Di dunia analisis teknikal, nama John Murphy adalah nama yang sulit dihindari. Mungkin kamu belum pernah membaca bukunya secara lengkap, tapi kemungkinan besar kamu pernah mendengar pandangannya di berbagai kursus, artikel, bahkan obrolan sesama trader. Sebab banyak logika dasar analisis teknikal sebenarnya bisa dilacak kembali ke sistem yang ia bangun.
Kami juga sudah lama ingin merangkum kontennya dan memasukkannya ke dalam materi edukasi "Kata Trader". Alasannya sederhana: banyak orang belajar analisis teknikal dengan sangat melelahkan, bukan karena kamu kurang berusaha, tapi karena yang kamu pelajari terlalu terpecah-pecah, kurang satu kerangka kerja yang benar-benar bisa diterapkan. Nilai Murphy justru ada di situ — ia menjelaskan hal-hal rumit dengan sangat jelas, dan jelas dalam artian "bisa langsung dipakai".
Pernahkah kamu sadar, analis teknikal setiap hari menatap grafik sampai mata perih, tapi ujung-ujungnya hanya menyelesaikan tiga pertanyaan: Pasar sekarang bergerak ke arah mana? Masih bisa sejauh apa? Kapan mungkin akan berbalik?
Kedengarannya seperti omong kosong, tapi yang benar-benar sulit adalah kamu harus membuat penilaian yang relatif masuk akal saat pasar bergerak paling cepat dan emosi paling mudah terbawa.
Banyak orang mengira analisis teknikal itu menggambar garis, memasang indikator, menghafal pola. Sebenarnya bukan. Grafik, kurva, berbagai rumus hanyalah alat; yang benar-benar menopangnya di balik layar adalah sejumlah prinsip yang sangat dasar namun krusial. John Murphy sebagai tokoh representatif di bidang analisis teknikal pasar trading, dengan pengalaman praktik hampir 40 tahun, memadatkan prinsip-prinsip ini menjadi sepuluh aturan — yang sering disebut "Sepuluh Hukum Teknik Trading".
Sepuluh hukum ini sangat cocok untuk dua tipe orang. Pertama, trader yang baru memulai, ini bisa membantumu cepat membangun cara berpikir trading yang benar, agar tidak semakin belajar semakin kacau; kedua, orang yang sudah trading cukup lama, ini bisa membantumu "mengurangi" metode trading, mengupas hal-hal yang hanya bagus di permukaan, dan menyisakan bagian inti yang benar-benar bisa meningkatkan win rate.
Belajarlah memahami pasar dengan mata, bukan menebak pasar dengan emosi. Selanjutnya, kita akan membedah satu per satu sepuluh hukum teknik trading yang menurut John Murphy paling penting, sesuai maksud aslinya.
Hukum #1. Gambarlah peta tren
Pelajari grafik jangka panjang. Saat melakukan analisis grafik, mulailah dari grafik bulanan dan mingguan yang mencakup beberapa tahun. "Peta" pasar dengan skala lebih besar memberikan visibilitas lebih tinggi, dan juga memungkinkanmu membangun perspektif jangka panjang yang lebih baik terhadap pasar. Setelah menentukan tren jangka panjang, barulah lihat grafik harian dan intraday. Melihat pergerakan jangka pendek saja sering kali menyesatkan. Bahkan jika kamu hanya melakukan trading super jangka pendek, jika kamu bisa trading searah dengan tren jangka menengah dan jangka panjang, hasilnya biasanya akan lebih baik.
Hukum #2. Identifikasi tren dan ikuti arusnya
Tentukan tren, dan ikuti tren. Tren pasar memiliki berbagai tingkatan — jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek. Pertama, tentukan tren mana yang ingin kamu tradingkan, dan gunakan grafik yang sesuai. Pastikan arah tradingmu konsisten dengan tren tersebut. Jika tren naik, beli saat pullback; jika tren turun, jual saat rebound. Jika kamu trading tren jangka menengah, gunakan grafik harian dan mingguan; jika kamu day trading, gunakan grafik harian dan intraday. Tapi dalam kondisi apa pun, biarkan grafik dengan periode lebih panjang menentukan arah tren, lalu gunakan grafik dengan periode lebih pendek untuk menangkap timing entry dan exit.
Hukum #3. Temukan titik rendah dan titik tingginya
Cari level support dan resistance. Posisi terbaik untuk beli biasanya di sekitar support, dan support biasanya adalah titik rendah pullback sebelumnya. Posisi terbaik untuk jual biasanya di sekitar resistance, dan resistance biasanya adalah puncak swing high sebelumnya. Ketika sebuah resistance high ditembus, biasanya ia akan memberikan support pada pullback berikutnya. Dengan kata lain, "high" lama akan menjadi low baru. Sebaliknya, ketika sebuah support ditembus ke bawah, biasanya ia akan membentuk tekanan jual pada rebound berikutnya — "low" lama akan menjadi "high" baru.
Hukum #4. Pahami seberapa besar retracement
Ukur persentase retracement. Koreksi pasar ke atas atau ke bawah biasanya akan meretraksi sebagian besar tren sebelumnya. Kamu bisa menggunakan persentase sederhana untuk mengukur besarnya pullback dalam tren. Yang paling umum adalah retracement 50%. Retracement minimum biasanya sepertiga dari tren sebelumnya; retracement maksimum biasanya dua pertiga dari tren sebelumnya. Retracement Fibonacci 38% dan 62% juga patut diperhatikan. Karena itu, pada pullback dalam tren naik, area beli awal biasanya berada di zona retracement 33%—38%.
Hukum #5. Gambarlah garis itu
Gambar trendline. Trendline adalah salah satu alat grafik yang paling sederhana sekaligus paling efektif. Kamu hanya perlu penggaris dan dua titik di grafik. Trendline naik menghubungkan dua low berurutan; trendline turun menghubungkan dua high berurutan. Harga sering kali retrace ke sekitar trendline, lalu melanjutkan tren aslinya. Penembusan trendline biasanya menandakan tren mungkin berubah. Sebuah trendline yang valid setidaknya harus disentuh tiga kali. Semakin lama trendline bertahan dan semakin sering diuji, semakin tinggi tingkat kepentingannya.
Hukum #6. Ikuti moving average
Ikuti moving average. Moving average mampu memberikan sinyal beli dan jual yang objektif. Mereka bisa memberitahumu apakah tren saat ini masih berjalan, dan juga membantu mengonfirmasi perubahan tren. Namun, moving average tidak bisa memberitahumu lebih awal bahwa tren akan segera berbalik. Menggunakan sistem crossover yang terdiri dari dua moving average adalah salah satu metode paling umum untuk mencari sinyal trading. Beberapa kombinasi moving average futures yang umum meliputi MA 4 hari dan 9 hari, MA 9 hari dan 18 hari, MA 5 hari dan 20 hari. Ketika MA jangka pendek memotong ke atas MA jangka panjang, muncul sinyal beli; ketika MA jangka pendek memotong ke bawah MA jangka panjang, muncul sinyal jual. Harga yang memotong ke atas atau ke bawah MA 40 hari juga bisa memberikan sinyal trading yang cukup baik. Karena moving average termasuk indikator trend-following, mereka paling optimal bekerja dalam kondisi trending market.
Hukum #7. Belajar menangkap titik balik
Pantau oscillator. Oscillator membantu mengidentifikasi kondisi overbought dan oversold pasar. Moving average bisa mengonfirmasi perubahan tren, sedangkan oscillator sering kali bisa memberi peringatan lebih awal bahwa kenaikan atau penurunan pasar mungkin sudah berlebihan dan akan segera berbalik. Dua oscillator yang paling umum digunakan adalah Relative Strength Index (RSI) dan Stochastics. Nilai keduanya berkisar antara 0 hingga 100. RSI di atas 70 menunjukkan overbought, di bawah 30 menunjukkan oversold; ambang overbought dan oversold Stochastics masing-masing adalah 80 dan 20. Sebagian besar trader menggunakan periode Stochastics 14 hari atau 14 minggu, sedangkan RSI umumnya menggunakan 9 hari atau 14 hari (atau 9 minggu/14 minggu). Divergence pada oscillator sering kali bisa memberi peringatan dini tentang titik balik pasar. Alat-alat ini paling efektif dalam kondisi range bound. Sinyal mingguan bisa menjadi filter untuk sinyal harian, dan sinyal harian juga bisa menjadi filter untuk sinyal grafik intraday.
Hukum #8. Identifikasi sinyal peringatan
Trading dengan indikator MACD. Moving Average Convergence/Divergence (MACD, dikembangkan oleh Gerald Appel) menggabungkan sistem crossover moving average dengan karakteristik overbought/oversold dari oscillator. Ketika garis cepat memotong ke atas garis lambat, dan kedua garis berada di bawah garis nol, terbentuk sinyal beli; ketika garis cepat memotong ke bawah garis lambat, dan terjadi di atas garis nol, terbentuk sinyal jual. Sinyal mingguan memiliki prioritas lebih tinggi daripada sinyal harian. Histogram MACD menggambarkan selisih antara kedua garis, dan bisa memberikan peringatan perubahan tren lebih awal. Disebut "histogram" karena ia menggunakan batang vertikal untuk menunjukkan besarnya selisih antara kedua garis.
Hukum #9. Apakah ada tren
Gunakan indikator ADX. Average Directional Index (ADX) bisa membantu menentukan apakah pasar sedang dalam fase trending atau fase konsolidasi. Ia mengukur sejauh mana kekuatan tren pasar (directionalitas). ADX yang naik menunjukkan pasar sedang dalam tren yang kuat; ADX yang turun menunjukkan pasar masuk ke rentang trading yang range bound, tren tidak jelas. Saat ADX naik, sistem moving average lebih cocok digunakan; saat ADX turun, oscillator lebih cocok digunakan. Dengan mengamati arah garis ADX, trader bisa menilai lingkungan pasar saat ini lebih cocok untuk gaya trading yang mana, dan kombinasi indikator seperti apa yang paling efektif.
Hukum #10. Identifikasi sinyal konfirmasi
Jangan abaikan volume. Volume adalah indikator konfirmasi yang sangat penting. Volume mendahului harga. Kamu perlu memastikan bahwa volume yang lebih besar muncul searah dengan tren utama saat ini. Dalam tren naik, hari-hari kenaikan harus disertai volume yang lebih besar. Volume yang meningkat mengonfirmasi ada dana baru yang mendukung tren saat ini; volume yang menurun sering kali menjadi peringatan bahwa tren mendekati akhir. Tren kenaikan harga yang sehat biasanya harus disertai dengan peningkatan volume.