Trader biasanya menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk mencari timing entry terbaik. Namun setelah masuk pasar, sebagian besar investor justru tersesat, mereka tidak tahu bagaimana mengelola tradingnya. Hal ini menyebabkan kurangnya kepercayaan diri, keputusan impulsif, dan kesalahan yang nantinya akan disesali. Mengetahui cara menetapkan target trading sangatlah penting, tetapi sering kali diabaikan.
Trader yang memiliki strategi target yang presisi dapat menghindari gangguan dari spekulasi, sehingga bisa trading dengan lebih percaya diri. Dalam artikel ini, saya akan menjelaskan tujuh strategi teknis terbaik tentang cara menetapkan target dengan benar.
01
Fixed Return: Risk Ratio
Strategi penetapan target paling sederhana adalah dengan mematok risk-reward ratio kamu, prosesnya sebagai berikut:
1) Ukur jarak antara entry dan stop loss. Pada contoh di bawah ini, jaraknya adalah 7.25 poin.
2) Berdasarkan jarak target dan rasio return/risk yang diharapkan, kalikan jarak stop loss dengan 1, 2, atau 3 kali.
Kamu akan melihat bahwa ini adalah teknik yang sangat sederhana untuk menerapkan strategi target yang konsisten.
Return yang lebih tinggi: Yang perlu diperhatikan dari strategi ini adalah risk-reward ratio. Semakin besar risk ratio, semakin rendah win rate. Terutama bagi trader pemula, sebaiknya pilih target yang lebih kecil dengan risk-reward ratio yang lebih rendah, karena ini bisa sangat meningkatkan win rate sehingga membangun kepercayaan diri lebih cepat.
02
Level Support dan Resistance Terdekat
Strategi target yang sangat populer adalah memanfaatkan level support dan resistance terdekat. Support dan resistance adalah penghalang utama harga, memilihnya sebagai target sangat masuk akal, dengan begitu kamu tidak perlu menembus support atau resistance besar, karena itu akan meningkatkan kemungkinan harga tidak mencapai target.
Biasanya, trader melihat ke kiri untuk menemukan level support atau resistance penting terbaru, lalu menempatkan target beberapa poin di atasnya. Pada contoh di bawah ini, trader ingin menetapkan target beberapa poin di atas level support dalam posisi short, karena ini akan mengurangi sebagian risiko harga berbalik ke level tersebut.
03
Proyeksi Pola
Strategi ini menggunakan tinggi pola untuk menentukan seberapa jauh harga mungkin bergerak setelah breakout yang berhasil. Pada contoh di bawah ini, kita bisa mengidentifikasi pola grafik head and shoulders terbalik. Pertama-tama kita ukur tinggi dari titik terendah ke titik tertinggi pola. Kemudian, kita proyeksikan jarak tersebut ke atas.
Jika memilih strategi target ini, kamu harus mengukur jarak dari titik terendah absolut ke titik tertinggi absolut pola untuk mendapatkan jarak yang benar, ini sangat penting. Beberapa trader juga mengalikan tinggi pola dengan 0.75, 1.25, 1.5, bahkan 2. Sama halnya, semakin jauh target, semakin kecil kemungkinan harga menyentuh target tersebut.
04
Moving Average Timeframe Lebih Tinggi
Karena sifat mean reversion pasar forex, teknik ini sangat efektif dalam trading forex.
05
Fibonacci Extension
Setelah mengidentifikasi situasi breakout dan retracement A-B-C, kamu bisa menggambar garis Fibonacci dari dasar ke puncak aksi breakout. Setelah menemukan garis level retracement C, trader dapat memilih salah satu level Fibonacci extension sebagai target.
Biasanya, level Fibonacci extension 1.38 dan 1.61 adalah level terdekat dan yang paling sering digunakan sebagai target. Harga jarang mencapai level 2.00 dan 2.61, untuk mencapai level Fibonacci extension ekstrem tersebut diperlukan tren yang kuat.
06
Trading Berbasis Waktu
Target berbasis waktu dapat dikombinasikan dengan strategi target lainnya. Misalnya, day trader biasanya menggunakan strategi target akhir hari (trading), dan keluar dari semua posisi terbuka sebelum hari trading berakhir untuk menghindari risiko overnight.
Swing trader biasanya memanfaatkan strategi target harga akhir pekan untuk keluar dari semua trading pada Jumat malam, guna menghindari risiko memegang posisi selama akhir pekan dan risiko gap.
07
Trailing Stop
Mirip dengan strategi berbasis waktu, teknik trailing stop juga dapat dikombinasikan dengan strategi target lainnya. Namun umumnya, trader yang menggunakan metode trailing stop ingin membiarkan trading profit berjalan selama mungkin dan memiliki strategi target terbuka, artinya mereka sama sekali tidak menggunakan level target, hanya mengikuti harga dengan trailing stop untuk memaksimalkan profit di trending market.
Biasanya, trader memilih moving average sebagai alat trailing stop. Pada contoh di bawah ini, kita menggunakan moving average periode 50, trader akan mengikuti stop loss pada moving average tersebut. Dan jangan pernah membuang waktu di moving average, agar tidak tersapu keluar pasar saat retracement rutin.
Namun, ada beberapa pro dan kontra yang perlu dipertimbangkan:
Dengan trailing stop, kamu tidak akan pernah bisa menangkap nilai maksimum absolut dari tren, karena stop loss biasanya mengikuti titik terendah trending market;
Trailing stop hanya akan memaksimalkan profit selama tren yang berkelanjutan. Biasanya, trader akan mengembalikan sebagian profit;
Waktu holding bisa meningkat drastis, dan ini tidak bisa ditangani banyak trader. Karena mempertahankan trading yang menang dalam waktu lama sangatlah sulit.
Oleh karena itu, strategi ini disarankan hanya untuk trader berpengalaman dengan mental trading yang solid.
Trader dapat mencoba strategi-strategi ini melalui paper trading, lalu mengambil keputusan setelah merasakannya. Seiring bertambahnya pengalaman trading, selama bisa menjalankan trading sesuai trading plan secara ketat, penguasaan kamu terhadap titik target juga akan semakin presisi.