"Seorang trader harus berjuang melawan banyak musuh mahal di dalam dirinya sendiri." —— Jesse Livermore
Jesse Livermore adalah salah satu pionir di dunia trading. Dia adalah salah satu trend trader pertama, trader subjektif berbasis aturan, dan trader pure price action. Dia adalah seorang pelopor. Bukan metode tradingnya yang membuatnya gagal, melainkan kelemahan-kelemahan di aspek lain. Setelah membaca buku-buku tentang legenda trading ini, serta buku yang dia tulis sendiri, saya merangkum delapan poin yang menurut saya menjadi akar penyebab kegagalannya pada akhirnya.
1. Membiarkan kerugian membesar: Dia berkali-kali gagal melakukan stop loss tepat waktu. "Saya sepenuhnya salah. Trading kapas menunjukkan kerugian, tapi saya terus memegangnya; trading gandum menunjukkan profit, tapi saya buru-buru menutupnya. Dari semua kesalahan spekulasi, mencoba average down kerugian adalah yang paling fatal. Selalu jual instrumen yang menunjukkan kerugian, pertahankan posisi yang menunjukkan profit."
2. Overtrading: "Yang mengalahkan saya bukanlah kurangnya kecerdasan, melainkan kegagalan untuk mematuhi prinsip trading saya sendiri — yaitu hanya entry ketika kondisi sesuai dengan pola historis."
3. Mendengarkan rumor: "Seiring saya mulai menerima data dan pandangannya, saya mulai khawatir bahwa penilaian saya sebelumnya didasarkan pada informasi yang salah. Pikiran ini secara alami membuat saya memilih untuk menutup posisi. Dan begitu saya menutup posisi karena menganggap diri saya salah akibat perkataan Thomas, saya terpaksa beralih ke long. Itulah pola pikir saya." "Saya membayar jutaan dolar untuk memahami bahwa musuh berbahaya lainnya bagi trader adalah mudah terpengaruh oleh kepribadian magnetis orang-orang berbakat yang persuasif."
4. Risiko kebangkrutan: Dari pengalamannya yang berkali-kali margin call dan bangkrut secara pribadi, tampaknya dia tidak memahami risiko kebangkrutan matematis berdasarkan win rate dan pengurasan modal per trading.
5. Position sizing: Skala profit luar biasa yang dia capai pada periode-periode kunci menunjukkan bahwa dia tidak membangun model position sizing yang sesungguhnya untuk mengendalikan eksposur risiko. Kemungkinan besar dia menggunakan leverage penuh pada kemenangan terbesarnya, yang pasti menyebabkan akunnya berulang kali margin call.
6. Kurangnya disiplin: Dalam tulisannya, dia tampaknya selalu menyiratkan bahwa dia sulit mematuhi aturan dan nasihat pribadinya sendiri, dan begitu menyimpang dari rencana, dia akan mengalami kerugian.
7. Boros: Livermore menghambur-hamburkan kekayaan besarnya untuk rumah mewah, liburan, dan berbagai pengeluaran mewah. Dia tidak pernah menetapkan target kekayaan yang cukup untuk benar-benar pensiun menikmati hidup, dan selalu terus trading dengan posisi penuh dan strategi agresif.
8. Risiko kehancuran psikologis: Pada akhirnya, karena berbagai alasan dia memilih mengakhiri hidupnya. Tekanan posisi akibat overtrading, kesulitan keuangan akibat gaya hidup boros, serta masalah emosional pribadi, kemungkinan besar bersama-sama menyebabkan tragedi ini.