Price Action trading, yang juga dikenal sebagai trading "telanjang" (tanpa indikator), sangat populer di kalangan trader. Bagi trader price action, pergerakan harga itu sendiri adalah sinyal utama mereka untuk masuk dan keluar pasar. Momentum harga, tren, dan volatilitas memengaruhi keputusan trading mereka.
Strategi price action trading adalah proses menggunakan data pergerakan harga yang terus berubah, mengamati grafik trading untuk membuat keputusan beli dan jual. Price action trading berusaha menggunakan sinyal entry dan exit dengan win rate yang tinggi untuk menciptakan risk-reward ratio yang baik, sehingga menghasilkan trading yang menguntungkan, di mana total profit seiring waktu melebihi total rugi.
Proses price action trading bertentangan dengan praktik membuat keputusan trading menggunakan opini, prediksi, dan emosi. Price action trading adalah proses memanfaatkan apa yang sedang terjadi di pasar untuk menentukan apakah akan beli, jual, atau menahan posisi. Price action murni mampu menunjukkan perilaku pembeli dan penjual saat ini dalam timeframe apa pun. Mendengarkan apa yang secara visual disampaikan oleh grafik (sinyal) bisa dibilang merupakan seni dan sains dari analisis teknikal.
Price action trading memiliki empat dinamika utama:
1. Sinyal entry berdasarkan breakout, penurunan, trading range, atau pola grafik.
2. Jika akan melakukan trading, stop loss harus ditempatkan pada level yang sulit dicapai harga.
3. Jika trading yang profit mengalami pembalikan, trailing stop dapat membantu kamu mengunci profit.
4. Target profit yang akan mengunci reward maksimum ketika harga mencapai level yang ditetapkan.
Aturan price action trading menciptakan kerangka kerja dan konteks bagi perilaku trader, untuk memastikan mereka terhindar dari rugi atau margin call saat mengejar profit.
Berikut adalah lima aturan price action trading terpenting yang harus diketahui setiap trader:
#1. Aturan Trendline
Trendline adalah pengidentifikasi dan penghubung resistance dan support dalam pola grafik.
Trendline adalah pengidentifikasi tren dalam timeframe trading.
Trendline vertikal harus digambar dari kiri ke kanan untuk mengidentifikasi salah satu tren berikut:
1. High yang semakin tinggi, menandakan uptrend.
2. Low yang semakin tinggi, menandakan support dalam uptrend.
3. Low yang semakin rendah, menandakan downtrend.
4. High yang semakin rendah, menandakan resistance dalam downtrend.
◐ Trendline menunjukkan jalur dengan resistensi terkecil.
◐ Setelah trendline breakout, akan tercipta kondisi ekstrem baru.
◐ Breakout trendline bisa menandakan pembalikan arah dari pergerakan saat ini.
◐ Breakout trendline juga bisa menandakan koreksi dari pergerakan saat ini atau tren baru telah dimulai.
#2. Aturan Trading Range
Grafik ranging memiliki level support yang jelas, di mana buyer akan masuk pada harga tersebut, sehingga harga sebagian besar waktu tidak akan menembus level itu. Grafik ranging juga memiliki level resistance yang jelas, di mana tidak ada buyer yang masuk pada harga tersebut, dan harga sebagian besar waktu tidak akan menembus level itu. Ketika harga breakout resistance atau menembus support dan mulai menyimpang dari range harga yang telah ditetapkan, grafik ranging mulai berubah menjadi tren. Pada grafik ranging, beli di support atau jual di resistance akan menguntungkan.
◐ Range price action menunjukkan "kemacetan" antara buyer dan seller.
◐ Sebagian besar breakout gagal pada beberapa kali pertama.
◐ Sebagian besar breakout akan retrace ke range sebelumnya, baru kemudian melanjutkan ke arah breakout.
◐ Beli rendah jual tinggi.
#3. Aturan High Probability Setup
Dalam price action trading, "high probability setup" memerlukan beberapa prinsip dan strategi kunci untuk meningkatkan probabilitas keberhasilan trading. Setup ini biasanya bergantung pada pengamatan perilaku pasar dan analisis teknikal. Titik entry berprobabilitas tinggi didasarkan pada kualitas sinyal saat ini, yaitu entry ketika probabilitas suatu situasi terjadi lebih tinggi daripada situasi lainnya.
Misalnya, beli saat pullback dalam uptrend atau jual saat rebound dalam downtrend. Entry pada range yang gagal breakout dan kembali ke level resistance atau support sebelumnya. Level oversold atau overbought yang ekstrem, bergerak dari rata-rata moving average 20 hari menuju ekstrem. Terakhir, breakout range dan sinyal tren baru dari high atau low baru dalam timeframe tertentu.
◐ Titik entry kedua searah tren utama.
◐ Kegagalan breakout tren.
◐ Kegagalan pergerakan ekstrem pada puncak dan lembah.
◐ Konfirmasi higher high atau lower low menandakan tren telah dimulai.
1. Identifikasi dan Ikuti Tren:
Beli saat pullback: Dalam uptrend, tunggu harga pullback ke support, lalu cari sinyal beli.
Jual saat rebound: Dalam downtrend, tunggu harga rebound ke resistance, lalu cari sinyal jual.
Konfirmasi tren: Gunakan moving average (seperti MA 20 hari, 50 hari, 200 hari) untuk mengonfirmasi arah tren.
2. Sinyal Breakout yang Gagal:
Ketika harga breakout level support atau resistance kunci tetapi tidak mampu bertahan, dan kembali ke dalam range, kamu bisa trading pada titik breakout yang gagal. Situasi ini menunjukkan pasar gagal mempertahankan arah baru, dan kemungkinan kembali ke tren semula.
3. Level Overbought dan Oversold:
Gunakan Relative Strength Index (RSI) atau stochastic indicator untuk mengidentifikasi kondisi overbought dan oversold. Ketika pasar mencapai level ekstrem, sinyal pembalikan mungkin muncul. Misalnya, ketika RSI melebihi 70 menandakan overbought, dan di bawah 30 menandakan oversold.
Cari peluang jual dalam kondisi overbought, dan peluang beli dalam kondisi oversold.
4. Level Support dan Resistance Kunci:
Identifikasi level support dan resistance kunci pada grafik. Ketika harga mendekati level ini, amati price action, cari sinyal entry.
Gunakan price action seperti pola kandil pembalikan (seperti hammer, inverted hammer, bullish engulfing, bearish engulfing) untuk mengonfirmasi entry.
5. Breakout Range dan Awal Tren:
Ketika harga breakout dari range jangka panjang dan membentuk high atau low baru, ini bisa diidentifikasi sebagai awal tren baru.
Konfirmasi pullback setelah breakout. Jika harga breakout level kunci lalu pullback dan menemukan support atau resistance, ini bisa menjadi titik entry berprobabilitas tinggi.
6. Titik Entry Kedua:
Terkadang pasar memberikan kesempatan entry kedua, misalnya pada pullback atau rebound searah tren utama. Manfaatkan kesempatan ini untuk trading.
Ketika harga kembali ke level support atau resistance penting, amati price action, cari sinyal konfirmasi.
7. Analisis Pola:
Gunakan pola teknikal seperti head and shoulders, double top, double bottom, flag, dan wedge untuk mengidentifikasi titik entry berprobabilitas tinggi.
Pola-pola ini biasanya disertai dengan price action tertentu, yang bisa menjadi sinyal entry.
#4. Jangan Melawan Tren
Aturan paling berbahaya yang bisa dilanggar oleh trader mana pun adalah melawan tren. Ketika trader mendapati diri mereka berada di sisi yang salah dari tren, dan tidak menggunakan stop loss, ini menyebabkan kerugian besar, kerugian kecil berubah menjadi kerugian besar. Trader yang profit mengikuti tren, dan jika mereka melakukan trading melawan tren setelah level oversold atau overbought yang ekstrem, position sizing mereka cukup kecil dan stop loss cukup ketat untuk keluar dengan kerugian yang terkendali jika salah.
◐ Pasar tidak harus berbalik, ia bisa tetap dalam tren.
◐ Menebak puncak dan dasar adalah strategi trading berisiko tinggi dengan probabilitas rendah.
◐ Terlepas dari pandangan atau prediksimu, trendline akan menunjukkan tren saat ini.
◐ Pertimbangkan long dalam bull market, pertimbangkan short dalam bear market.
Manfaatkan beberapa strategi trading searah tren, seperti dalam uptrend, cari peluang beli ketika harga pullback ke support atau moving average; dalam downtrend, cari peluang jual ketika harga rebound ke resistance. Selain itu, beli dalam uptrend ketika harga breakout resistance kunci; jual dalam downtrend ketika harga menembus support kunci.
Kamu juga bisa menggunakan beberapa indikator pengikut tren, seperti Average Directional Index (ADX), ADX di atas 20 biasanya menunjukkan pasar memiliki tren yang jelas, semakin tinggi nilainya, semakin kuat trennya. ADX tidak membedakan arah tren, tetapi bisa dikombinasikan dengan indikator lain. Seperti MACD (Moving Average Convergence Divergence) dan RSI (Relative Strength Index). Garis MACD di atas signal line menunjukkan uptrend, sebaliknya menunjukkan downtrend.
#5. Aturan Sinyal Kandil
Pola kandil yang beresonansi dengan sinyal indikator teknikal dan setup lainnya meningkatkan probabilitas keberhasilan entry. Kandil bullish yang berpotongan dengan moving average bullish dapat mengonfirmasi sinyal. Pola kandil bearish dengan sinyal pembalikan overbought pada RSI dapat mengonfirmasi kemungkinan penurunan. Pola kandil dapat mengonfirmasi setup teknikal lainnya.
◐ Sinyal kandil mengonfirmasi momentum setup.
◐ Kandil bullish dapat mengonfirmasi sinyal long.
◐ Kandil bearish dapat mengonfirmasi sinyal short.
◐ Sebagian besar pergerakan kuat dimulai dengan kandil besar searah sinyal.
Dalam trading, penggunaan konfirmasi pola kandil seperti hammer, engulfing, morning star, evening star, dan shooting star merupakan bagian penting dari analisis teknikal. Pola-pola ini dapat memberikan sinyal beli atau jual, membantu meningkatkan akurasi keputusan trading.
Misalkan dalam uptrend, harga membentuk hammer pada level support kunci, sementara indikator RSI berada dalam kondisi oversold. Pada saat ini, kamu bisa memasang order beli di atas high hammer, dan stop loss di bawah low hammer. Selanjutnya, jika harga breakout ke atas high hammer, sinyal pembalikan bullish dapat dikonfirmasi, dan kamu bisa melakukan trading.
Melalui metode dan teknik di atas, trader dapat secara efektif memanfaatkan pola kandil untuk mengonfirmasi sinyal trading, meningkatkan akurasi dan tingkat keberhasilan keputusan trading.
Kesimpulan
Jika lima aturan price action trading di atas digunakan secara konsisten dalam jangka panjang pada konteks trading yang tepat, maka dapat secara signifikan meningkatkan trading kamu, sehingga menjadi sebuah keunggulan.