Dua fitur yang paling sering disebutkan dalam trading forex adalah leverage dan margin. Memang, trading dengan leverage sejak kemunculannya terus mengubah dunia trading, dan hingga kini masih demikian. Banyak orang biasa yang tidak memiliki kerabat kaya yang mewariskan harta melimpah, tidak cukup jenius untuk bersinar di perusahaan besar, dan juga tidak lahir dengan sendok emas di mulut. Namun, mereka bisa memanfaatkan perputaran dana triliunan di pasar forex untuk menciptakan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Inilah sisi paling memikat dari trading forex. Akan tetapi, trading dengan leverage memiliki risiko yang sangat tinggi. Banyak trader forex mulai trading tanpa benar-benar memahami trading dengan leverage, dan ini tentu akan berujung pada kegagalan.
Efek Psikologis dari Leverage Tinggi
Trading dengan leverage pada dasarnya adalah menggunakan dana pinjaman untuk trading di pasar forex, di mana dana pinjaman tersebut dihitung berdasarkan proporsi tertentu dari margin yang disetorkan. Misalnya, dengan leverage 1:1000, trader menggunakan $100 (sekitar Rp1,6 juta) sebagai margin, maka ia bisa melakukan transaksi senilai $100.000 (sekitar Rp1,6 miliar). Lalu dari mana datangnya $99.900 (sekitar Rp1,6 miliar) sisanya? Jawabannya adalah dari broker.
Namun, banyak orang yang diingatkan untuk berhati-hati dalam menggunakan leverage. Leverage membuat kita lupa berapa jumlah dana riil yang kita miliki, dan juga membuat kita tidak bisa merasakan secara nyata perubahan pada bagian dana milik kita sendiri. Hal ini juga akan memengaruhi psikologi kita. Dalam profit besar, mungkin kamu hanya mendapat sedikit, tapi dalam rugi kecil, kamu justru kehilangan banyak dana. Oleh karena itu, semakin tinggi leverage, semakin besar risikonya. Bahkan perusahaan yang menyediakan leverage untuk mendorong trading pun harus menanggung risiko likuiditas yang ditimbulkannya. Kamu akan menyadari bahwa banyak regulator pasar keuangan menetapkan batas maksimum leverage yang boleh ditawarkan oleh broker forex lokal. Seperti di Jepang, leverage maksimum yang boleh ditawarkan hanya 1:25.
Meskipun demikian, masih banyak broker forex luar negeri, atau broker yang tidak teregulasi, yang mungkin menawarkan leverage sangat tinggi, bahkan mencapai 1:1000 yang mengejutkan. Saat itulah trader harus sangat berhati-hati dan menilai secara objektif seberapa besar leverage yang bisa ia tanggung, tidak boleh kehilangan penilaian yang benar karena tergoda oleh tawaran yang ada di depan mata.
Persyaratan Margin yang Tidak Tetap
Persyaratan margin adalah dana jaminan yang disetorkan sesuai proporsi sebelum menggunakan leverage. Persyaratan margin 5% berarti leverage maksimum 1:20, sedangkan persyaratan margin 0,5% berarti leverage maksimum 1:200.
Biasanya trader bisa memilih tingkat margin yang lebih rendah dari yang ditetapkan broker. Namun, ketika kondisi pasar berubah, broker juga bisa menaikkan atau menurunkan persyaratan margin. Perlu diketahui bahwa persyaratan margin bergantung pada likuiditas yang tersedia di pasar, jadi ketika likuiditas menurun, persyaratan margin juga akan meningkat.
Selain perubahan kondisi pasar, ada juga broker forex yang mengumumkan langsung menerapkan leverage mengambang, yaitu leverage yang berbeda digunakan pada waktu yang berbeda dalam hari trading. Saat itulah trader forex harus sangat berhati-hati. Bahkan ketika dana di akunmu tidak mencukupi, persyaratan margin akan terus berubah, dan ini bisa memengaruhi posisi tradingmu.
Margin Call yang Mudah Membingungkan
Hal yang biasanya membingungkan trader pemula adalah apa perbedaan antara jual beli valuta asing melalui money changer atau bank dengan trading forex.
Ketika kamu membeli valuta asing di bank pada harga tertentu dan berniat menjualnya di kemudian hari pada harga yang lebih tinggi, kamu bisa menahan valuta asing tersebut tanpa batas waktu, dan tidak terpengaruh oleh perubahan nilai tukar. Namun, ketika kamu trading forex dengan leverage, posisi bisa tiba-tiba ditutup paksa atau dihentikan oleh broker, karena harga pasar sudah jauh di bawah ekspektasi sehingga kerugian akun terlalu besar dan saldo tidak cukup untuk memenuhi persyaratan margin. Inilah yang disebut "margin call".
Margin call bisa menjadi temanmu, bisa juga menjadi musuhmu, tergantung bagaimana kamu memandangnya. Ini adalah penyebab utama kerugian banyak trader pemula, tetapi sekaligus secara efektif mencegah risiko kena likuidasi total saat kondisi pasar berubah secara tak terduga. Biasanya, tingkat margin call yang ditetapkan broker forex adalah 20%, yaitu ketika 80% dana telah terpakai, posisimu akan segera ditutup. Agar margin call menjadi teman, bukan musuh, trader perlu memahami satu hal: margin akun sebenarnya adalah dana riil di akunmu. Ini terbagi menjadi "margin terpakai" dan "margin tersedia".
"Margin terpakai" adalah dana yang dikunci oleh broker setelah posisi dibuka. Saat trading, kamu tidak bisa menggunakan dana ini. Hanya ketika kamu menutup posisi, dana ini akan dilepas kembali. "Margin tersedia" adalah sisa dana di akun setelah posisi dibuka, yaitu jumlah setelah broker mengurangi margin terpakai. Margin tersedia akan berubah sesuai fluktuasi harga pasar. Sisa margin tersedia di akun inilah yang menjadi kunci penentu apakah kamu akan terkena margin call atau tidak.
Seperti disebutkan di atas, biasanya margin call terjadi ketika dana tersisa 20%. Namun, ada juga broker forex yang menetapkan standar lebih tinggi, atau bahkan tidak memberikan batasan sama sekali, sehingga kamu sepenuhnya mengendalikan trading di akunmu.
Penutup
Trading forex menuntut trader untuk mengelola dananya sendiri dan memanfaatkan dana tersebut sebaik mungkin untuk menghasilkan profit. Oleh karena itu, trader harus menguasai penggunaan leverage dan margin, serta memahami aturan broker terhadap akun trading.