Kita semua menyukai tren.
Tren mewakili kelanjutan harga dan peluang profit yang berkelanjutan. Tapi dalam trading, konsolidasi justru adalah hal yang normal.
Tren tidak lain adalah harga yang terus naik atau turun, begitu kenaikan atau penurunan harga berhenti, kemungkinan besar tren sudah berakhir. Tapi konsolidasi sangat berbeda:
Bisa karena kurang volume, bisa karena bertemu price wall, bisa juga sedang mengakumulasi kekuatan;
Bisa terjadi di top dan bottom, bisa juga terjadi di tengah perjalanan tren;
Bisa muncul fake breakout, yang kemudian menjebak long dan short.
Tentu yang lebih penting adalah, berakhirnya konsolidasi sering kali menandakan dimulainya tren. Jadi mengenali konsolidasi sama pentingnya dengan menangkap tren. Hari ini kita akan membahas tentang konsolidasi.
I. Tiga Jenis Konsolidasi di Level Tinggi dan Rendah
Konsolidasi di level tinggi dan rendah adalah pembentukan pola secara keseluruhan di top atau bottom harga, ada tiga bentuk:
Pertama, konsolidasi non-absorpsi.
Meskipun ada buy order aktif, tapi tidak ada pending order yang cocok, sehingga harga tertahan di satu rentang harga.
Kamu bisa memahami prinsip ini dari mekanisme terbentuknya harga. Harga terbentuk pasti karena ada buy order yang bertemu sell order, kalau hanya ada buy order tanpa sell order, atau hanya ada sell order tanpa buy order, harga tidak akan bisa terbentuk.
Konsolidasi non-absorpsi, biasanya volume-nya relatif kecil, karena tidak ada transaksi. Tapi begitu terjadi breakout dengan volume besar, itu menandakan pasar sudah mencapai kesepakatan, dan biasanya akan menjadi tren.
Kalau tidak punya order flow tool, kamu bisa fokus lihat kandil. Kalau setelah kenaikan cepat lalu masuk ke rentang konsolidasi sempit, dan body kandil sangat pendek, itu menandakan pasar sedang memilih arah. Saat itu begitu terjadi breakout dari rentang, akan menjadi tren searah.
Kedua, konsolidasi absorpsi.
Bagaimana memahami absorpsi? Berapa pun order yang kamu beli, tapi order di atas terus mengalir tanpa habis, seolah-olah order kamu diserap.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, ini adalah price wall.
Ada banyak penyebab price wall:
① Salah satunya adalah ada market maker di sisi lawan yang masuk, tidak mengizinkan tren harga saat ini berlanjut, jadi mereka pasang order dalam jumlah besar;
② Ada juga iceberg order, di mana institusi besar memecah order mereka menjadi banyak bagian, menempatkan sebagian order di satu harga. Jadi kamu merasa terus mendorong harga bergerak, tapi sebenarnya order di atas tidak akan pernah habis kamu beli, malah kamu mendorong harga ke posisi yang diinginkan market maker.
Apapun situasinya, kamu akan menyadari bahwa meskipun volume meningkat, harga tidak bisa naik. Itu menandakan institusi memasang order di atas. Begitu chip kamu habis atau kamu menyerah untuk terus menyerang ke atas, maka penurunan harga sudah dekat.
Dalam order flow tool, ada indikator khusus bernama Delta, yaitu jumlah net long order dikurangi net short order. Kalau jumlah net long order melonjak, itu menandakan bull sedang mengerahkan tenaga. Kalau saat itu harga tidak naik, kamu harus sadar bahwa ada order yang dipasang di atas.
Begitu Delta menunjukkan net short order melonjak, itu menandakan sentimen pasar sudah berubah, usaha bull dinyatakan gagal.
Ketiga, konsolidasi akumulasi.
Melalui order flow tool kamu akan menemukan, di sini Delta tidak seperti konsolidasi absorpsi. Net long order dan net short order bergantian, tidak jelas mana yang lebih kuat, tapi kamu akan melihat volume terus meningkat.
Ini menandakan bull dan bear seimbang kekuatannya, tapi bull berhasil menahan penurunan harga, menandakan kemungkinan besar akan terbentuk bottom di sini.
Order flow tool yang ada di pasaran semuanya memperkenalkan indikator ketiga, yaitu imbalance. Yang dimaksud imbalance adalah, pada suatu level harga dalam satu kandil, jumlah buy order / sell order > 3, atau jumlah sell order / buy order > 3, masing-masing disebut buy imbalance dan sell imbalance, mewakili kekuatan bull yang dominan dan kekuatan bear yang dominan.
Kalau imbalance muncul berturut-turut tiga kali, itu disebut imbalance stacking, menandakan satu pihak memiliki kekuatan untuk terus mendorong harga.
Kamu bisa memahaminya begini: awalnya bull dan bear seimbang, tapi salah satu pihak mengalami imbalance, berarti mereka masih punya lebih banyak chip, tentu timbangan kemenangan akan condong ke mereka.
Jadi ketika volume terus meningkat, dan saat breakout dari rentang muncul imbalance bahkan imbalance stacking, maka kemungkinan besar akan terjadi pergerakan tren breakout.
II. Fake Breakout dalam Konsolidasi
Tentu, selain mengidentifikasi jenis konsolidasi, yang lebih sulit dikenali dalam konsolidasi adalah fake breakout.
Sudah disebutkan di awal, setelah konsolidasi akan ada tren, tapi kapan tren muncul, itu yang tidak diketahui. Jadi market maker hanya perlu membuat fake breakout di suatu level harga, dan itu akan menarik trader yang ikut-ikutan.
Ini tentu menguntungkan market maker. Kalau konsolidasi sebelum kenaikan, cara ini bisa menurunkan harga rata-rata dan meningkatkan profit keseluruhan. Tapi bagi trader yang ikut-ikutan, ini bukan hal baik. Kalau tren akhirnya muncul, kamu dinyatakan terjebak.
Jadi mengenali sinyal palsu dalam pola konsolidasi sangat penting. Ini juga merupakan inti dari metode trading Wyckoff.
Contohnya konsolidasi di bottom, metode Wyckoff menyebutnya accumulation, yaitu bull mulai mengumpulkan chip sebelum mendorong harga naik. Ada lima fase secara keseluruhan.
Fase A, market maker akan dengan cepat menaikkan harga setelah menyentuh bottom. Di satu sisi mengumpulkan chip di harga rendah, di sisi lain menciptakan ilusi kenaikan. Tapi kemudian mereka jual di titik tinggi, menyebabkan banyak order yang ikut-ikutan panik dan jual, ini memberi market maker kesempatan kedua untuk beli, dan mendorong harga ke新高.
Kita sudah pernah bahas sebelumnya, high dan low yang terus naik adalah tanda tren naik yang normal. Jadi sampai sini, banyak orang mengira ini kesempatan beli kedua, tapi ternyata kembali mengalami aksi jual.
Dari sudut pandang analisis teknikal, setelah naik lalu turun lagi, dan menciptakan low baru, jelas-jelas ini adalah pola bearish. Tapi justru inilah kegelapan terakhir sebelum fajar.
Metode trading Wyckoff menjelaskan cara institusi melakukan shakeout selama fase konsolidasi, dan juga menyediakan alat identifikasi rentang yang lebih akurat.
Misalnya rentang accumulation, kita biasanya menganggapnya ditentukan oleh dua harga yaitu selling climax dan automatic rally. Tapi dengan order flow tool, kita hanya perlu mencari rentang dengan volume terbesar dari overlay distribusi chip volume, dan bisa dengan cepat menentukan value area.
Volume Control Point adalah level harga dengan volume terbesar. Dengan memperkenalkannya, kita bisa mengunci posisi support terakhir lebih awal, sehingga bisa memutuskan apakah perlu menambah posisi untuk menyambut kenaikan.
III. Pola Konsolidasi dalam Tren
Konsolidasi yang dibahas sebelumnya terutama adalah konsolidasi di level tinggi dan level rendah, yang bisa kamu pahami sebagai accumulation dan distribution dalam Wyckoff.
Dalam proses naik dan turun, juga terdapat konsolidasi, yang biasanya berupa pola continuation. Fungsi pola continuation adalah membersihkan sebagian posisi yang sudah profit, dan mengguncang sebagian chip yang tidak kuat, sehingga tren bisa berlanjut dengan lebih baik.
Konsolidasi di sini berbeda dengan konsolidasi di level tinggi dan rendah. Ini bukan proses mengumpulkan energi, lebih seperti proses bull dan bear memilih arah, yang menentukan kelanjutan tren.
Umumnya ada beberapa situasi berikut:
1. Pola Rectangle
Pola paling umum, bisa ke atas maupun ke bawah. Yang utama adalah melihat apakah setelah breakout bisa konfirmasi support atau resistance.
2. Pola Triangle
Terbagi menjadi symmetrical triangle, ascending triangle, dan descending triangle.
Symmetrical triangle juga memilih arah, bull dan bear sama-sama mungkin. Sama juga, lihat konfirmasi pullback setelah breakout.
Ascending triangle, biasanya ada resistance di atas, tapi low di bawah terus naik. Ini menandakan bear tidak mampu membuat harga turun, tapi bull secara stabil mendapatkan keunggulan.
Kebalikan dari ascending triangle adalah descending triangle.
3. Pola Flag
Bear flag, yaitu dalam proses penurunan cepat, muncul pola konsolidasi naik yang singkat, tapi kemudian kembali breakout ke bawah dan turun lebih cepat. Penurunan cepat seperti tiang bendera, dan pola konsolidasi naik seperti kain bendera, makanya disebut pola flag.
Kebalikannya adalah bull flag.
4. Pola Wedge
Pola wedge mirip dengan flag, tapi cenderung menyempit.
Dalam rising wedge, top turun lebih cepat daripada bottom, menandakan sudah mulai ada upaya menopang di bawah. Kekuatan seller terlihat kuat, tapi tidak membuat bull mundur.
Kebalikannya adalah falling wedge.
5. Pola Broadening
Biasanya juga disebut pola megaphone, umumnya high terus naik dan low terus turun. Pola ini biasanya sinyal reversal yang cukup jelas.
Salah satunya adalah pola breakout reversal ke atas.
Kebalikannya adalah pola breakout reversal ke bawah.
Itulah pola konsolidasi dalam tren. Melalui sinyal konsolidasi ini, kamu bisa lebih baik mengidentifikasi apakah tren akan berlanjut atau berbalik.
Tapi perlu diperhatikan, situasi di atas hanyalah kondisi umum. Dalam trading nyata, munculnya pola konsolidasi berarti pasar sedang memilih arah, sekaligus dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti fundamental, likuiditas, dan teknikal. Terutama berita fundamental, sangat mungkin membuat pergerakan yang tadinya relatif pasti berbalik arah. Jadi jangan terlalu bergantung pada pola.
Secara keseluruhan, pola konsolidasi sebagai pola persiapan sebelum tren, mewakili pilihan arah pasar. Kalau kamu bisa mengidentifikasi sinyal konsolidasi dan fasenya dengan akurat, maka kamu bisa menangkap pergerakan harga secara lengkap.