Meskipun pasar hanya sekitar 20% dari waktu yang sedang trending, namun justru di periode inilah trader memiliki peluang terbesar untuk meraup profit besar. Oleh karena itu, trend following menjadi salah satu metode trading yang sangat populer. Mari kita bahas apa itu strategi trend following, bagaimana cara membangun dan mengeksekusinya, serta mendiskusikan beberapa cara lain untuk ikut serta dalam tren pasar.
Apa itu Strategi Trend Following?
Sederhananya, trend trading adalah upaya menangkap peluang harga yang bergerak terus dalam satu arah, dan ikut menumpang arah tersebut untuk meraih profit. Pada dasarnya, ini adalah strategi yang bertujuan untuk "mengikuti" tren dan menangkap profit selama tren tersebut berkembang. Ada banyak cara untuk mengidentifikasi tren, dan salah satu yang cukup sederhana dan praktis adalah dengan menganalisis "swing high" dan "swing low" dalam pergerakan harga.
Sebagai contoh, jika harga secara keseluruhan sedang naik dan membentuk rangkaian higher low dan higher high, maka bisa dikatakan sedang dalam uptrend; jika terus membentuk lower high dan lower low, maka itu downtrend. Ini adalah cara identifikasi yang paling dasar.
Trend trading termasuk dalam kategori analisis teknikal. Namun, ciri khasnya adalah tidak berusaha memprediksi arah harga di masa depan, melainkan bertrading berdasarkan tren yang sudah terlihat di pasar saat ini. Yang perlu dilakukan trader adalah, ketika menemukan pasar sedang dalam tren yang jelas, ikut masuk dan bertrading sampai pergerakan harga mulai melemah atau muncul tanda-tanda reversal.
Hal ini sangat berbeda dengan metode-metode yang berusaha memprediksi pergerakan harga ke depan. Inti dari trend following bukanlah bertanya "mengapa ini terjadi", melainkan melihat bahwa "tren sudah berjalan", lalu mencari cara untuk meraih profit dari peluang tersebut.
Keuntungan Metode Trend Following
Kita semua pernah mendengar pepatah lama "tren adalah temanmu", ini adalah salah satu ungkapan paling terkenal dalam trading. Tapi mari kita pahami lebih dalam mengapa metode trend following itu menguntungkan. Berikut tiga alasan mengapa kamu harus mempertimbangkan bertrading mengikuti tren:
1. Potensi Keuntungan Berlebih
Sebagian besar trade sebenarnya berakhir impas, hanya beberapa trade saja yang benar-benar menghasilkan profit. Inti dari trend following adalah membiarkan kamu memegang posisi searah tren selama mungkin, dan memaksimalkan profit.
Selain itu, sebagian besar sistem trend trading memiliki aturan money management yang ketat, misalnya hanya mempertaruhkan 1% hingga 2% per trade. Dengan begitu, meskipun stop loss kena rugi kecil, ketika berhasil menangkap pergerakan besar, risk-reward ratio bisa mencapai 3:1, 4:1, atau bahkan lebih tinggi, karena mekanisme bawaan sistem mengharuskan mereka segera cut loss, dan membiarkan profit terus berjalan.
2. Biaya Trading yang Lebih Rendah
Tidak seperti scalping ultra-jangka pendek atau day trading yang keluar-masuk pasar dengan frekuensi tinggi, trend trading jauh lebih hemat. Trading jangka pendek frekuensi tinggi terkadang komisi saja bisa memakan 60-70% dari gross profit, sedangkan trend following karena jumlah trade-nya sedikit, biayanya jauh lebih rendah.
3. Hemat Waktu
Trend trading biasanya melihat sinyal di timeframe harian atau mingguan, tidak perlu memantau grafik sepanjang hari. Cukup luangkan waktu sekitar satu jam setiap hari untuk mencari peluang, memasang order, dan mengelola posisi, sisanya bisa digunakan untuk pekerjaan lain dan kehidupan sehari-hari.
Indikator Trend Following yang Umum Digunakan
Saat melakukan trend following, ada banyak indikator teknikal yang bisa membantu kita mengidentifikasi tren, menemukan entry point, mengelola posisi, dan mengkonfirmasi exit. Berikut ini tiga indikator trend following yang umum digunakan, mari kita lihat bagaimana cara menggunakannya.
1. Moving Average 200 periode (200 SMA) — Identifikasi Tren
SMA 200 periode sangat umum digunakan, terutama untuk menentukan arah besar pasar. Contoh aturan sederhana: jika harga berada di atas 200 SMA, maka hanya lihat sinyal buy; jika harga berada di bawah 200 SMA, maka hanya lihat sinyal sell. Ini berfungsi sebagai filter tren, membantumu menghindari trading melawan arah tren.
2. Donchian Channel — Sinyal Entry
Donchian Channel adalah indikator channel yang sangat klasik, bisa digunakan untuk masuk pasar berdasarkan sinyal breakout. Batas atas Donchian Channel menunjukkan harga tertinggi dari X kandil sebelumnya, batas bawah menunjukkan harga terendah dari X kandil sebelumnya. Garis tengah channel menunjukkan harga rata-rata antara batas atas dan batas bawah.
Ketika harga breakout ke atas batas atas, akan muncul sinyal entry buy; ketika harga breakout ke bawah batas bawah, akan muncul sinyal entry sell. Cara entry berdasarkan breakout X periode ini adalah strategi breakout yang sangat sederhana namun efektif, dan telah diadopsi ke dalam banyak jenis sistem trend following yang berbeda.
3. Parabolic SAR — Manajemen Trade
Indikator ini mungkin tidak sepopuler RSI, tetapi sangat bagus untuk trailing stop dalam trend trading. Diciptakan oleh analis teknikal terkenal J. Welles Wilder, yang juga menciptakan indikator Relative Strength Index (RSI). Indikator ini muncul di grafik dalam bentuk rangkaian titik, ketika harga naik titik-titik berada di bawah kandil, ketika harga turun titik-titik berada di atas kandil.
Parabolic SAR relatif kurang dikenal di kalangan analisis teknikal. Namun, indikator ini bisa sangat efektif digunakan sebagai alat trailing stop (trailing take profit) dalam sistem trend following. Parabolic SAR muncul di grafik harga sebagai rangkaian titik: dalam pasar uptrend, titik-titik ini berada di bawah kandil harga; dalam pasar downtrend, titik-titik ini berada di atas kandil harga. Ketika tren baru dimulai, Parabolic SAR memberikan lebih banyak ruang antara harga dan indikator; seiring berkembangnya tren, Parabolic SAR secara bertahap mengetat, sehingga membantu melindungi profit ketika muncul potensi reversal setelah tren matang.
Metode Trading Trend Following
Kita sudah membahas secara singkat beberapa indikator teknikal yang bisa digunakan dalam kerangka trend following. Sekarang, mari kita bangun strategi trend following yang lengkap berdasarkan indikator-indikator tersebut, ditambah beberapa aturan trend following lainnya. Tujuan utama kita adalah bertrading mengikuti tren jangka panjang. Oleh karena itu, untuk mengidentifikasi tren dan mengkonfirmasi arah tren, kita akan menambahkan 200 SMA ke dalam strategi.
Selanjutnya, kita memerlukan mekanisme entry untuk memicu trade baru. Kita ingin sebisa mungkin tidak melewatkan peluang trading yang signifikan, jadi kita akan memilih breakout entry daripada pullback entry. Seperti yang telah dijelaskan di bagian sebelumnya, Donchian Channel adalah indikator channel berdasarkan support dan resistance, menggunakan periode lookback X kandil. Untuk contoh strategi trading kita, bagian entry akan menggunakan Donchian Channel dengan periode lookback 20 kandil. Periode lookback default 20 ini biasanya memberikan sinyal yang cukup baik saat mengikuti tren pasar jangka panjang.
Selain itu, apa lagi yang perlu kita tambahkan ke dalam metode ini? Pertama, kita memerlukan cara untuk membatasi kerugian setelah entry. Untuk ini, saya suka menggunakan swing high atau swing low terdekat untuk memasang stop loss. Jadi, setelah trade masuk, kita akan melihat grafik harga dan memasang stop loss secara manual berdasarkan swing high atau swing low harga terbaru.
Di atas sistem trend following ini, kita juga memerlukan rencana exit. Rencana exit harus bisa memaksimalkan profit per trade sekaligus meminimalkan risiko mengembalikan profit yang sudah didapat. Parabolic SAR sangat cocok untuk ini. Seperti yang disebutkan sebelumnya, indikator ini memberikan lebih banyak "ruang bernapas" di awal tren, dan seiring berkembangnya tren secara bertahap mengetatkan trailing take profit, sehingga melindungi profit yang belum direalisasi ketika terjadi potensi reversal tren.
Nah, hanya dengan tiga indikator trading yang tersedia luas dan siap pakai, kita sudah bisa mendesain strategi trend following pasar yang relatif sederhana namun solid. Keunggulan sebagian besar sistem trend following adalah strukturnya yang sangat sederhana dengan variabel yang relatif sedikit. Strategi yang kita bangun di sini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan beberapa sistem trading komersial yang dijual seharga ratusan bahkan ribuan dolar (setara jutaan hingga puluhan juta Rupiah) di pasaran.
Berikut kita rangkum aturan strategi trend following ini:
(1) Buka posisi long ketika tiga kondisi berikut terpenuhi:
⊙ Harga saat ini berada di atas 200 SMA
⊙ Harga close di atas batas atas Donchian Channel 20 periode (yaitu garis resistance yang terbentuk dari harga tertinggi 20 kandil)
⊙ Indikator Parabolic SAR dalam kondisi bullish (titik di bawah)
Stop loss dipasang di swing low terdekat. Tutup posisi ketika indikator Parabolic SAR beralih dari bullish ke bearish.
(2) Buka posisi short ketika tiga kondisi berikut terpenuhi:
⊙ Harga saat ini berada di bawah 200 SMA
⊙ Harga close di bawah batas bawah Donchian Channel 20 periode (yaitu garis support yang terbentuk dari harga terendah 20 kandil)
⊙ Indikator Parabolic SAR dalam kondisi bearish (titik di atas)
Stop loss dipasang di swing high terdekat. Tutup posisi ketika indikator Parabolic SAR beralih dari bearish ke bullish.
Trend Following Sistematis vs Trend Following Subjektif
Setelah kita menyusun trading plan seputar sistem trend following, sekarang mari kita bahas dua metode eksekusi utama. Pada dasarnya, trader individu dapat mengeksekusi model trend following dengan dua cara.
Cara pertama adalah yang disebut metode sistematis, dan yang lainnya adalah metode subjektif. Perbedaan utama keduanya adalah, metode sistematis menghasilkan sinyal trading langsung melalui program algoritma komputer.
Semua aturan trading dan skenario "jika-maka" diprogram ke dalam algoritma trading, dan algoritma akan langsung mengeksekusinya di pasar berdasarkan parameter yang telah ditetapkan. Sedangkan metode trend following subjektif, tidak mengkodekan logika trading langsung ke dalam algoritma untuk dieksekusi melalui model komputer. Sebaliknya, trader itu sendiri yang bertanggung jawab atas seluruh proses pengambilan keputusan eksekusi trade dan manajemen posisi.
Banyak trader profesional yang menggunakan model trend following cenderung memilih metode sistematis, termasuk bank-bank besar, Commodity Trading Advisor (CTA), dan hedge fund. Keunggulan terbesar metode sistematis adalah mengurangi pengaruh emosi dan psikologi yang mungkin dialami trader. Algoritma trend following tidak memiliki emosi atau bias, ia akan bertindak sebagai sarana eksekusi aturan trading di pasar secara presisi dan terstruktur.
Namun perlu dicatat, meskipun trend following sistematis adalah metode pilihan sebagian besar trader tren yang berpengalaman, bukan berarti tanpa tantangan atau jebakan. Mereka yang menggunakan strategi trend following sistematis murni harus selalu waspada terhadap kemungkinan gangguan teknis di dalam atau di luar sistem trading (misalnya hardware atau koneksi). Oleh karena itu, pemantauan ketat terhadap semua posisi adalah persyaratan wajib bagi trend follower yang berbasis trading sistematis.
Trend Following dan Diversifikasi
Kita sudah membahas cara membangun dan bertrading dengan strategi trend following. Namun dalam seluruh pembahasan, kita fokus pada model trend following yang hanya melibatkan satu instrumen trading. Ini untuk memudahkan penjelasan, tetapi penting untuk dipahami: nilai sebenarnya dari teknik trend following terletak pada penerapannya ke berbagai instrumen, membangun portofolio trend following.
Ada banyak alasan untuk melakukan diversifikasi dalam model trend following. Pertama, tidak ada yang bisa tahu sebelumnya pasangan mata uang atau instrumen keuangan mana yang akan mengalami pergerakan besar di tahun tertentu. Oleh karena itu, untuk memastikan bisa menangkap pergerakan yang mungkin memberikan persentase keuntungan terbesar, sistem trend following harus diterapkan pada sejumlah besar produk keuangan yang korelasinya rendah.
Contoh portofolio trend following yang terdiversifikasi bisa mencakup instrumen berikut: Dollar Index, Canadian Dollar, New Zealand Dollar, S&P 500 Index, US 30-Year Treasury Bond, German 10-Year Bund, Gandum, Minyak Kedelai, DAX Index, Minyak Mentah, Gas Alam, Emas, Perak, Kapas, Gula, dan Kayu. Portofolio contoh ini mencakup 17 instrumen keuangan dengan korelasi yang relatif rendah satu sama lain, membantu menghaluskan kurva profit keseluruhan.
Pada awalnya, membangun portofolio seperti ini mungkin terasa menakutkan, terutama jika kamu belum familiar dengan beberapa instrumen di dalamnya. Tapi ingat, karakteristik terpenting dari sistem trend following adalah: ia tidak berusaha memprediksi pergerakan harga di masa depan, melainkan ikut serta dalam pergerakan yang sudah menunjukkan potensi berkembang menjadi tren. Oleh karena itu, trend trader tidak terlalu peduli faktor fundamental apa yang mendorong pasar-pasar tersebut, melainkan fokus pada fakta bahwa berdasarkan price action saat ini, sebuah peristiwa tren mungkin sedang terbentuk.
Kesimpulan
Tidak diragukan lagi, sistem trend following dapat menghasilkan return yang luar biasa di pasar. Sistem semacam ini memiliki sejarah lebih dari 50 tahun, dan tingkat return-nya tidak hanya setara dengan indeks saham utama, tetapi sering kali bisa melampauinya. Trader atau investor dapat berpartisipasi dalam trading tren pasar besar melalui berbagai cara.
Salah satu keuntungan utama menggunakan metode trend following adalah, jika diterapkan dengan benar, ia dapat memberikan efek diversifikasi yang tinggi. Selain itu, dibandingkan dengan indeks saham utama, korelasi antara metrik kinerja sistem trend following sangat rendah. Ini sendiri dapat memberikan risk-adjusted return yang lebih baik bagi portofolio dibandingkan hanya berinvestasi di pasar saham saja.
Jika kamu tertarik untuk mempelajari lebih lanjut tentang trend trading, kami merekomendasikan kamu membaca buku Trend Following karya Michael W. Covel, pendiri Trend Following™ dan TurtleTrader.com®, seorang master dalam trading mengikuti tren.