Kami pernah membahas gambaran dasar "Pola Reversal 1-2-3", pola ini sangat umum dalam trading grafik dan biasanya muncul di titik awal banyak pembalikan harga.
Hari ini kami akan membahas penerapan strategi "Pola Reversal 1-2-3" dalam swing trading.
Reversal 1-2-3 adalah pola trading murni berbasis price action, yang sangat mudah dijadikan fondasi inti dari sebuah sistem trading.
Ini adalah pola harga yang sangat intuitif dan mudah dikenali di grafik. Dibandingkan sistem swing trading lain yang lebih kompleks, banyak swing trader merasa pola ini lebih mudah dikuasai dan diterapkan.
Seperti semua strategi trading, posisi sangat penting, dan pola reversal 1-2-3 tidak terkecuali.
Kamu bisa menggunakan pola harga ini dengan berbagai cara, termasuk namun tidak terbatas pada:
✔ Mencari peluang entry searah dengan tren.
✔ Sebagai counter-trend trader, menangkap pergerakan reversal jangka pendek yang cepat.
✔ Memposisikan diri dalam proses reversal tren penuh, misalnya dari downtrend menjadi uptrend, atau sebaliknya.
Apapun cara yang kamu pilih, kamu harus benar-benar memahami risiko dalam trading dan menjaga parameter manajemen risiko yang relatif konservatif, agar mampu menahan kerugian beruntun. (Pasar kadang lebih keras kepala saat rugi beruntun daripada saat naik terus 😉)
Kamu akan menyadari bahwa pola harga ini sendiri tidak rumit. Reversal 1-2-3 pada dasarnya hanyalah breakout dari swing high atau swing low sebelumnya, setelah pergerakan impulsif naik / pullback.
Tentu saja, breakout tidak selalu berhasil. Karena itu, bagian paling kritis dari pola reversal 1-2-3 terletak pada bagaimana harga berperilaku saat breakout dan setelahnya. Kamu ingin melihat harga diterima secara valid di新高 (atau新低) tersebut.
Setelah breakout, harga sering mengalami pullback, tapi ini tidak membuat pola tersebut gagal.
Bahkan, pullback setelah breakout justru bisa menjadi peluang untuk menambah posisi
Pola Reversal 1-2-3 Berbasis Aturan
Di grafik, kamu hampir bisa melihat apapun yang ingin kamu lihat. Mata manusia secara alami cenderung mencari pola di tempat yang sebenarnya tidak ada.
Untuk menilai apakah pola 1-2-3 potensial yang kamu amati layak ditradingkan, salah satu teknik yang bisa digunakan adalah: memanfaatkan zona Fibonacci retracement.
Perlu ditekankan bahwa Fibonacci tidak memiliki "kekuatan magis" apapun, dan jangan salah paham bahwa ini adalah bagian terpenting dari pola reversal tersebut. Fungsi sebenarnya adalah membantumu mengonfirmasi bahwa yang kamu lihat adalah struktur pullback yang nyata, bukan sekadar konsolidasi sideways atau ranging.
Saya mengatur level Fibonacci retracement di 0.382 dan 0.786. Selama harga pullback masuk ke zona antara kedua level tersebut, saya akan menganggapnya sebagai pola trading yang berpotensi dipertimbangkan.
Mengharuskan harga pullback ke "zona terukur" juga memiliki manfaat tambahan: ini membantumu menghindari entry di pergerakan yang terlalu extended. Begitu pergerakan terlalu extended, mean reversion biasanya akan terjadi; dan entry sebelum mean reversion terjadi biasanya akan menjadi trade yang sangat menyakitkan.
Cara Entry Pola Reversal 1-2-3
Cara paling sederhana adalah langsung trading breakout dari pola tersebut. Saya belum pernah melakukan backtest sistematis untuk ini, tapi jika kamu percaya bahwa sebagian besar breakout akan gagal, maka cara ini jelas tidak mungkin menjadi keunggulan jangka panjang.
Bahkan jika breakout akhirnya tidak sepenuhnya gagal, kita sering melihat harga dengan cepat menusuk ke atas atau ke bawah titik #2, memicu entry kamu, tapi kemudian dengan cepat kembali turun — ini adalah "momen klasik" yang hampir dialami semua trader.
Cara entry lainnya, adalah mulai mengamati saat harga mendekati swing point #2. Lihat apakah di timeframe trading kamu, atau bahkan timeframe yang lebih rendah, muncul semacam struktur konsolidasi. Pendekatan ini memungkinkanmu memposisikan diri sebelum breakout terjadi, dan begitu breakout bergerak dengan momentum, kamu akan segera berada dalam posisi floating profit.
Ada juga trader yang lebih memilih entry di sekitar #3, karena ini memberikan ruang profit yang lebih besar, dan sudah dalam posisi profit sebelum breakout terjadi. Dengan demikian, bahkan jika breakout akhirnya gagal, biaya yang dikeluarkan relatif lebih rendah.
Posisi Stop Loss
Stop loss bisa ditempatkan di atas atau di bawah titik #3, atau menggunakan ATR stop loss untuk mencerminkan volatilitas pasar yang sebenarnya. Kuncinya adalah jangan menempatkan stop loss terlalu dekat dengan price action saat ini. Salah satu kelemahan utama pola 1-2-3 adalah jika segmen 2-3 cukup panjang, ruang stop loss bisa relatif besar.
Beberapa trader setelah mengidentifikasi pola ini di timeframe yang lebih tinggi, akan beralih ke timeframe yang lebih rendah untuk mencari pola 1-2-3 mini dengan struktur yang sama.
Dengan begitu kamu akan mendapatkan entry point yang lebih awal dan eksposur risiko yang lebih kecil. Kamu harus mempertimbangkan menggunakan posisi stop loss yang sama dengan grafik timeframe yang lebih tinggi. Dengan entry lebih awal pada pola reversal 1-2-3 di timeframe yang lebih kecil, kamu akan memiliki kesempatan mendapatkan posisi yang sedikit lebih besar.
Target Take Profit
Kamu juga bisa memanfaatkan pola 1-2-3 itu sendiri sebagai dasar exit. Misalkan pasar sedang dalam uptrend, dan kamu entry di awal pergerakan.
Begitu harga menembus ke bawah (atau pullback dan merusak) titik #1, kamu harus keluar, tidak peduli berapa profit yang sudah kamu dapatkan saat itu.
Kamu mungkin akan menyadari bahwa ini sebenarnya adalah kerusakan pada struktur tren "higher high / higher low". Benar. Ketika harga tidak lagi mengikuti struktur tren yang bertahap, kamu harus menutup posisi.
Cara take profit lainnya adalah menggunakan level Fibonacci extension.
Kamu bisa menetapkan target take profit sebagian atau seluruhnya berdasarkan Fibonacci extension.
Kelola Trading Kamu
Ada banyak cara berbeda untuk mengelola trading, dari kelipatan risiko hingga pola price action. Untuk strategi trading apapun, saya pribadi suka menjaga manajemen trading tetap sederhana.
Menjadi pengelola risiko yang baik adalah tanggung jawab utama setiap trader.
✍ Ketika saya mendapatkan profit 1x risiko, saya akan menarik sebagian profit. Persentase spesifiknya tergantung pada kekuatan harga, tapi biasanya antara 25% hingga 35%.
✍ Tergantung pada ukuran trade, saya mungkin atau mungkin tidak memindahkan stop loss ke titik breakeven. Ini tergantung seberapa jauh harga sudah bergerak. Saya tidak ingin stop loss pelindung ditempatkan terlalu dekat, sehingga tersentuh oleh fluktuasi normal pasar yang sebenarnya tidak mengancam trade tersebut.
✍ Kamu bisa mengambil tindakan lebih lanjut saat mencapai 2x risiko dan 3x risiko, atau menggunakan target Fibonacci untuk exit bertahap, atau keluar sepenuhnya di level extension 2.0 (yaitu panjang gelombang 2-3 dalam pola reversal 1-2-3).
Semoga konten di atas bermanfaat untukmu, jika menurutmu bagus, silakan bagikan artikel trading ini!