Trading tren adalah cara trading dengan mengikuti arah saat harga naik atau turun dengan kuat. Setiap trader bisa punya definisi tren yang berbeda-beda.
Misalnya, trader yang menyukai instrumen volatilitas tinggi mungkin baru menganggap suatu instrumen berada dalam tren naik ketika harganya sudah naik 20% atau lebih.
Sedangkan trader dengan volatilitas rendah mungkin cukup melihat pergerakan harga kecil saja untuk menganggap tren sudah terbentuk.
Terlepas dari timeframe atau strateginya, tujuan trading tren adalah mengidentifikasi tren dan menemukan cara masuk ke tren tersebut dengan risiko paling minimal. Untuk itu, artikel ini akan membahas beberapa strategi trading tren dan mengungkap cara menemukan instrumen yang sedang dalam tren naik.
Pertama, mari kita bahas cara menemukan tren.
Indikator Trading Tren
Saat trading, semakin sedikit pandangan subjektif kamu terhadap pasar, semakin baik. Karena itu, kamu bisa menggunakan indikator teknikal untuk menilai tren pasar.
Garis Tren
Garis tren adalah cara yang baik untuk mendefinisikan tren pasar secara jelas. Meskipun ini masih agak subjektif karena kamu perlu mengidentifikasi titik awal dan akhir garis tren, dengan sedikit latihan kamu seharusnya bisa mengenali titik-titik kunci support dan resistance, lalu menentukan tren.
Untuk tren naik, kamu perlu menghubungkan swing low dan swing high, membentuk channel naik. Bagaimanapun, tren naik hanya bisa dikonfirmasi jika kamu memiliki rangkaian higher low (HL) dan higher high (HH).
Ketika pasar berada dalam jalur naik, harga tidak boleh menembus swing low sebelumnya.
Begitu juga untuk tren turun, kamu cukup membalik swing low dan swing high-nya.
Channel Tren
Lebih lanjut, kamu bisa menggunakan alat gambar channel tren. Channel ini akan membuat garis paralel yang bersih. Namun, channel ini tidak memungkinkan kamu membuat pola wedge atau pola diamond.
Biasanya, channel tren paling efektif pada saham berkapitalisasi besar: perusahaan dengan market cap besar dan likuiditas lebih tinggi.
Kemiringan Garis
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kamu perlu mengidentifikasi kemiringan minimum garis yang akan memicu terbentuknya tren.
Tren kuat biasanya memiliki kemiringan di atas 50 derajat, sehingga membentuk momentum naik yang kuat.
Ini sepenuhnya subjektif. Meskipun begitu, jika kamu melakukan trading tren, pergerakannya harus cukup kuat agar layak kamu perhatikan.
Moving Average
Moving average adalah indikator lain yang bisa kamu gunakan untuk mengukur kekuatan tren.
Pada timeframe besar, kamu bisa memakai pendekatan sederhana dengan melihat apakah harga berada di atas atau di bawah moving average 200-hari. Namun, cara lain adalah mencari tren kuat, di mana moving average tidak saling bersilangan selama kenaikan. Jarak antar moving average menunjukkan bahwa saham sedang naik kuat di semua periode (jangka pendek dan jangka panjang).
Untuk lebih menjelaskannya, kita bisa menyaring saham yang pada grafik harian memiliki moving average 20-hari, 50-hari, dan 200-hari yang bertumpuk. Dengan kata lain, moving average 20-hari berada di atas moving average 50-hari, dan moving average 50-hari berada di atas moving average 200-hari.
Ini menunjukkan bahwa moving average jangka pendek berada di atas moving average jangka panjang, menandakan tren naik. Tentu saja, kebalikannya adalah tren turun.
Indikator Momentum Oscillator
Indikator lain yang bisa kamu gunakan untuk menganalisis pasar adalah momentum oscillator. Indikator ini tidak memiliki batas atas atau bawah, sehingga oscillator dapat bergerak mengikuti pergerakan harga saham.
Indikator TRIX (Triple Exponential Average) adalah momentum oscillator yang bergerak di atas dan di bawah garis nol.
Perlu dicatat bahwa TRIX tidak bereaksi dengan cepat karena melakukan smoothing terhadap tiga exponential moving average, sehingga indikator ini bagus untuk mengukur tren.
Perhatikan bagaimana saat harga saham turun, TRIX selalu bertahan di bawah garis nol. Perlu diingat, ini tidak berarti TRIX tidak pernah sedikit menembus garis nol.
Ingatlah bahwa di pasar, price action jarang sekali sepenuhnya sesuai dengan kerangka yang ditentukan buku-buku analisis teknikal.
Alasan Trading Tren Gagal
Trading tren sama seperti strategi lain di pasar. Tidak akan pernah ada tingkat keberhasilan 100%. Biasanya, tren naik gagal ketika harga mencapai puncak, menembus channel-nya, atau ketika supply terlalu berat.
Sebaliknya, tren turun akan berakhir ketika harga anjlok, atau ketika muncul support dari demand.
Kuncinya adalah mempelajari tren dan menemukan konsistensi antara volume dan price action.
Tidak Disiplin dengan Stop Loss
Ketika kamu trading saham yang sedang tren, rasanya sangat menyenangkan. Kamu tidak perlu melakukan banyak hal, dan uang terus mengalir ke akunmu. Namun, jika kamu membeli saham tren pada saat reversal, kamu bisa terjebak.
Pasalnya, masuk terlambat bisa menyebabkan reversal yang mengerikan, dan harga saham akhirnya kembali ke titik awal.
Karena itu, kamu wajib menggunakan stop loss,否则 kondisi tren akan berubah menjadi mimpi terburukmu.
Jika kamu mendapati diri membeli di puncak tren kuat, jangan menambah posisi, karena itu melanggar aturan swing low yang terus naik. Tindakan ini disebut averaging down (menambah posisi saat harga turun) dan bisa berakibat fatal.
Strategi untuk Mengikuti Tren
Sekarang kamu sudah tahu apa yang harus dihindari, mari kita lihat beberapa strategi yang bisa membantumu mengikuti tren dengan lancar.
1. Pullback ke Moving Average
Dalam tren kuat, harga sering kali pullback ke moving average penting, seperti moving average 20-hari atau 50-hari. Pullback ini, jika harga lanjut naik, biasanya memberikan peluang bagus untuk mengikuti tren sambil menjaga risiko tetap rendah.
Karena institusi suka membeli di harga lebih rendah, harga sering menemukan support di level-level ini.
2. Trading Tren Mean Reversion
Jika kamu tidak suka menggunakan moving average, terkadang channel lebih efektif.
Perhatikan bahwa titik beli sesuai dengan bagian bawah channel, dan titik jual sesuai dengan breakout di bagian atas channel.
Ini bisa menjadi cara yang sangat sederhana dan efektif untuk mengelola posisi jangka pendek. Pada dasarnya, kamu membeli pullback di support dan menjual di titik tinggi.
Kunci trading tren ada pada entry point, stop loss, dan metode trading yang kamu pilih. Baik menggunakan moving average, channel, atau oscillator, kamu perlu menguasai setiap metode untuk mengembangkan keunggulanmu sendiri.