Price channel, seperti Bollinger Bands dan Keltner Channels, sangat populer di kalangan trader dan investor aktif karena keduanya memberikan sinyal yang efektif tentang tren harga dan momentum terkait. Kedua indikator ini bisa digunakan untuk menemukan entry point tertentu.
Untuk memanfaatkannya secara maksimal dan menggunakannya secara efektif dalam strategi trading kamu, kamu perlu mengidentifikasi sinyal yang berbeda sedini mungkin dan mampu menginterpretasikannya dengan benar. Dalam artikel ini, kita akan membandingkan kedua indikator tersebut, dan setelah membacanya kamu akan memahami:
◎ Persamaan dan perbedaan kedua indikator ini
◎ Kapan menggunakan salah satu indikator memberikan hasil terbaik
◎ Bagaimana menggunakan kedua indikator ini secara bersamaan dalam strategi trading tertentu
Tentang Bollinger Bands
Tampilan
Secara default, Bollinger Bands dihitung berdasarkan Simple Moving Average (SMA) 20 hari.
Garis di atasnya disebut upper Bollinger Band (upper band), dan garis di bawahnya disebut lower Bollinger Band (lower band). Kedua garis ini dihitung berdasarkan standar deviasi dari garis tengah. Standar deviasi ini menciptakan rentang harga dinamis yang digunakan untuk merepresentasikan perubahan harga.
Ketika kondisi pasar sangat ketat (volatilitas tinggi), hal ini menyebabkan jarak antara upper dan lower Bollinger Band melebar, karena harga bergerak naik turun lebih tajam. Sebaliknya, ketika pasar tenang, harga tidak banyak berfluktuasi, sehingga upper dan lower Bollinger Band akan lebih berdekatan.
Cara Penggunaan
Bollinger Bands populer di kalangan swing trader dan futures trader, dan umumnya digunakan dengan tiga cara berbeda:
1. Sebagai sinyal tren baru
Ketika harga bergerak sideways dalam rentang yang semakin menyempit untuk beberapa waktu, lalu tiba-tiba ditutup di atas upper Bollinger Band, muncul sinyal beli. Ketika harga tiba-tiba ditutup di bawah lower Bollinger Band, muncul sinyal jual. Ini disebut "Bollinger Band Squeeze".
2. Sebagai sinyal konfirmasi tren kuat yang ada
Ketika harga terus naik dan bertahan di dekat upper Bollinger Band, ini adalah sinyal konfirmasi bull market yang kuat. Sebaliknya, jika harga terus turun dan mendekati lower Bollinger Band, ini menunjukkan adanya tren bear market yang kuat di pasar.
3. Sebagai sinyal reversal di akhir tren yang ada
Ketika setelah tren naik yang kuat, harga tiba-tiba turun tajam dan muncul pola reversal yang jelas, muncul sinyal reversal bearish. Pada saat yang sama, harga ditutup jauh di bawah upper Bollinger Band. Ini menunjukkan bahwa tren yang ada sedang kehilangan kekuatan dan momentum, dan reversal tren mungkin akan segera terjadi. Jika kamu masih memiliki posisi long yang belum ditutup, ini saat yang tepat untuk sedikit mendekatkan stop loss ke harga.
Sinyal reversal bullish juga mungkin terjadi, biasanya muncul saat tren bear market yang kuat akan berakhir.
Tentang Keltner Channels
Tampilan
Mirip dengan Bollinger Bands, Keltner Channels terdiri dari tiga garis berbeda. Secara default, garis tengahnya adalah Exponential Moving Average (EMA) 20 hari dari harga.
Upper dan lower Keltner Channel didasarkan pada jarak antara harga tertinggi dan terendah selama 20 hari terakhir, yang disebut "Average True Range (ATR)". Seperti garis tengah, nilai-nilai ini juga dihitung menggunakan Exponential Moving Average 20 hari.
Berbeda dengan Bollinger Bands yang menggunakan standar deviasi, Keltner Channels mencerminkan lebar aktual dari rentang harga.
Cara Penggunaan
Dalam hal penggunaan dan interpretasi Keltner Channels, tidak ada perbedaan dengan Bollinger Bands. Indikator ini juga dapat digunakan untuk mengkonfirmasi tren, menemukan tren baru, atau memberikan sinyal berakhirnya tren yang ada.
Bollinger Bands vs Keltner Channels
Perbedaan kedua indikator ini terletak pada cara perhitungan volatilitas, baik untuk channel luar maupun garis tengah.
⊙ Perhitungan channel luar
Tingkat pengukuran volatilitas harga adalah perbedaan kunci antara kedua indikator ini. Untuk itu, Bollinger Bands menggunakan konsep standar deviasi untuk mengekspresikan seberapa jauh harga dapat menyimpang dari rata-ratanya.
Keltner Channels juga mengukur volatilitas ini, tetapi dengan cara yang sedikit lebih kompleks. Indikator ini menggunakan Average True Range (ATR), di mana ATR sendiri juga merupakan rata-rata dari rentang harga absolut.
Perbedaan antara kedua metode perhitungan ini terutama terlihat jelas saat terjadi pergerakan harga yang tiba-tiba dan tajam. Karena Keltner Channels menggunakan rata-rata daripada standar deviasi konvensional, reaksi indikator ini terhadap perubahan harga yang tiba-tiba dan kuat cenderung lebih tidak langsung. Akibatnya, pergerakan indikator terlihat lebih halus, dengan lebih sedikit outlier.
⊙ Perhitungan garis tengah
Cara perhitungan garis tengah (center line) kedua indikator juga berbeda. Keltner Channels menggunakan Exponential Moving Average (EMA), yang memberikan bobot lebih besar pada harga terkini. Sedangkan Bollinger Bands menggunakan Simple Moving Average (SMA), di mana data harga dalam periode perhitungan diberikan bobot yang sama.
Selama fluktuasi harga yang tiba-tiba dan tajam, garis tengah Keltner Channels akan bereaksi lebih sensitif, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah. Namun perbedaannya kecil, jauh lebih tidak signifikan dibandingkan perbedaan pada cara perhitungan channel luar.
Indikator mana yang harus kamu gunakan?
Menganggap secara sederhana bahwa satu indikator lebih baik atau lebih andal dari yang lain adalah tidak tepat. Meskipun kedua indikator ini memiliki banyak kesamaan, karena cara perhitungannya berbeda, cara mereka bereaksi terhadap perubahan harga juga memiliki karakteristik masing-masing. Pilihan indikator mana yang digunakan bergantung pada dua faktor penting:
◎ Volatilitas pasar (apakah pergerakan harga sangat tajam atau relatif tenang?)
◎ Gaya investasimu (jangka pendek? jangka panjang? trend following? counter-trend trading?)
Seperti yang disebutkan di atas, Bollinger Bands lebih sensitif terhadap volatilitas pasar.
Ketika volatilitas harga tiba-tiba menurun, channel ekstrem Bollinger Bands akan menyempit lebih cepat. Dengan demikian, Bollinger Bands membentuk channel tren yang sempit lebih cepat daripada Keltner Channels.
Ketika harga akhirnya naik atau turun lagi, dan volatilitas meningkat, harga akan pertama kali menembus channel ekstrem Bollinger Bands. Oleh karena itu, Bollinger Bands menghasilkan lebih banyak sinyal, tetapi pada saat yang sama, jumlah sinyal palsu juga meningkat.
Namun, jika strategimu bersifat jangka pendek dan kamu tidak ingin melewatkan sinyal apa pun, Bollinger Bands lebih cocok, karena mereka bereaksi lebih cepat terhadap perubahan harga.
Keltner Channels kurang sensitif terhadap fluktuasi pasar yang tajam, karena mereka juga melakukan perataan pada channel luar (upper dan lower channel) dari garis tengah (garis tengah itu sendiri sudah merupakan nilai rata-rata). Akibatnya, pada awal tren baru, channel atas dan bawah indikator ini akan ditembus sedikit lebih lama.
Oleh karena itu, mereka lebih cocok untuk investor dengan periode investasi yang lebih panjang, yang tidak keberatan menunggu lebih lama sebagai imbalan atas keandalan sinyal beli atau jual yang lebih tinggi.
Namun, Keltner Channels kurang cocok untuk memberikan sinyal potensi reversal tren. Ini karena dalam tren yang kuat, harga bisa berada di atas upper channel-nya untuk waktu yang lama.
Karena metode perhitungan khusus Bollinger Bands, channel ekstremnya naik lebih cepat. Harga harus sangat kuat untuk mempertahankan harga penutupan di atas upper Bollinger Band.
Oleh karena itu, dalam tren yang sangat kuat, sinyal reversal yang muncul saat harga pertama kali ditutup di atas upper Bollinger Band lebih andal daripada sinyal serupa di Keltner Channels.
Squeeze Setup: Yang terbaik dari kedua dunia?
Squeeze Setup menggunakan Bollinger Bands dan Keltner Channels secara bersamaan. Kita sudah tahu bahwa begitu volatilitas menurun, band atas dan bawah kedua indikator ini cenderung lebih berdekatan. Ini karena tren harga menjadi lebih tenang, membentuk rentang harga yang relatif sempit. Dalam istilah sehari-hari, ini disebut zona konsolidasi.
Squeeze terjadi ketika upper dan lower Bollinger Band keduanya berada di dalam Keltner Channel. Secara jelas, upper Bollinger Band harus berada di bawah upper Keltner Channel, dan lower Bollinger Band harus berada di atas lower Keltner Channel. Hanya dengan begitu, squeeze setup yang sesungguhnya akan terbentuk.
Tujuannya adalah menemukan saham (komoditas, pasangan mata uang, dll.) yang bergerak sideways dalam rentang harga yang sempit, dan mengamatinya hingga akhirnya mereka breakout.
Dengan menggunakan kedua indikator ini secara bersamaan, kita dapat menganggap sinyal pertama saat harga menembus Bollinger Band sebagai sinyal peringatan, dan jika segera setelahnya (atau lebih baik lagi, tepat pada saat yang sama) Keltner Channel juga ditembus, itu adalah konfirmasi dari pergerakan tersebut. Menggabungkan kedua indikator ini dapat meningkatkan akurasi sinyal.
Bullish Squeeze Setup
Bullish squeeze setup muncul ketika harga breakout dan ditutup di atas upper Bollinger Band. Ini menunjukkan bahwa volatilitas sedang meningkat, dan mungkin akan terjadi pergerakan naik yang kuat disertai momentum tinggi.
Dalam proses ini, perhatikan juga kekuatan pergerakan itu sendiri dan volume beli yang terkait. Day trader akan membuka posisi long berdasarkan performa harga dan volume terkait, ketika harga ditutup di atas upper Bollinger Band.
Jika breakout-nya kecil, atau volume tidak meningkat secara signifikan bahkan lebih rendah dari periode sebelumnya, kamu bisa menunggu harga menembus upper Keltner Channel sebelum bertindak. Ini akan dengan mudah menghindari entry dari sinyal palsu.
Bearish Squeeze Setup
Jika harga ditutup di bawah lower Bollinger Band, secara logis akan terbentuk bearish squeeze setup. Ini mungkin memicu penurunan lebih lanjut. Sama seperti bullish squeeze setup, mengamati pergerakan harga dan volume juga sama pentingnya.
Kesimpulan
Bollinger Bands dan Keltner Channels keduanya adalah indikator price channel yang populer saat ini, yang mampu memberikan wawasan berharga tentang tren harga dan momentum. Bollinger Bands didasarkan pada SMA 20 hari, sedangkan Keltner Channels didasarkan pada EMA 20 hari (nilai standar).
Kedua indikator ini terdiri dari tiga garis: satu garis tengah dan channel atas serta bawah. Channel atas dan bawah Bollinger Bands dihitung melalui standar deviasi dari garis tengah, sedangkan channel atas dan bawah Keltner Channels didasarkan pada lebar aktual dari rentang harga.
Dibandingkan dengan Keltner Channels, Bollinger Bands lebih sensitif terhadap volatilitas pasar. Oleh karena itu, Bollinger Bands lebih cocok untuk trading jangka pendek, sedangkan Keltner Channels lebih cocok untuk trading dalam timeframe yang lebih panjang.
"Squeeze Setup" menggabungkan kedua indikator ini, di mana ketika volatilitas menurun, channel atas dan bawah mereka cenderung lebih berdekatan. Squeeze terjadi ketika upper dan lower Bollinger Band keduanya berada di dalam Keltner Channel, yang menunjukkan bahwa pasar berada dalam zona konsolidasi. Squeeze adalah sinyal potensi pergerakan besar, dan trader dapat memanfaatkannya dengan masuk long sedini mungkin saat harga menembus upper Bollinger Band.