Sebelum kita masuk ke topik utama hari ini, mari kita lihat dulu dua kisah nyata dari trader prop trading top — keduanya memulai dari program prop trading dan berhasil meraih profit yang signifikan berkat kemampuan mereka. Dua cerita ini bukan hanya membuktikan bahwa "cuan dari trading" itu benar-benar bisa dilakukan, tapi juga bikin kamu merasakan transformasi mental dan pertumbuhan mereka di baliknya.
Kasus #1: Leo, Trader Portugal yang Bangkit dari Keterpurukan
Leo berasal dari Portugal, dan sekarang menjadi salah satu trader bintang di sebuah perusahaan prop trading ternama global, dengan total pembagian profit hampir $200.000 (sekitar Rp3,2 miliar). Tapi sedikit yang tahu, awal perjalanan tradingnya bisa dibilang "hancur lebur".
Pada 2019, seperti banyak anak muda yang baru masuk industri ini, ia bergabung dengan sebuah "grup trading" di media sosial dengan penuh mimpi dan kepercayaan diri. Ternyata, itu bukanlah lingkaran trader jago, melainkan sekelompok penipu dan "influencer" yang hidup dari menipu dan mengeruk keuntungan dari pemula. Leo tidak patah semangat, justru semakin ingin membuktikan dirinya. Ia langsung melewati akun demo dan terjun ke pasar dengan uang sungguhan.
Awalnya ia sempat untung sedikit, dan karena pencapaian kecil itu semakin menguatkan tekadnya untuk "kaya dari trading", bahkan ia memilih tidak kuliah dan fokus penuh mempelajari investasi. Tapi kenyataan cepat menghantamnya. Beberapa tahun kemudian, akunnya sempat hampir nol. Baru pada Maret 2023, ia mendapatkan pembagian profit resmi pertamanya. Selain itu, ia akhirnya sadar bahwa kunci sukses trading bukanlah "strategi ajaib", melainkan mental.
"Strategi yang saya pakai sebenarnya tidak berubah sejak 2021, yang benar-benar mengubah hasil adalah saya akhirnya belajar mengendalikan diri." Sejak saat itu, ia hampir tidak pernah lagi trading impulsif, dan tidak lagi meragukan sistemnya setelah rugi, melainkan menganggap trading sebagai latihan disiplin dan psikologi. Kini, ia profit konsisten dengan mental yang stabil, membuktikan lewat tindakan: orang yang bangkit dari dasar biasanya tumbuh paling cepat.
Kasus #2: Paul yang Cuan 350 Kali Lipat dari Forex
Paul dari Italia adalah seorang trader forex full-time. Namanya muncul di papan peringkat sebuah platform prop trading ternama, karena ia berhasil melakukan sesuatu yang hampir semua orang impikan — dengan biaya pendaftaran sekitar €1.080 (sekitar Rp18,5 juta), ia menghasilkan profit bersih lebih dari $400.000 (sekitar Rp6,4 miliar).
Akun awal Paul berukuran $200.000 (sekitar Rp3,2 miliar), dan setelah trading yang stabil ia naik ke $300.000 (sekitar Rp4,8 miliar). Instrumen utama tradingnya adalah EURJPY dan indeks S&P500, keduanya sangat volatil dan cepat, sangat menguji kemampuan analisis dan eksekusi trader. Tapi justru keahlian terbesar Paul adalah menemukan keseimbangan di tengah ritme tersebut.
Dalam sebuah wawancara, ia tertawa dan berkata: "Saya tidak mengejar menang setiap hari, saya mengejar agar kerugian tidak menghancurkan trade berikutnya." Mentalitas inilah yang membuatnya menangkap breakout kunci dalam sebuah pergerakan besar, dan profit akunnya melonjak hingga lebih dari $500.000 (sekitar Rp8 miliar). Akhirnya, ia mendapatkan pembagian profit 80%, yaitu sekitar $400.000 (sekitar Rp6,4 miliar). Kalau dihitung, return on investment pribadinya mencapai 350 kali lipat — ya, hampir contoh sempurna dari "modal kecil hasil besar".
Kisah Paul mengajarkan kita: prop trading bukan soal mengadu keberuntungan, melainkan pertarungan jangka panjang yang rasional. Mereka yang benar-benar bisa cuan dari pasar biasanya bukan yang berbakat luar biasa, melainkan yang cukup disiplin dan cukup teguh.
Dari kedua kasus di atas, terlihat bahwa meskipun pengalaman kedua trader prop trading ini berbeda, karakteristik umum mereka sangat mencolok — keduanya membuktikan lewat tindakan bahwa dengan metode yang benar dan mental yang stabil, prop trading bisa menjadi karier yang benar-benar memberikan kebebasan dan penghasilan.
Kembali ke topik hari ini: "prop trading".
Prop trading adalah cara trading yang sangat populer di luar negeri dalam beberapa tahun terakhir. Seiring model ini semakin matang, popularitasnya di Indonesia juga mulai meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan berbagai investor, cara main prop trading pun semakin beragam. Di saat yang sama, banyak komunitas prop trading yang sering muncul berita negatif, sehingga memilih prop trading menjadi semakin sulit.
Dalam artikel hari ini, saya akan membahas dari beberapa sudut pandang tentang cara memilih prop trading:
1. Apa itu prop trading?
2. Apa saja kategori komunitas prop trading?
3. Apa kelebihan dan kekurangannya?
4. Hal apa saja yang perlu diperhatikan saat memilih komunitas prop trading?
Apa itu prop trading?
Kita bisa sederhanakan prop trading sebagai: institusi yang menyediakan modal, kamu yang trading. Kalau untung, institusi bagi profit denganmu; kalau rugi, institusi tidak akan menuntut bagian kerugianmu.
Banyak orang mungkin bereaksi pertama kali: masa ada yang begini enak? Ya, tapi juga tidak.
Karena sebelum kamu mendapatkan modal trading tersebut, institusi perlu mengevaluasimu (mengikuti evaluasi ini biasanya perlu membeli kualifikasi peserta sendiri). Tingkat kesulitan setiap institusi sedikit berbeda, tapi secara umum ada 3 syarat utama: return mencapai 7-10%, max drawdown tidak melebihi 20%, dan fluktuasi equity tidak di bawah 90%.
Setelah memenuhi syarat-syarat di atas, kita bisa menjadi trader prop dan mendapatkan modal dari institusi.
Tapi perlu diperhatikan, kualifikasi ini tidak permanen. Jika dalam beberapa bulan ke depan kita melanggar beberapa batasan, misalnya drawdown melebihi 20%, atau suatu hari equity turun di bawah 90%, maka kita akan kehilangan status sebagai trader prop.
Karena modal institusi biasanya besar, minimal $5.000 (sekitar Rp80 juta), maksimal bisa mencapai $1.000.000 (sekitar Rp16 miliar). Tentu saja, kebanyakan trader biasanya menargetkan $200.000 (sekitar Rp3,2 miliar). Tapi meski begitu, dengan profit 10% saja, itu sudah $20.000 (sekitar Rp320 juta), dengan pembagian profit 70%, berarti $14.000 (sekitar Rp224 juta).
Cara mendapatkan return besar dengan biaya sangat kecil, sekaligus risiko yang sangat terkendali, membuat prop trading semakin populer. Berbagai komunitas prop trading pun berkembang pesat di dalam dan luar negeri.
Apa saja kategori komunitas prop trading?
Seperti yang disebutkan sebelumnya, mengikuti evaluasi prop trading memerlukan modal tertentu. Berdasarkan apakah yang digunakan akun real atau akun demo saat evaluasi, kita bisa membagi komunitas prop trading menjadi dua kategori.
Kategori pertama menggunakan akun demo, dan ini yang paling umum saat ini. Di komunitas seperti ini, peserta membeli akun demo untuk mengikuti evaluasi, misalnya $100 (sekitar Rp1,6 juta) untuk membeli akun demo $10.000 (sekitar Rp160 juta).
Perlu diperhatikan, jumlah akun demo yang kita gunakan saat challenge adalah jumlah modal trading yang akan kita dapatkan setelah lulus evaluasi. Contoh:
Kita membeli akun demo $10.000 (sekitar Rp160 juta), setelah lulus evaluasi kita mendapatkan modal trading $10.000. Sebaliknya, jika kita ingin mendapatkan modal $100.000 (sekitar Rp1,6 miliar), kita perlu membeli akun demo $100.000, tapi biaya pembelian akun demo ini juga jauh lebih tinggi, mungkin $1.000 (sekitar Rp16 juta).
Kategori kedua menggunakan akun real. Ini biasanya komunitas prop trading di bawah broker ternama, seperti Axi Select yang didukung broker Australia berpengalaman, Axi.
Kategori ini mengharuskan kita membuka akun real, lalu menggunakan akun kita sendiri untuk evaluasi. Setelah lulus evaluasi, institusi akan menggunakan 10x atau 20x dana akun kita untuk copy trading, dan bagi profit setelah untung.
Contoh, misalkan kita menggunakan $500 (sekitar Rp8 juta) untuk evaluasi, setelah lulus evaluasi. Institusi menggunakan 20x dana, yaitu $10.000 (sekitar Rp160 juta) untuk copy trading.
Misalkan kita sendiri mendapat profit 10%, yaitu $50 (sekitar Rp800 ribu). Maka dana copy trading institusi mendapat profit $1.000 (sekitar Rp16 juta), lalu 70% di antaranya dibagikan ke trader, yaitu $700 (sekitar Rp11,2 juta). Tapi jika kerugian kita melebihi 10%, maka total kerugian kita tetap $50, kerugian bagian copy trading institusi bukan tanggung jawab kita.
Bagaimana memilih? Akun demo? Atau akun real?
Jika kamu bertanya mana yang lebih baik, maka jawaban saya adalah: tidak ada yang terbaik, hanya yang lebih cocok. Karena setiap jenis akun punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, selanjutnya kita bandingkan kelebihan dan kekurangan akun yang berbeda.
Pertama akun real, dibandingkan akun demo, menurut saya keunggulan terbesarnya adalah sistem naik level dan turun level bertahap, yaitu seperti yang saya sebutkan di artikel sebelumnya tidak akan "langsung nol".
Contohnya Axi Select, yang membagi trader menjadi 6 level. Ketika kita masuk dari seed round ke incubation round, kita sudah bisa menikmati copy trading dana institusi. Setiap naik satu level, skala dana copy trading dan pembagian profit juga meningkat. Sebaliknya, jika di tengah jalan terjadi kesalahan, saat turun level juga menurun bertahap, bukan langsung mencabut kualifikasi pembagian profit.
Yang perlu diperhatikan, Axi Select juga menetapkan cooling period. Jika kita melanggar syarat, misalnya drawdown melebihi 20%, tidak akan langsung mencabut kualifikasi pembagian profit sekaligus. Melainkan masuk ke cooling period, dan jika selama cooling period tidak melanggar syarat yang ditetapkan lagi, maka setelah cooling period berakhir, kita bisa trading normal dan menikmati pembagian profit.
Bahkan setelah cooling period berakhir, kualifikasi pembagian profit juga tidak langsung dicabut. Melainkan turun level ke tahap sebelumnya, misalnya acceleration round turun ke incubation round, dan saat itu masih menikmati kualifikasi pembagian profit.
Sebaliknya, komunitas yang menggunakan akun demo biasanya memiliki prinsip "langsung nol": setelah kita mendapatkan kualifikasi pembagian profit, jika melanggar batasan, kita akan kehilangan kualifikasi pembagian profit. Perlu membeli akun demo lagi untuk mengikuti evaluasi.
Tentu saja, akun demo juga punya keunggulannya. Yaitu ruang gerak yang lebih besar dalam manajemen risiko.
Misalkan di akun real, kita menggunakan $500 (sekitar Rp8 juta) untuk trading, ruang drawdown 10% adalah $50 (sekitar Rp800 ribu). Jika kita trading produk yang sangat volatil, maka ruang manajemen risiko $50 relatif terbatas, dan tuntutan teknisnya sedikit lebih tinggi.
Oleh karena itu, kami menyarankan saat menggunakan akun real untuk trading, usahakan mulai dari akun $2.000 (sekitar Rp32 juta), agar ruang gerak dalam manajemen risiko lebih besar.
Untuk akun demo, masalah ini tidak perlu dikhawatirkan. Contohnya prop trading di bawah Emperor Financial, $49 (sekitar Rp784 ribu) bisa membeli akun demo $5.000 (sekitar Rp80 juta), ruang kontrol drawdown 10% adalah $500 (sekitar Rp8 juta), sehingga ruang operasional dalam kontrol risiko lebih besar.
Kesimpulannya, akun real dan akun demo masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang mutlak lebih baik, hanya tergantung mana yang lebih cocok untuk kita.
Bagi trader yang sudah memiliki modal cukup besar, akun real adalah pilihan yang baik. Ini lebih seperti easter egg yang tanpa sengaja terbuka: saat kita trading normal, selain mendorong kita untuk disiplin trading, setelah memenuhi syarat kita juga bisa mendapatkan pembagian profit dari bagian copy trading institusi.
Sedangkan bagi investor yang tekniknya sudah cukup matang tapi kekurangan modal, akun demo adalah pilihan yang baik, kita bisa cepat mendapatkan dukungan modal yang lebih besar, dan lebih cepat menuju jalan hidup dari trading.
"Jebakan" yang harus dihindari saat memilih platform
Selain akun real/akun demo, masih banyak hal yang perlu diperhatikan saat memilih komunitas prop trading. Seiring semakin banyaknya komunitas prop trading yang bermunculan, kualitasnya pun menjadi tidak merata. Setelah berkomunikasi dengan banyak pemain prop trading, saya merangkum ada 3 "jebakan":
Jebakan pertama: risiko platform bangkrut. Ini sudah saya bahas di artikel sebelumnya, komunitas prop trading bukan lembaga amal, mereka juga perlu profit. Sumber profit mereka terutama dari biaya evaluasi penjualan akun demo, dan pembagian profit dari trader.
Ada investor yang mengungkapkan bahwa komunitas tempat ia mengikuti evaluasi "sudah kabur", sehingga biaya evaluasinya terbuang sia-sia.
Berdasarkan statistik tidak lengkap kami, selain Myforexfunds yang disebutkan investor di atas, komunitas prop trading luar negeri yang sudah bangkrut dalam beberapa tahun terakhir antara lain True Forex Funds, Funds For Traders, Karma Capital, dan beberapa lainnya. Jadi saat memilih komunitas prop trading, usahakan pilih yang skalanya besar, sudah beroperasi lama, atau memiliki dukungan backend yang kuat.
Jebakan kedua: perhatikan aturannya. Setiap komunitas prop trading memiliki persyaratan tentang valid atau tidaknya sebuah order, ini harus dipahami betul sebelumnya! Berdasarkan komunikasi kami dengan berbagai pemain prop trading, area rawan utamanya adalah: waktu holding dan EA.
Pertama soal waktu holding, banyak order yang waktu holdingnya kurang dari 1 menit atau 3 menit mungkin tidak diakui platform. Yang kedua adalah EA, banyak perselisihan antara trader dan komunitas prop trading disebabkan karena penggunaan EA. Soal EA ini sebenarnya juga mudah dipahami, saat ini banyak EA di pasaran terutama berbasis martingale, EA ini untung di pasar ranging, tapi di pasar trending mudah ter-liquidasi, inilah alasan banyak komunitas prop trading tidak mendukung EA.
Selain dua hal di atas, sebelum mengikuti prop trading, pastikan bertanya jelas ke platform, order mana yang tidak diakui, aturan mana yang bisa menyebabkan kualifikasi dicabut setelah lulus evaluasi. Ini sangat penting untuk menghindari perselisihan di kemudian hari!
Jebakan ketiga: lihat reputasi komunitas prop trading. Karena prop trading sudah beroperasi cukup lama di dalam dan luar negeri, setiap platform sudah memiliki reputasinya sendiri. Saat berkomunikasi dengan banyak pemain prop trading, kami juga menemukan beberapa "platform hitam": setelah trader mencapai target yang ditetapkan evaluasi, platform tetap tidak meluluskan evaluasi dengan berbagai alasan.