Psikologi trading yang salah adalah salah satu penyebab utama kegagalan orang dalam trading di pasar keuangan. Tidak peduli seberapa bagus sistem trading, jika trader tidak dapat menjalankannya dengan disiplin dan fokus dalam jangka panjang, maka sistem tersebut tidak akan berhasil.Biasanya emosi dan ego yang mendorong trader untuk meninggalkan prinsip manajemen risiko yang baik, overtrading, mengambil risiko yang terlalu besar, dan akhirnya menghancurkan akun mereka sendiri—bahkan ketika mereka pernah mencapai kesuksesan.
Meskipun sebagai manusia kita tidak mungkin sepenuhnya menghilangkan emosi dalam trading, emosi bisa dikelola. Kita bisa merasakan emosi, memahami emosi, dan tetap membuat keputusan trading yang benar. Begitu kita mempelajari teknik manajemen psikologis yang tepat, kita bisa trading lebih seperti seorang manajer bisnis, bukan seorang penjudi.
Berikut adalah salah satu dari tiga pelajaran #psikologi trading yang saya rangkum dari 30 tahun pengalaman di pasar:
Cara mengurangi stres trading
Anggap setiap trade sebagai salah satu dari seratus trade berikutnya.
Jika kamu mengelola posisi secara wajar berdasarkan volatilitas grafik, maka satu trade saja tidak akan terlalu berarti, melainkan hanya sebagian dari hasil seratus trade berikutnya. Jika setiap kali stop loss terpicu kerugiannya hanya 1% dari total modal trading, maka secara matematis itu hanya satu dari seratus trade ke depanmu.
Sumber utama stres trading adalah: ketidakpastian, kurangnya kepercayaan pada strategi trading, ukuran posisi yang terlalu besar, dan mengambil terlalu banyak risiko sekaligus. Jika kamu tahu strategi tradingmu memiliki keunggulan berdasarkan backtest, studi grafik, atau risk-reward ratio, maka memperkecil ukuran posisi adalah jawaban universal untuk mengatasi stres trading.
Berhenti trading sebesar itu.
Prinsip sederhana ini langsung mengubah psikologi trading saya. Ukuran posisimu harus cukup besar agar tetap bermakna, tetapi tidak terlalu besar hingga membuatmu kehilangan kendali.
Berikut saran position sizing saya terhadap total modal trading:
Untuk ETF indeks reguler, ukuran posisi yang disarankan adalah 20%.
Untuk saham blue chip besar, ukuran posisi yang disarankan adalah 10%.
Untuk leveraged ETF dan saham growth small cap, ukuran posisi yang disarankan adalah 5% dari total modal trading.
Untuk kontrak opsi, ukuran posisi yang disarankan adalah 1% dari total modal trading.
Bagaimana melepaskan ego dalam trading?
Fokus pada eksekusi strategi tradingmu, bukan pada pendapat atau prediksimu.
Ego adalah harga diri atau rasa pentingnya diri seseorang. Ini adalah konstruksi psikologis yang ada baik di tingkat sadar maupun bawah sadar. Ego adalah konsep diri yang coba dilindungi seseorang, untuk menghindari penderitaan, kerugian, atau rasa malu. Dalam trading, jika seorang trader meninggalkan sinyal dan rencana tradingnya hanya untuk mempertahankan ego, tidak mau mengakui kesalahan, maka ini berasal dari keras kepala, self-deception, dan akhirnya akan menyebabkan kerugian besar.
Dalam sistem trading apa pun, trader itu sendiri adalah mata rantai terlemah, karena ego bisa mengambil alih rasionalitas, menyebabkan keputusan buruk, semua hanya demi gengsi.
Sebagian besar prediksi di pasar sebenarnya didasarkan pada ego. Banyak trader berharap bisa "berhasil memprediksi top atau bottom" atau "memilih saham bull". Tetapi jalur trading berdasarkan sinyal dan sistem dapat membantumu lepas dari kebutuhan untuk memprediksi—kamu hanya perlu mengukur dan bereaksi. Kamu tidak bisa mengontrol apa yang terjadi di grafik setelah membuka posisi, satu-satunya yang bisa kamu kontrol adalah perilakumu sendiri. Trade yang baik adalah trade yang kamu eksekusi berdasarkan kriteria entry dan exit, mencapai risk-reward ratio yang baik, bukan apakah kamu untung—itu ditentukan oleh pasar.
Keras kepala adalah emosi yang berasal dari ego, karena ego tidak mau terbukti salah. Ini sering menyebabkan trader membiarkan trade yang rugi terus membesar. Ego sulit menerima stop loss, karena ia benci mengakui kesalahan. Kamu harus mengubah "benar dan salah" menjadi "trade baik dan trade buruk", dan menggunakan disiplin jangka panjang sebagai tolok ukur, bukan hasil jangka pendek.
Ego membuat trader berpegang teguh pada pandangan bullish atau bearish, dan membiarkan pandangan menggantikan price action dalam pengambilan keputusan.
Namun, trading mengikuti tren harga yang sebenarnya memiliki probabilitas keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan memprediksi masa depan berdasarkan opini subjektif.
Jangan biarkan trading menguasai seluruh hidupmu.
Pasar seharusnya hanya menjadi sebagian dari hidupmu. Kehidupan yang beragam, termasuk teman, keluarga, hobi, pembelajaran berkelanjutan, dan menjaga kesehatan, membantumu tetap waras dan memiliki perspektif yang benar saat menghadapi kerugian atau drawdown.
Laporan profit dan loss tidak bisa mendefinisikan nilai dirimu.
Profitabilitasmu lebih mencerminkan apakah kondisi pasar saat ini cocok dengan metode tradingmu, bukan apakah kamu trader yang hebat. Nilai dirimu harus dibangun atas dasar apakah kamu menjalankan sistem trading dengan disiplin, konsistensi, dan manajemen risiko yang baik.
Pandangan dan prediksi yang lepas dari keunggulan trading adalah ilusi yang dihasilkan ego.
Mengadopsi strategi trading yang memiliki dasar kuantitatif, berdasarkan parameter sistem, dan memiliki keunggulan adalah ciri trader yang profit. Trading harus menjadi cara menghasilkan uang, bukan alat validasi ego. Jika kamu perlu mencari pengakuan, bangunlah itu atas kemampuanmu mengeksekusi strategi secara efisien, bukan atas hasilnya.
Bagaimana mengelola satu trade
Jalankan trading plan yang sudah disusun sebelumnya, bukan memutuskan apa yang harus dilakukan setelah masuk posisi.
Kamu tidak boleh berpikir tentang langkah selanjutnya setelah masuk trade, melainkan harus sudah menyusun trading plan lengkap sebelum entry. Sebuah trading plan harus menjelaskan bagaimana kamu akan mengelola satu trade dalam kerangka sistem tradingmu, termasuk kapan entry, kapan exit, berdasarkan sinyal apa.
Tujuan trading plan adalah mewujudkan sistem tradingmu menjadi operasi nyata di pasar melalui entry, exit, dan kontrol posisi. Ini menetapkan parameter spesifik tentang bagaimana mengeksekusi strategi dengan uang nyata berdasarkan sinyal yang telah ditentukan. Trading plan yang layak disusun saat pasar tutup, untuk dieksekusi saat pasar buka.
Struktur trading plan harus: meminimalkan kerugian saat salah, memaksimalkan profit saat benar. Ini harus mewujudkan sinyal tradingmu, sehingga kamu dapat bertindak cepat dan tanpa ragu saat eksekusi.
Stop loss dan kontrol posisi yang wajar dapat meminimalkan kerugian, target take profit dan mekanisme trailing stop dapat membantumu memaksimalkan profit. Jangan pernah trading terlalu agresif hingga emosi atau egomu menjadi terlalu kuat, sehingga tidak bisa menjalankan trading plan.
Trading planmu harus dibangun di atas dasar sistem trading, dan menggabungkan watchlist, timeframe trading, toleransi risiko, serta target keuntunganmu, mengubah strategi menjadi jalur operasi yang dapat dieksekusi.
Trading plan dapat menarik proses pengambilan keputusanmu keluar dari "ego", menghindari kesalahan karena emosi saat trade berfluktuasi besar. Ketika rasa takut, keserakahan, atau kesombongan mencoba mengendalikanmu, trading plan adalah "panduan keputusan" yang harus kamu andalkan. Bahkan trader independen pun memiliki "bos"—yaitu trading plan mereka.