Bayangkan saja, seorang mahasiswa dropout yang fokus trading satu pasangan mata uang saja (GBPJPY), tidak hanya berhasil lolos tantangan ketat #FTMO, tapi juga sukses meraup return 16 kali lipat dari modalnya! Namanya Alex, dulunya seorang personal trainer, dengan mimpi jadi freelancer, ia hanya menyetor 540 Euro (sekitar 570 dolar AS atau Rp9,3 juta), dan akhirnya dengan akun berukuran 100.000 dolar AS (sekitar Rp1,6 miliar), ia mengantongi profit 12.366 dolar AS (sekitar Rp201 juta) dan benar-benar menerima bagi hasil sebesar 9.893 dolar AS (sekitar Rp161 juta). Di balik kisah sukses ini, strategi trading dan mental seperti apa yang sebenarnya dia pakai? Yuk kita bedah!
"Nggak butuh gelar, yang penting eksekusi—itulah filosofi trading saya." Kalimat Alex ini mungkin jadi kunci kesuksesannya.
Dalam proses lolos evaluasi, hampir mustahil bisa lulus hanya dengan satu transaksi. Contohnya di program prop trading Axi Select dari broker ternama asal Australia, Axi, mereka punya syarat minimum jumlah transaksi untuk naik level, misalnya di fase seed minimal 20 transaksi, fase incubation minimal 40 transaksi, fase acceleration dan professional masing-masing 50 transaksi baru bisa naik level. Tapi begitu berhasil mencapai fase kedua (incubation), kamu sudah berhak dapat bagi hasil dari profit akun pendanaan.
Makanya, trader seperti Alex pasti sudah melakukan lebih dari satu transaksi untuk akhirnya mencapai target profit di atas 10% (target profit Axi Select adalah 7%). Untuk berbagi pengalaman, Alex sengaja memilih satu transaksi yang menurutnya paling representatif sebagai studi kasus kali ini.
Instrumen yang dia bagikan kali ini adalah GBP/JPY, dengan timing sekitar musim panas 2022. Meskipun sudah hampir 3 tahun berlalu, itu tidak mengurangi poin pembelajarannya—yang benar-benar layak kita perhatikan adalah cara berpikir dan logika tradingnya. Harga memang berubah, tapi pola dan hukum pasar sering kali menunjukkan kemiripan yang menakjubkan.
Soal strategi trading, pendekatan yang Alex pakai dalam transaksi ini adalah: mulai analisis arah pasar dari timeframe yang lebih besar. Spesifiknya, ia pertama-tama mengamati pergerakan di level weekly untuk menentukan tren pasar secara keseluruhan, baru kemudian mencari peluang entry di timeframe yang lebih kecil. Pendekatan analisis multi-timeframe "dari besar ke kecil" ini membantu menjaga konsistensi arah dalam trading dan meningkatkan win rate.
Dan di level weekly, ia mengidentifikasi zona support resistance, karena menurut Alex setiap kali harga menyentuh zona support resistance tersebut selalu ada pullback yang jelas (percaya atau tidak, itu memang terjadi).
Setelah menentukan arah keseluruhan di level weekly, Alex beralih ke level 4 jam untuk mencari area support dan resistance potensial. Di grafik 4 jam, ia mengamati harga sedang dalam tren naik, yang ditandai dengan munculnya higher high (HH) dan higher low (HL) secara berurutan. Pola seperti ini adalah ciri khas price action yang menandakan pasar sedang dalam tren naik.
Dalam konteks ini, Alex khususnya memperhatikan bahwa harga saat itu berada di titik pertemuan antara panah merah dan area support hijau di gambar. Ia menilai posisi ini adalah higher low (HL) baru dalam tren naik. Berdasarkan struktur tren naik, ia memperkirakan harga kemungkinan besar akan lanjut naik membentuk higher high (HH) baru. Selain itu, karena harga juga tepat berada di atas garis support hijau, dua hal ini bersama-sama menjadi kondisi inti yang membuatnya memilih untuk entry.
Sampai di sini, Alex sudah mengonfirmasi dua kondisi kunci: higher low (HL) dalam tren naik dan berada di atas area support. Meskipun dua kondisi ini saja sudah cukup memberikan peluang trading yang bagus, dalam analisis teknikal kita tahu bahwa semakin banyak kondisi yang terpenuhi secara bersamaan, semakin reliable sinyal tradingnya. Banyak trader jago dari dalam dan luar negeri juga sering menyebutkan bahwa menggunakan konfluensi multi-kondisi, atau yang disebut confluence point, bisa efektif meningkatkan win rate saat entry.
Untuk lebih memvalidasi kelayakan transaksi ini, Alex menambahkan alat Fibonacci retracement sebagai penilaian tambahan. Hasilnya, selain dua kondisi sebelumnya, harga saat itu juga tepat retrace ke posisi penting di sekitar Fibonacci 0.5. Dengan terpenuhinya ketiga kondisi ini, keyakinan Alex terhadap transaksi long ini semakin kuat, dan ia memutuskan untuk entry dengan tegas.
Setelah menentukan arah dan target secara garis besar, Alex beralih ke timeframe yang lebih kecil (seperti grafik 15 menit atau 5 menit) untuk mencari timing entry yang spesifik. Di level 15 menit, ia mengamati area resistance kecil, dan menilai jika harga berhasil breakout dari zona kuning ini, ada probabilitas tinggi harga akan lanjut naik mencapai area target berikutnya. Pada saat yang sama, Alex juga menekankan konsep manajemen risiko yang penting—break even point. Ketika harga naik ke posisi garis ungu yang ia tentukan, ia akan memindahkan stop loss awal ke harga entry, sehingga meskipun pasar berbalik arah, transaksi ini tetap bisa dipertahankan tanpa risiko, alias hold posisi tanpa biaya.
Dalam transaksi ini, Alex juga menyebutkan satu detail penting: ia memilih menyelesaikan setup entry sebelum sesi Eropa dibuka. Kemudian, seiring dibukanya pasar Eropa, harga bergerak cepat sesuai ekspektasi dan langsung breakout. Metode entry menjelang waktu pembukaan pasar ini memanfaatkan karakteristik meningkatnya likuiditas dan volatilitas saat pasar dibuka, dan juga menjadi salah satu strategi penting yang sering dipertimbangkan banyak trader saat menyusun trading plan.
Kenapa Prop Trading Begitu Diminati Trader?
Menjadi trader bagi hasil di #propfirm adalah impian banyak penggemar trading. Dalam beberapa tahun terakhir, model "investor institusi yang keluar modal, trader yang kerja" ini telah mewujudkan mimpi banyak investor untuk "hidup dari trading".
Banyak trader yang berhasil melalui program seperti Axi Select, FTMO, dan lainnya, membuktikan bahwa jalan ini memang bisa ditempuh. Lolos evaluasi Axi Select bukan hanya memberi dukungan modal yang besar dan bagi hasil profit, tapi juga membuatmu menonjol di antara trader global dan menunjukkan kemampuan tradingmu.
Namun, untuk lolos evaluasi prop trading tidaklah mudah. Misalnya proses seleksi FTMO yang sangat ketat, menuntut trader tidak hanya punya pengalaman trading yang kaya, tapi juga menguasai strategi dan teknik trading yang mumpuni, serta memiliki kemampuan manajemen risiko yang baik.
Seiring terus bertambahnya komunitas prop trading global, "Trader Talk" secara khusus melakukan analisis dan rangkuman mendetail dari berbagai sudut tentang cara memilih komunitas prop trading yang tepat.
Apa Itu Prop Trading?
Prop trading adalah ketika institusi menggunakan dana milik mereka sendiri untuk trading. Dalam beberapa tahun terakhir, prop trading yang diwakili FTMO semakin populer. Alur operasionalnya kira-kira begini:
Trader pertama-tama membeli akun demo untuk mengikuti evaluasi. Setelah lolos evaluasi, ia bisa menikmati akun real yang disediakan perusahaan untuk trading, dan setelah mendapat profit, ia berbagi hasil dengan platform, misalnya platform 20%, trader 80%, dan seterusnya.
Selanjutnya, kita akan bahas dari berbagai sudut bagaimana memilih komunitas prop trading yang kredibel.
1. Apakah Ada Biaya Evaluasi
Saat ini sebagian besar komunitas prop trading luar negeri menjadikan biaya ujian sebagai sumber pendapatan utama. Contohnya FTMO, investor yang ikut evaluasi harus membeli akun demo dengan biaya minimum 155 Euro (sekitar 165 dolar AS atau Rp2,7 juta).
Model bisnis seperti ini menentukan bahwa begitu komunitas dikelola dengan buruk, ada risiko bangkrut. Ini bukan menakut-nakuti, di kolom komentar artikel sebelumnya tentang komunitas prop trading, ada investor yang mengungkapkan bahwa komunitas tempatnya ikut evaluasi "sudah kabur", dan biaya evaluasinya terbuang sia-sia.
Berdasarkan penghitungan tidak lengkap kami, selain Myforexfunds yang disebutkan investor tersebut, komunitas prop trading luar negeri yang sudah tutup dalam beberapa tahun terakhir antara lain True Forex Funds, Funds For Traders, Karma Capital, dan beberapa lainnya.
Jadi saat memilih komunitas prop trading, usahakan pilih yang skalanya besar, sudah beroperasi lama, atau punya dukungan backend yang kuat.
2. Tingkat Kesulitan Evaluasi
Tingkat kesulitan evaluasi langsung menentukan tingkat kelulusan para challenger. Berdasarkan data dari FPFX Tech, perusahaan teknologi luar negeri yang menyediakan layanan IT untuk komunitas prop trading, dari sekitar 100.000 investor di 10 komunitas prop trading yang mereka tangani, sekitar 15% investor berhasil lolos evaluasi.
Banyak challenger pertama-tama memperhatikan empat indikator utama: max drawdown, target profit, jumlah transaksi, dan durasi trading. Contohnya FTMO, komunitas ini membagi evaluasi menjadi dua fase.
Di fase pertama, max drawdown tidak boleh lebih dari 20%, target profit 10%. Di fase kedua, max drawdown tidak boleh lebih dari 20%, target profit 5%. Selain itu, di kedua fase kapan pun, equity akun tidak boleh di bawah 90%.
Dari komunitas prop trading mainstream saat ini, indikator-indikator ini tidak jauh berbeda. Tapi perbedaan aturan kecil bisa membuat tingkat kesulitan melonjak drastis, yang berujung pada perbedaan tingkat kelulusan yang sangat besar.
Kita ambil contoh, misalkan seorang investor bergabung dengan komunitas challenge dan berhasil menangkap momentum dengan lancar, mencapai target profit 10%, selanjutnya tinggal memenuhi syarat jumlah transaksi untuk lolos challenge.
Tapi dalam sistem evaluasi dua fase FTMO, ia harus masuk ke evaluasi fase kedua. Target profit fase pertama 10% ditambah fase kedua 5%, artinya sebenarnya harus mencapai target profit 15% baru bisa lolos evaluasi.
Meskipun ini menghilangkan sebagian faktor keberuntungan, tapi tanpa disadari juga meningkatkan kesulitan challenger, dan tingkat kelulusan langsung turun drastis. Menurut penjelasan FTMO, tingkat kelulusan global hanya 8%, jauh lebih rendah dari tingkat kelulusan 15% yang diumumkan FPFX Tech.
3. Apakah Ada Aturan "Mulai dari Nol"
Di komunitas prop trading, setelah investor mendapat profit, ia bisa berbagi profit dengan institusi. Tapi jika rugi, ia tidak perlu menanggung kerugian. Mekanisme bagi hasil ini menentukan bahwa komunitas harus menetapkan aturan manajemen risiko yang ketat.
Di antara banyak aturan manajemen risiko, ada satu aturan yang sangat ketat, kita sebut saja prinsip "mulai dari nol".
Contohnya FTMO, mereka menetapkan empat fase: challenge, verification, account, dan professional. Di antaranya, challenge dan verification adalah fase evaluasi. Jika lolos challenge tapi gagal di fase verification, maka langsung kembali ke fase challenge, ini mudah dipahami.
Setelah masuk fase account, artinya sudah mendapat kualifikasi bagi hasil. Tapi begitu memicu manajemen risiko max drawdown 20% atau max daily drawdown 10%, maka juga kembali ke fase challenge, dan semua usaha sebelumnya sia-sia.