tinggi selama periode volatil ini:
◎ Hindari instrumen dengan volatilitas tinggi
Instrumen dengan volatilitas tinggi memberi trader lebih banyak ruang profit. Tapi juga membuat kita sulit memegang posisi dengan stabil ketika tren sudah terlihat.
◎ Tidak boleh mengisi gap
Ya, gap akan terisi. Masalahnya, apakah gap akan terisi dalam timeframe yang kamu butuhkan? Jika kamu melakukan breakout trading short-term, kamu perlu segala sesuatunya terjadi dengan cepat dan akurat. Ingat, mengikuti tren selalu lebih mudah.
◎ Hindari trading saham (instrumen) yang sepi
Jika spread saham besar, ini hanya akan menggerus profitmu. Sama halnya, ketika kamu keluar dari trading, kamu mungkin mendapatkan harga yang mengerikan dan kesulitan untuk keluar dari posisimu.
◎ Hanya trading instrumen dengan rentang harga yang besar
Ingat, tujuannya di sini adalah breakout trading harian. Semakin besar rentang trading terbaru, semakin besar kemungkinan kamu membeli instrumen yang memiliki ruang tren.
4 Strategi Eksplosif untuk Breakout Day Trading
Sekarang kita sudah memahami prinsip dasar breakout, kita akan mendalami empat strategi breakout yang bisa digunakan dalam short-term trading.
#1 Breakout Tren + Filter Volume
Mari kita eksplorasi strategi sederhana yang menggunakan indikator volume sebagai alat kita untuk membantu trading breakout.
Entry:Volume tumbuh ke arah yang optimis. Dengan demikian, probabilitas keberhasilan breakout lebih besar. 5 kandil berikutnya juga bullish, volume menguat dalam tren naik. Kita akan memegang posisi long sampai volume menguat pada kandil bearish pertama, ditunjukkan oleh lingkaran merah.
Exit:Untuk memperjelas, untuk mendapatkan sinyal exit yang tepat, kamu perlu melihat volume meningkat relatif terhadap beberapa kandil terakhir, dan harga juga bergerak berlawanan dengan tren awal. Ini adalah tanda awal bahwa akselerasi naik setidaknya sedang melambat.
#2 Breakout + Volume Weighted Moving Average (VWMA)
Cara lain menggunakan strategi breakout adalah dengan menyertakan VWMA.
Karena setiap hari hanya ada beberapa jam di mana banyak trader berpartisipasi, VWMA juga bisa terbukti menjadi alat konfirmasi yang berharga.
Alasannya, pada periode volume tinggi, VWMA akan mengalami slope yang lebih curam dan semakin menjauh dari harga.
Sebaliknya, ketika harga mendekati VWMA setelah breakout, ini bisa menjadi sinyal awal bahwa breakout adalah sinyal beli palsu, karena volume yang sedikit.
Entry:Harga open akan membentuk gap antara trendline dan VWMA, dan ketika melebar, itulah waktu yang tepat untuk long.
Perhatikan, ketika volume tinggi, VWMA akan menciptakan jarak yang besar antara dirinya dan pergerakan harga. Namun, ketika volume mulai mengering, harga akan menempel erat pada VWMA.
Exit:Karena alasan ini, harga lebih mungkin breakout dari VWMA ketika volume rendah, karena bull tidak masuk untuk mendorong putaran beli berikutnya. Begitu harga breakout dari VWMA, kita keluar dari posisi long yang ditandai merah di atas.
#3 Menggunakan Exponential Moving Average Periode Pendek
Karena Exponential Moving Average (EMA) lebih menekankan pada perilaku harga terkini, EMA akan memicu sinyal exit sebelum tren berakhir. Meskipun kita mungkin melewatkan sebagian besar profit, strategi ini bisa memberi kita keuntungan yang lebih kecil namun konsisten.
Entry:Kita menunggu kandil close di bawah garis support sebagai indikasi breakout, yang juga merupakan tanda sebelum crash. Seperti yang ditunjukkan lingkaran hijau, kita membuka posisi short.
Exit:Setelah penurunan cepat ini, pergerakan mulai menunjukkan ketidakpastian, dan breakout dari EMA5 dengan cara bullish, seperti yang ditunjukkan lingkaran merah, kita menutup posisi, exit.
#4 - Trading Price Action Breakout Murni
Ada satu opsi yang sangat sederhana untuk breakout day trading. Terkadang indikator teknikal dan moving average terlalu banyak. Jika kamu tidak suka grafik yang terlalu rumit, kamu ingin menyederhanakan segalanya, maka menggunakan price action sebagai strategi trading adalah salah satu metode paling langsung untuk trading aktif.
Ini karena kamu hanya perlu pola kandil atau level support/resistance untuk membuat keputusan trading. Tidak ada indikator yang rumit atau osilasi yang mengkhawatirkan.
Entry:Kita membuat garis resistance di atas double bottom sebagai pemicu untuk membuka posisi. Begitu harga breakout dari resistance ini, kita long.
Exit:Kita juga menggambar garis tren hijau, yang merepresentasikan support yang bergerak naik. Sampai trendline baru ini ditembus, kita menutup posisi, exit.
Jadi, strategi mana di atas yang paling cocok untuk short-term trading?
Saya percaya informasi kunci untuk keberhasilan breakout trading tersembunyi dalam volume saat breakout.
Oleh karena itu, saya menyarankan menggabungkan strategi pertama dan kedua.
Bagaimana mengelola ketika trading bermasalah?
Sebagus apapun kamu, kamu akan mengalami kerugian 30%-40% dari waktu. Rasio kerugian ini sama dengan breakout day trading.
Jadi, untuk mengendalikan hal yang tak terhindarkan, mari kita dalami bagaimana hal-hal bisa salah, dan apa yang bisa kamu lakukan untuk mengatasinya.
#1 Take Profit
Sebagai trader, salah satu hal yang perlu kamu putuskan adalah bagaimana take profit. Sekarang, jika kamu trading instrumen dengan volatilitas rendah, kamu bisa memegang seluruh posisimu sampai kamu mendapat sinyal jual. Namun, jika kamu trading instrumen dengan volatilitas tinggi, kamu tidak bisa memegang seluruh posisi, disarankan untuk menjual posisi dalam tiga bagian, sampai kamu selesai menjual.
Ini berdasarkan pengalaman, instrumen dengan volatilitas tinggi tidak mudah untuk dipegang.
Oleh karena itu, jika trading ini cepat menghasilkan profit, saya sarankan kamu menjual sepertiga posisi.
Jika dalam beberapa menit naik 10% atau 20%, bisa langsung menutup semua posisi. Untuk short-term trading, profit 20% sudah cukup.
Jadi, ketika masalah muncul, bagaimana ini membantumu mengelola trading? Dengan menutup sepertiga posisi, kamu akan lebih bisa mengendalikan inisiatif saat trading.
#2 Money Management
Jangan pernah trading dengan posisi berat. Kerugian setiap trading harus dikontrol dengan ketat, hanya berdasarkan profit, kamu bisa mempertimbangkan menambah posisi secara perlahan. Berdasarkan ukuran akun, pertimbangkan hanya menggunakan 5%-10% dari total nilai akun per trading.
Ingat, konsistensi dan compounding adalah kuncinya.
Posisi berat bisa dengan mudah menghancurkan akun, jangan gunakan 50% atau 100% dana akun untuk trading. Jika kamu melakukannya, cepat atau lambat akan margin call, jadi selalu tetap tenang dan pegang teguh strategimu.
#3 Perhatikan Waktu
Jika breakout akan gagal, maka salah satu tanda awal masalah muncul adalah waktu. Artinya, jika harga tidak bergerak cepat, ini adalah sinyal. Bukan berarti harga akan langsung turun, ini adalah sinyal palsu yang jelas.
Situasi yang kita bicarakan adalah, setelah breakout harga hanya berkeliaran di sekitar level breakout. Kamu akan mendapati dirimu duduk di depan layar, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Amati pergerakan harga, jika level breakout kunci tidak bertahan, itu mungkin breakout yang gagal.
Sekarang, kamu perlu menentukan rentang waktu ini berdasarkan timeframemu, meskipun ini tidak absolut, tapi memberi terlalu banyak orang kesempatan untuk "ikut naik", jelas bukan hal yang terlalu baik.
#4 Risk-Reward Ratio
Setiap trading, kamu perlu memperjelas level profit dan risiko. Ini karena setidaknya kamu harus mengambil risiko yang sama dengan jumlah yang ingin kamu hasilkan.
Dengan begitu, jika kamu menang lebih sering daripada kalah, kamu bisa memastikan menghasilkan uang setiap bulan.
Jika kamu hanya masuk trading tanpa menetapkan target, kamu akan要么 menjual terlalu cepat,要么 membiarkan harga bergerak terlalu lama, akhirnya tidak take profit, bahkan mengubah profit menjadi kerugian.
Selanjutnya, kamu perlu memastikan benar-benar memahami risiko kerugian. Jangan hanya melihat low terbaru di grafik, tapi benar-benar memahami persentase risiko yang kamu ambil dalam trading ini.
Jika kamu bisa memastikan risk-reward ratio setiap trading menguntungkanmu, maka kamu hanya perlu fokus pada menyusun strategi trading yang profit.
Kesimpulan
Meskipun contoh grafik kita menggunakan interval waktu 10 menit, teknik-teknik ini juga berlaku untuk timeframe lain, seperti 5 menit dan grafik jam.
Breakout adalah salah satu faktor kunci keberhasilan day trading.
Ketika harga breakout dari level kunci—support, resistance, trendline, channel, level Fibonacci, pola grafik, dll—sinyal breakout akan terbentuk.
Breakout memberikan entry point yang jelas, tapi tidak memberikan exit point yang jelas.
Kita menggunakan berbagai alat grafik untuk mengidentifikasi exit point dalam breakout trading.
Hindari breakout trading saat jam makan siang.
Volume pasar sangat penting dalam breakout trading.
Dalam breakout trading, dua alat terbaik untuk mengukur volume adalah indikator volume dan VWMA (Volume Weighted Moving Average).
EMA (Exponential Moving Average) adalah alat lain yang sangat cocok untuk breakout trading.
Breakout + EMA digabungkan, dapat membentuk strategi scalping harga yang kuat.
Breakout trading juga bisa hanya menggunakan teknik price action sederhana, tanpa bergantung pada indikator apapun.