Baik trading saham, forex, maupun futures, kunci untuk meraih profit besar dalam day trading semuanya sama: menentukan ukuran posisi yang wajar antara risiko dan reward yang sudah ditetapkan. Di artikel ini, kita akan bahas bagaimana menambah 2%-4% ke akun dalam hitungan menit hanya dari satu transaksi.
Kalau kita dapat 2%-4% (atau lebih) dari 40% transaksi kita, sementara transaksi lainnya hanya rugi 1%, kita bisa cuan besar. Apalagi kalau win rate kita 50% atau lebih, makin mantap.
Kedengarannya simpel, tapi kebanyakan orang justru salah paham total soal konsep inti yang menghasilkan profit day trading yang gede.
Kebanyakan orang berpikir, pakai stop loss yang lebar (biar nggak kena) dan target yang besar adalah cara menghasilkan uang. Padahal kenyataannya, kalau mau cuan besar di day trading, kita harus menunggu momen yang memungkinkan kita pasang stop loss kecil, lalu set target di dalam rentang pergerakan harga yang wajar, sehingga risk-reward ratio-nya masuk akal.
Ada banyak cara trading, dan gaya yang berbeda cocok untuk kepribadian yang berbeda. Ini salah satunya, dan kalau cocok buat kamu, ini cara yang bagus banget.
Berikut cara meraup profit besar di day trading lewat empat langkah:
1. Risiko per transaksi maksimal 1% dari akun (di awal bisa lebih kecil).
2. Pakai stop loss sekecil mungkin sesuai yang diizinkan price action. Kedengarannya kontra-intuitif, tapi nggak ada alasan buat mempertahankan transaksi yang merugikan. Meskipun stop loss-nya kecil, saya biasanya sudah cut loss sebelum stop loss-nya kena.
3. Saat profit, exit di take profit 2 sampai 3 kali stop loss. Ini memastikan profit jauh lebih besar daripada rugi. Dalam beberapa kasus, target yang sedikit lebih kecil (seperti 1,5 kali) bisa diterima, dan target yang lebih besar (seperti 4 kali atau lebih) juga bisa berlaku.
4. Hanya trading kalau target bisa tercapai oleh pergerakan harga yang tipikal.
Setiap langkah di atas akan bekerja sama, membantu kamu mengidentifikasi peluang trading high reward, low risk berdasarkan perilaku harga yang tipikal (bukan keberuntungan, dan nggak bergantung pada kondisi pasar ekstrem).
Kamu juga akan sadar, buat dapat profit day trading yang lumayan, sebenarnya nggak perlu mantengin chart lama-lama atau belajar banyak strategi. Cukup 30 menit sampai beberapa jam sehari, cari peluang risk-reward yang pas, dan kuasai satu atau dua strategi, kamu sudah bisa dapat performa profit yang oke.
1. Prinsip Risiko 1%
Sebelum bisa cuan besar, kita harus belajar kontrol risiko dulu. Kalau modal kita habis, kita nggak bisa dapat apa-apa.
Terapkan "Prinsip Risiko 1%". Artinya, kita maksimal hanya boleh rugi 1% dari total balance akun per transaksi. Kita boleh pakai seluruh dana di akun (bahkan lebih, kalau pakai leverage) untuk setiap transaksi, tapi rugi nggak boleh lebih dari 1% dari total dana.
Contoh, kalau akun day trading kita ada $45.000 (sekitar Rp720 juta), kita bisa buka posisi pakai seluruh jumlah itu (bahkan ditambah leverage), tapi rugi per transaksi maksimal nggak boleh lebih dari $450 (sekitar Rp7,2 juta). Konsep ini berlaku untuk ukuran akun berapa pun.
Saat baru mulai trading, rugi maksimal per transaksi 0,1%. Kalau di level risiko itu kamu profit konsisten selama beberapa minggu, naikkan risiko ke 0,2%, 0,3%, dan seterusnya.
Perlu dicatat, semakin besar akun, semakin sulit mempertahankan risiko 1% karena itu berarti ukuran posisi akan sangat besar. Tapi saat itu terjadi, kamu sudah cuan banyak, jadi nggak masalah.
Baca artikel terkait:《Profit Stabil $2 Juta dalam 3 Tahun, Cuma Karena Patuhi Satu Aturan Besi Ini: Aturan Risiko 1%》
2. Stop loss sekecil mungkin yang diizinkan pasar
Sekarang kita tahu berapa maksimal dolar yang boleh kita rugi per transaksi—maksimal 1% dari akun.
Selanjutnya kita perlu menunggu momen yang memberikan peluang entry dengan stop loss kecil.
Stop loss adalah instruksi untuk langsung menutup posisi saat harga mencapai ambang tertentu. Ini salah satu cara paling simpel untuk mengontrol risiko per transaksi.
Banyak orang bikin kesalahan di sini.
3. Targetkan kelipatan stop loss atau risiko
Buat pemula, situasinya jadi lebih buruk. Bukan hanya mereka menanggung risiko yang sama dengan trader profesional, tapi dengan saham yang lebih sedikit, mereka juga sulit mencapai return yang sama dengan trader profesional.
Idealnya, kita ingin dapat 2 kali, 3 kali, 4 kali, bahkan 5 kali dari jumlah stop loss dalam satu transaksi profit. Karena stop loss kita mewakili 1% dari akun, kalau kita bisa dapat 2 sampai 3 kali lipatnya, itu setara dengan penambahan 2% sampai 3% ke akun. Tapi semakin besar stop loss, semakin sulit mencapai return seperti itu!
Saat trading forex, saya biasanya set target di 2,5 kali stop loss (antara 1,5 sampai 3 kali). Sedangkan saat trading saham, saya set target di 2 sampai 3 kali stop loss.
Pemula, karena berusaha "menghindari kerugian", malah pasang stop loss yang lebih besar, akibatnya mereka hampir mustahil mendapat persentase profit yang tinggi di akun.
Sedangkan trader profesional pakai stop loss yang lebih kecil, sehingga harga lebih mudah mencapai target kelipatan stop loss, dan dalam hitungan menit saja akun bisa tumbuh 2,5% (padahal transaksi itu bahkan cuma pakai setengah lebih sedikit dari dana mereka—sisanya masih bisa dipakai untuk saham lain).
4. Hanya trading kalau target/kelipatan bisa tercapai
Lalu bagaimana kita tahu apakah suatu target masuk akal?
Apakah target pemula masuk akal? Karena stop loss-nya lebih dari 5%, maka untuk mencapai target risk-reward 2:1, harga harus naik minimal 10% (dari titik entry) baru bisa tercapai. Menurut kamu, apakah itu sering terjadi? Kalaupun terjadi, apakah biasanya selesai dalam hitungan menit?
Apakah target trader profesional masuk akal? Dalam contoh ini, masuk akal. Saat itu saham ini (MARA) masuk dalam "Daftar Saham Terbaik untuk Day Trading", dan biasanya bergerak sekitar 12% dari open sampai close. Sebagai perbandingan, trader profesional menangkap kenaikan 4,37% jauh lebih mudah daripada pemula yang mencoba menangkap kenaikan 10%~15% (ditambah stop loss besar, totalnya jauh melebihi rata-rata pergerakan harian saham tersebut).
Untuk saham seperti ini, trader profesional bisa menangkap pergerakan 3% atau 4% berkali-kali dalam sehari.
Cara yang lebih simpel: lihat seberapa panjang price swing hari itu. Ini akan memberi kamu gambaran seberapa jauh harga kira-kira bisa bergerak—lalu set target profit yang lebih konservatif, usahakan dalam rentang yang lebih kecil dari swing yang sudah terbentuk.
Untuk saham, beberapa menit pertama biasanya paling volatil, jadi swing harga setelahnya cenderung lebih kecil daripada awal pembukaan.
Sedangkan di forex, saya mengukur ukuran swing harga sepanjang hari trading (termasuk sessions London dan sessions New York), untuk menentukan target profit yang bisa ditetapkan.
Kalau pergerakan harga terkini cukup besar untuk dengan mudah mencapai target 2x SL (2 kali stop loss), maka saya trading; kalau tidak cukup, maka se"menggiurkan" apa pun kelihatannya, saya nggak akan entry. 1,5 kali adalah standar minimum yang saya terima; 2 kali atau lebih ideal.
Kalau target 1,5 kali stop loss sudah di luar rentang pergerakan normal harga, maka saya nggak akan ambil transaksi itu.
Seiring berjalannya hari trading, ukuran swing harga juga berubah, ini bisa membantu kamu menilai kondisi pasar saat itu. Tapi prinsipnya tetap sama: kalau volatilitas harga sudah nggak cukup besar untuk dengan mudah mencapai target profit 1,5 kali stop loss, jangan trading. Dan kalau bisa mencapai 2 kali atau lebih besar, tentu lebih baik.
Contoh lain day trading profit cepat dan tinggi
Profit cepat dan tinggi… mengandalkan pergerakan harga yang normal dan sehari-hari, itulah kuncinya.
Kita ingin bisa dapat profit yang lumayan terlepas dari pasar yang kita tradingkan sedang tenang atau volatil. Kecuali kamu nggak cocok trading di pasar yang kurang volatil karena komisi yang tinggi, dalam kondisi pasar apa pun kita seharusnya mampu mendapat return day trading yang oke (tentu saja, kamu mungkin lebih suka kondisi pasar tertentu).
Mari kita lihat contoh day trading forex berikut:
Saya biasanya pakai stop loss 2 sampai 3 pip saat trading EURUSD. Artinya, target 2,5 kali stop loss sekitar 5 sampai 7,5 pip dari harga entry. Selama swing harga saat itu biasanya bisa bergerak sejauh itu, maka ada kemungkinan mendapat profit 2,5% di akun dalam hitungan menit.
Dalam kondisi pasar yang kurang volatil, stop loss mungkin hanya 1,5 sampai 2 pip (target di 3,7 sampai 5 pip); dalam kondisi pasar yang volatil, stop loss mungkin 3 sampai 5 pip (target di 7,5 sampai 12,5 pip).
Karena stop loss 2 sampai 3 pip sangat kecil, maka perlu pakai leverage untuk mengubah pergerakan itu menjadi risiko 1% dari akun.
Untuk mencapai risk-reward ratio yang bagus, sebaiknya jaga stop loss tetap kecil, sehingga begitu pasar bergerak salah kita bisa langsung exit. Dengan begitu, harga target nggak perlu bergerak terlalu jauh untuk profit.
Saat itu harga sedang dalam tren turun, jadi saya short, tapi langsung kena stop loss. Setelah itu, harga membentuk pola reversal, saya langsung long, dan cepat dapat profit 5% atau 5R (dua transaksi, masing-masing dengan risk-reward ratio 2,5 kali).
Kalau saya pakai stop loss yang lebih besar saat short pertama, bukan hanya masih rugi, tapi saya juga akan terjebak di transaksi short itu, dan melewatkan peluang untuk balik arah long. Stop loss yang lebih besar biasanya berarti kamu akan bertahan lebih lama di transaksi yang merugi, ini buang-buang waktu, dan bisa melewatkan peluang trading lainnya.
Setelah itu, harga mulai turun lagi. Saya kena dua kerugian lagi (saat harga nggak bergerak sesuai ekspektasi, saya cut loss lebih awal). Lalu saya long lagi, dan rugi lagi. Trader pemula biasanya benci situasi seperti ini, tapi trader profesional nggak peduli. Saya lanjut entry long, dan kali ini profit lagi 2,6%.
Dalam waktu kurang dari satu jam, akun sudah naik lebih dari 4%, padahal win rate masih di bawah 50%.
Kesimpulan akhir tentang cara mendapat profit tinggi dari day trading
Baik trading forex, saham, maupun futures, prinsip-prinsip di atas berlaku universal.
Kalau suatu instrumen nggak terlalu volatil—misalnya EURUSD yang biasanya hanya bergerak sekitar 1% per hari, sementara crude oil atau saham tertentu bisa bergerak 5% atau lebih per hari—maka kita mungkin perlu pakai leverage untuk mencapai ukuran transaksi "risiko akun 1%". Sedangkan untuk aset yang lebih volatil, kita mungkin hanya perlu pakai sebagian kecil dana untuk mencapai eksposur risiko 1%. Tapi pada akhirnya semua akan seimbang secara keseluruhan, jadi nggak ada pasar yang pasti lebih unggul dari yang lain. Selama kamu paham konsep trading yang dibahas di artikel ini, pasar apa pun punya potensi profit yang sama.
Hanya dengan satu transaksi per hari, kamu juga bisa mendapat profit day trading yang lumayan. Transaksi itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit.
Profit tinggi nggak bergantung pada mantengin chart lama-lama… meskipun kita memang butuh waktu di depan layar untuk menemukan peluang.
Kunci sebenarnya:
Tetapkan risk limit kamu sendiri dengan jelas; sabar menunggu pasar memberikan peluang trading dengan stop loss kecil (semakin kecil stop loss, semakin besar posisi, sementara risiko tetap terkontrol di 1% dari akun); lalu ambil profit di target kelipatan yang wajar (misalnya 2 kali atau lebih), yang bisa dicapai berdasarkan perilaku pasar hari itu atau karakteristik volatilitas aset tersebut.
Kamu bisa coba dulu metode ini di akun demo. Untuk menguasai cara menentukan ukuran posisi per transaksi dengan benar, cara pasang order yang benar, dan cara menilai peluang yang layak diambil, semuanya butuh waktu dan latihan.
Disclaimer:Konten artikel ini bukan saran investasi pribadi, dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual produk keuangan apa pun. Trading memiliki risiko, bisa menyebabkan kerugian besar, dan jika menggunakan leverage, kerugian bahkan bisa melebihi modal akun.